
Sambil berjalan menuju kamar mandi, Rainer misuh-misuh tidak jelas. Hal itu disebabkan karena rudal kebanggaannya terasa sangat panas. Dengan langkah yang lucu, Rainer buru-buru berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Nayra yang melihat suaminya buru-buru ke kamar mandi, menjadi semakin bersalah. Tanpa memperdulikan penampilannya yang sudah polosan bagian atas, Nayra langsung beranjak dan menyusul Rainer ke kamar mandi.
Nayra buru-buru berjalan menuju kamar mandi. Dia cukup yakin jika Rainer tidak mengunci pintu kamar mandi tersebut. Dan, benar saja. Rainer hanya menutup sedikit pintu tersebut.
Kini, Nayra bisa melihat jika suaminya tersebut tengah memandikan rudal alaminya di bawah kucuran air. Terdengar suara desisan dari bibir Rainer.
"Sshhhh aasshhh," Rainer mendesis saat merasakan bagian inti tubuhnya tersebut masih terasa panas meskipun sudah dikucuri air.
Dengan langkah pelan, Nayra berjalan menghampiri Rainer yang saat itu tengah berdiri membelakanginya.
Grep.
Nayra langsung memeluk tubuh Rainer dari belakang. Kepalanya disandarkan pada punggung Rainer.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar lupa tadi," ucap Nayra sambil mengeratkan pelukannya.
"Eh?" Rainer cukup terkejut saat Nayra tiba-tiba memeluknya dari belakang. Bahkan, rasa panas di bagian bawah tubuhnya tersebut, hampir dilupakannya saat Rainer merasakan benda kenyal nan padat menempel erat pada punggungnya.
"Maaf, Mas. Aku nggak tahu jika kamu bisa kepanasan seperti ini. Mau aku bantu?" ucap Nayra sambil masih memeluk tubuh suaminya tersebut.
__ADS_1
"Iya. Ini juga sudah mulai dingin, kok." Rainer mengusap-usap punggung tangan Nayra.
Hening.
Rainer masih mengusap-usap rudalnya dan mencucinya dengan sabun beberapa kali agar rasa panas yang dirasakannya segera hilang. Nayra yang melihat hal itu, hanya bisa mendesahkan napas berat. Dia benar-benar merasa bersalah.
Nayra masih belum menyadari jika tubuhnya sudah polosan bagian atasnya. Dia langsung melepaskan pelukannya dan meraih sikat gigi serta pasta gigi. Nayra berniat untuk menggosok gigi di depan wastafel.
Namun, saat melihat pantulan cermin di depannya, Nayra sontak memekik kaget. Dia benar-benar malu saat melihat tubuhnya sendiri sudah polosan.
"Astaga! Kenapa aku nggak sadar sudah polos begini?" ucap Nayra sedikit terpekik kaget.
"Mas! Apaan, sih? Basah semua tubuhku?" Nayra langsung protes.
"Biarin. Sekalian mandi lagi," jawab Rainer dengan santainya.
Nayra mengerucutkan bibir dengan kesal. Setelah itu, dia melanjutkan aktivitasnya menggosok gigi. Hingga tak berapa lama kemudian, Nayra sudah selesai. Lagi-lagi saat Nayra hendak mengambil handuk, dia terkejut karena melihat Rainer sudah polosan di sampingnya. Nayra menoleh ke arah suaminya tersebut dengan tatapan horor.
"Ma-mau apa?" tanya Nayra was was saat melihat Rainer sudah mendekat ke arahnya.
"Mau kamu. Dari siang aku sudah menahannya. Sekarang, aku harus puas-puasin membayar semuanya," ucap Rainer sambil menarik tubuh Nayra ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Eh, se-sekarang? Ba-bagaimana dengan 'itumu', Mas? Sudah nggak panas lagi?" tanya Nayra masih dengan ekspresi bersalah.
"Sudah enggak. Sudah nggak terasa panas. Bantu aku mendinginkannya dengan berendam."
"Eh, berendam? Jam segini?" tanya Nayra bingung.
"Hhmmm."
Belum sempat Nayra menyahuti ucapan Rainer, tiba-tiba roknya sudah ditarik oleh Rainer. Ya, Nayra memang memakai rok selutut dengan beberapa aksen lipat sehingga membuatnya terlihat lebar.
"Eh, Mas!" Nayra langsung memekik kaget.
Belum cukup keterkejutan Nayra, Rainer langsung menaikkan Nayra ke dekat wastafel. Jangan lupakan tatapan mata Rainer yang sudah mulai menggelap karena terlalu menahan keinginannya.
"Ma-mas, mau apa?" tanya Nayra gugup.
Bukannya menjawab, Rainer menggeser kedua kaki Nayra agar terbuka dengan lebar. Hal yang tak pernah dipikirkan oleh Nayra pun terjadi. Seketika Nayra langsung memekik nikmat.
"Aaahhhhh, Maaasshhhh."
🙄
__ADS_1