Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Aku Mau


__ADS_3

Citra masih diam membeku saat Felix menatapnya dengan tatapan tajam. Bahkan, Citra tidak menyadari jika Felix sudah beringsut mendekat ke arahnya.


"Tentu saja menikah. Bukankah tadi kamu bilang kepada temanmu itu jika aku ini adalah suamimu? Jadi, kenapa tidak kita wujudkan saja hal itu," ucap Felix sambil mengerling ke arah Citra.


Mendapati kerlingan dari Felix, sontak saja wajah Citra langsung terasa panas. Apalagi, jarak wajah Felix dan Citra benar-benar sangat dekat. Citra bahkan bisa merasakan hembusan napas Felix yang menerpa pipinya itu. Citra beberapa kali harus mengerjapkan kedua matanya karena saking dekatnya dengan tubuh Felix.


"Ehm, i-itu…," Citra mendadak gugup.


"Itu apa? Kamu masih nggak yakin menikah denganku? Masih kurang bukti atas semua yang kulakukan?" 


Refleks Citra menggelengkan kepala. Dia sendiri masih bingung mengapa sampai menggeleng seperti itu. Entah apa yang ada di otaknya saat itu.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kamu masih ragu untuk menikah denganku?" tanya Felix masih dengan tatapan tajamnya. Dan, kali ini Felix justru menggeser tubuh Citra hingga berhasil menempel pada dinding kamar.


Tentu saja hal itu membuat Citra gelagapan karena kaget. Dia berusaha memberontak tapi tiba-tiba kedua tangannya ditahan oleh Felix agar tetap berada di kedua sisi tubuhnya. Citra yang masih kaget hanya bisa menahan napas saat Felix mendekatkan ujung hidungnya dan menggesekkannya pada ujung hidung Citra.


"Tolong jangan terlalu lama menguji kesabaranku. Aku tidak sekuat itu menahan diri untuk tidak menyerangmu, Cit," ucap Felix dengan suara tertahan.


Citra masih mematung tidak bergerak. Dadanya berdebar sangat kencang saat Felix menjauhkan wajahnya sedikit, namun justru mendekatkan bibirnya setelahnya. Dan, tanpa aba-aba Felix menyerang bibir Citra.


Mendapati reaksi Citra, Felix langsung kegirangan dalam hati. Kedua pasang mata tersebut langsung terpejam sambil menikmati pertemuan benda kenyal tersebut. Bahkan, Citra seperti tidak canggung saat menekan bagian belakang kepala Felix agar melakukan lebih dari apa yang sudah dilakukannya.


Hingga sekitar beberapa menit kemudian, pertemuan benda kenyal tersebut terhenti dengan napas keduanya yang terdengar masih memburu. Felix menempelkan keningnya pada kening Citra. Kedua netra mereka terbuka dan saling tatap. Dari tatapan keduanya, bisa menjelaskan apa yang sebenarnya tengah mereka rasakan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Cit. Menikahlah denganku," ucap Felix meskipun dengan lirih, namun ada ketegasan di suaranya.


Citra yang sudah sangat sering mendengar ucapan Felix tersebut, refleks menganggukkan kepala.


"Iya, Om. Aku mau." Citra menjawab dengan tak kalah lirihnya. Entah mengapa wajah Citra tiba-tiba saja terasa panas. Dan, bisa dipastikan wajah Citra itu langsung memerah.


Felix yang mendengar jawaban Citra yang berbeda dari biasanya, sontak menjauhkan wajah dengan ekspresi kaget dan tidak percaya. Biasanya, Citra hanya menjawab dengan 'nggak mau', 'apaan sih, Om', 'jangan suka aneh-aneh, deh', dan masih banyak lagi. Baru kali ini jawaban Citra benar-benar berbeda. Dan, tentu saja jawaban itu yang ditunggu-tunggu oleh Felix.


"Ka-kamu serius, Cit?" Felix masih tidak percaya.


Dengan malu-malu dan wajah yang memerah, Citra menganggukkan kepala. Bahkan, Citra hanya bisa menunduk karena malu bertatapan dengan Felix.

__ADS_1


"Kyaaaaa! Akhirnya gue kawiinnnn!" teriak Felix dengan kencang.


__ADS_2