Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Siuman


__ADS_3

Keesokan pagi, kedua orang tua Rainer sudah datang ke rumah sakit. Jarum jam bahkan masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Nayra yang baru saja mengembalikan perlengkapan sholat yang dipinjamnya dari seorang perawat, cukup terkejut melihat kedatangan kedua mertuanya tersebut.


"Ma, Pa, kok sudah datang?" tanya Naura sambil berjalan memasuki kamar perawatan Rainer.


"Iya, Sayang. Mama nggak tenang di rumah. Ini, mama bawakan baju ganti buat kamu sekalian sarapan juga. Kamu harus makan yang banyak biar tidak ikut-ikutan ngedrop," jawab mama Rainer.


"Iya, Ma. Terima kasih."


Nayra menerima tas yang cukup besar berisi baju ganti dan perlengkapan yang lainnya. Nayra menoleh ke arah Rainer yang masih belum ada tanda-tanda bangun. Dia hanya bisa mendesahkan napas berat.


Papa Rainer yang melihat ekspresi Nayra, berusaha menenangkan menantunya tersebut.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Nay. Tadi kata suster, tidak akan lama lagi Rain sudah siuman. Sebaiknya, kamu mandi dan bersih-bersih dulu. Jangan sampai nanti begitu Rainer sadar, kamu masih kucel seperti itu," ucap papa Rainer.


"Papa kamu benar, Nay. Sana, kamu mandi dulu. Mama dan papa akan gantian nungguin Rain di sini."


Mau tidak mau, Nayra segera mengangguk. Memang benar apa yang dikatakan oleh mertuanya tersebut. Dia terlihat sangat kucel. Sebenarnya, Nayra juga sudah tidak nyaman dengan tubuh yang terasa lengket tersebut.


Setelah itu, Nayra bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia harus terlihat segar jika nanti Rainer sudah siuman. Dia tidak ingin membuat Rainer khawatir melihat penampilannya yang masih kucel tersebut.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Nayra sudah selesai membersihkan diri. Tak lupa juga Nayra sedikit memakai lipstik agar tidak terlalu pucat. Nayra memakai blus biru sederhana sepanjang lutut dan berlengan pendek. Rupanya, pilihan mama Rainer tersebut tidak salah. Nayra terlihat cantik dan tidak terlihat kucel lagi. 


Kaki Nayra seakan membeku dengan jantung yang berdegup cukup kencang. Tatapan mata yang sangat dirindukan oleh Nayra tersebut, kini tengah menatapnya dengan penuh kerinduan. Hal yang sama pun dirasakan oleh Nayra. Namun, entah mengapa Nayra merasa ragu untuk mendekat.

__ADS_1


Nayra merasa malu sekaligus takut untuk mendekati suaminya setelah apa yang dilakukannya kemarin. Dia benar-benar tidak berani mendekat.


Rainer yang kini sudah berganti posisi dengan sedikit bersandar, masih menatap ke arah Nayra. Jelas sekali kerutan di kening Rainer saat menatap lekat-lekat istrinya tersebut.


"Sayang, kenapa masih berdiri di sana? Kamu tidak ingin memeluk Rain? Bukankah sejak kemarin sore kamu yang menangis paling heboh saat mengetahui jika Rain kecelakaan? Bahkan, aku yakin semalam kamu pasti tidak tidur karena mengkhawatirkan Rainer, kan?" ucap mama Rainer.


Deg.


Malu bercampur bingung itulah yang dirasakan oleh Nayra. Dia merasa malu kepada Rainer, sekaligus bingung harus melakukan apa. Dia takut jika Rainer marah kepadanya karena kemarin dia sempat kabur ke rumah orang tua Rainer.


Nayra masih belum berani bergerak. Dia hanya bisa meremass kedua tangannya sambil menggigiti bibir bagian dalam. Rainer bukan tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh Nayra. Namun, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya tersebut.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, Nayra memberanikan diri berjalan menghampiri brankar Rainer. Ada mama Rainer yang duduk di sebelah brankar Rainer, dan papa Willy berdiri di belakang mama.


Dengan ekspresi takut-takut Nayra berjalan mendekat ke arah Rainer. Kedua netranya pun mulai terasa panas. Nayra bisa merasakan matanya mulai tergenang air mata. Nayra bahkan tidak berani berkedip karena khawatir air matanya akan luruh.


__ADS_2