
Suara tangisan Finn membangunkan dua orang yang sedang terlelap di kanan kiri bayi laki-laki tersebut. Citra yang lebih dulu bangun dan mencoba menenangkan Finn dengan menyusuinya. Dan, benar saja. Bayi laki-laki tersebut langsung lahap mengenyot sumber makanan alaminya.
Felix yang sudah bangun pun langsung menggeliat. Semalam, lagi-lagi Felix dan Citra terpaksa tidur di kamar Felix karena Finn tidak mau ditinggal oleh papanya. Karena sangat mengantuk, Felix pun akhirnya tertidur di samping Finn.
"Aku keluar dulu," ucap Felix setelah meregangkan tubuhnya. Dia memutuskan untuk pindah tidur.
Citra hanya menjawab dengan gumaman sebelum fokus kembali kepada sang putra. Hingga tak berapa lama kemudian, Finn kembali terlelap. Jarum jam yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari, dimanfaatkan oleh Citra untuk tidur kembali. Masih ada waktu sebentar lagi untuk menambah waktu istirahat.
Pagi itu, Citra sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Sementara Felix sedang menggendong Finn di balkon. Kedua laki-laki beda generasi tersebut masih belum ada yang mandi.
Hari ini senin. Felix sebenarnya sudah harus bersiap untuk berangkat ke kantor. Apalagi, nanti akan ada meeting dengan rekan dari Thailand. Felix seharusnya sudah berangkat tiga puluh menit lagi.
Namun, jangankan berangkat ke kantor, Felix saja masih belum mandi dan bersiap-siap. Finn lagi-lagi merengek dan minta gendong Felix. Alhasil, Felix kini mengajak putranya ke luar untuk menenangkan Finn. Syukur-syukur jika putranya itu tidur lagi.
__ADS_1
Dan, benar saja. Beruntung bagi Felix bisa menidurkan Finn saat berada dalam gendongannya. Felix bergerak ke depan dan ke belakang untuk membuat Finn lebih lelap tidurnya. Citra yang hendak memanggil Felix pun mengurungkan niatnya saat melihat Finn tengah tertidur.
"Sarapannya sudah siap," bisik Citra dengan suara lirih.
Felix menoleh ke samping dan mendapati Citra tengah membawa handuk untuk memandikan Finn.
"Tolong masukkan ke dalam wadah bekal saja. Aku sarapan di kantor. Ada jadwal meeting pagi ini. Biar Finn aku tidurkan dulu," jawab Felix sambil berjalan pelan-pelan menuju kamar Citra. Ya, dia memutuskan untuk menidurkan Finn di kamar Citra agar tidak terganggu dengan aktivitasnya ketika bersiap-siap.
Beruntung Felix berhasil menidurkan Finn dengan baik. Setelahnya, Felix langsung ngacir ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Citra juga segera menyiapkan bekal untuk Felix sarapan. Bukan sarapan mewah. Citra hanya membuat ayam rica-rica dan oseng-oseng brokoli yang dicampur dengan potongan bakso.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Felix sudah siap berangkat ke kantor. Dia keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, namun tidak dengan dasinya. Felix masih menenteng jas dan sebuah dasi di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya membawa tas laptop.
Felix berjalan menghampiri Citra yang sedang memasukkan bekal Felix ke dalam tas bekal di ruang makan. Citra pun menoleh ke arah Felix yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Kening Citra berkerut saat melihat Felix menyodorkan dasinya ke arah Citra.
__ADS_1
"Ada apa, Om?" tanya Citra.
"Pakaikan, dong." Felix menjawab dengan santai.
"Cckkk. Biasanya juga pakai sendiri. Kenapa sekarang minta tolong dipakaikan," Citra menggerutu kesal. Namun, tangannya tetap terulur untuk mengambil dasi dari tangan Felix.
"Ya, belajar simulasi. Nanti, jika kota sudah menikah, aktivitas seperti ini harus kamu lakukan setiap hari sebelum aku berangkat ke kantor," ucap Felix dengan ekspresi tengilnya.
Citra mendengus kesal sambil memasangkan dasi pada leher Felix.
"Emang siapa yang setuju menikah sama Om. Nggak usah kepedean, deh. Lagian, ini ngapain pakai simulasi segala, sih. Jangan bilang nanti juga ada simulasi kecup-kecup kening."
Belum sempat Citra menurunkan tangannya dari leher Felix, tiba-tiba Felix menundukkan kepala.
__ADS_1
Cup cup cup.
Waahh, menang banyak nih si bapak. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗