
Meskipun Nayra hendak protes, namun usahanya langsung gagal saat tiba-tiba Rainer membungkam bibirnya dengan sebuah bibir Rainer.
Awalnya, kecupan tersebut masih biasa saja. Namun, lama kelamaan langsung menuntut dan semakin menuntut.
Eehhmmmm. Eehhmmpphhhh.
Refleks, kedua tangan Nayra yang tadi menarik-narik jubah tidurnya, langsung terlepas begitu saja. Kini, kedua tangan Nayra tersebut langsung mengalung dengan sempurna pada leher Rainer. Jari-jari tangan Nayra langsung menelusup pada bagian belakang rambut Rainer dan meeremasnya dengan gemas.
Entah apa yang saat ini Nayra pikirkan. Yang jelas, dia merasakan tubuhnya seakan-akan berada di awang-awang. Nayra bahkan tidak menyadari jika saat ini posisi tubuh Rainer sudah menindihnya. Rainer sudah membungkuk di atas tubuh Nayra dengan kaki berada di antara kedua kakinya.
Hhmmmmm. Eehhmmmmppphhh.
Suara perpaduan benda kenyal tersebut langsung menggema. Mereka seolah enggan melepaskan dan akan membalas dendam karena beberapa hari setelah menikah, mereka belum sempat ngapa-ngapain. 🙄
Tak tinggal diam, kini tangan Rainer sudah menyusuri pinggang Nayra. Di rremasnya dengan gemas pinggang istrinya tersebut, hingga membuat Nayra melenguh sambil membusungkan dada.
__ADS_1
Lagi, seolah tidak mau membiarkan apa yang ada di depannya, Rainer langsung menurunkan wajahnya dan mulai melahap apa yang ada di depannya tersebut.
Hap.
Eehhmmmmm. Nyeemmpppphhhh. Nyeemmppphhh.
Sontak saja tindakan tiba-tiba Rainer, membuat Nayra tersentak kaget.
"Aauughhhh, Maassshhh. Di gi-giiitthhh, aaahhhhhh. Yang keras, Maassshh." Nayra sudah meliuk-liukkan tubuhnya dengan gelisah. Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, dengan tangan meeremas-rremas seprei dan rambut Rainer dengan gelisah.
Rainer mencicipi bakpao jumbo tersebut bergantian. Dia tidak ingin melewatkannya meski hanya sedikit saja. Rainer benar-benar sudah merasa candu dengan mainan baru yang ternyata, begitu membuatnya kecanduan tersebut.
Nayra masih meracau tidak karuan. Dia bergerak-gerak semakin gelisah. Bahkan, kini Nayra secara tidak sadar justru membuka kakinya semakin lebar saat kedua lutut Rainer menahan pahanya.
Dan, Rainer yang melihat hal itu semakin bersemangat. Secepat kilat dia melepaskan handuk yang melilit pada pinggangnya, dan melemparkannya asal di bawah tempat tidur. Tentu saja Nayra masih tidak menyadari hal itu karena dia masih menggerak-gerakkan tubuh gelisah.
__ADS_1
Tak mau menunggu lama, Rainer kembali membungkuk. Kali ini, dia tidak menghampiri bakpao jumbo Nayra lagi, tapi justru mendekatkan wajahnya pada bagian perut Nayra.
Dengan lembut, Rainer memperlakukan Nayra seperti kaca yang rentan pecah. Dia benar-benar ingin membuat Nayra rileks dan tidak takut saat dirinya nanti menyerang benteng pertahanan sang istri.
Semakin lama, semakin ke bawah. Kali ini, Rainer menggunakan beberapa inderanya untuk memberikan sensasi di bagian bawah tubuh Nayra. Tidak hanya itu, Rainer juga mulai bertingkah seperti seorang bidan. Layaknya seorang bidan, Rainer mengukur pembukaan. Pembukaan satu, pembukaan dua, dan entah sampai pembukaan berapa. Nayra benar-benar hanya bisa berteriak tertahan sambil bergerak-gerak gelisah.
Setelah cukup lama bermain bidan-bidanan, Rainer berhasil membuat Nayra meledak untuk yang ke tiga kali. Hal itu membuat tubuh Nayra bergetar hebat dengan mulut terbuka. Kedua tangannya mencengkeram lengan dan sprei Rainer dengan erat saat ledakan itu datang.
Melihat hal itu, Rainer merasa sangat bahagia. Dia menarik jari tangannya yang sudah basah kuyup tersebut. Rainer memberi waktu bagi Nayra untuk mengatur napasnya.
"Kali ini, aku tidak akan main bidan-bidanan. Aku mau jadi dokter yang langsung melakukan operasi. Jarum suntiknya sudah siap, nih," ucap Rainer sambil menggesek-gesekkan 'jarum suntik' alaminya pada kacang kapri Nayra.
"Ouugghhhh, ja-jangan salah tusuk. Yang depan, Maasshhh."
"Lah,"
__ADS_1
Mohon maaf, dua hari kemarin dan hari ini masih ada reuni keluarga. Jadi, baru bisa up. Seadanya dulu ya. 🙏