Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Jawaban Nayra


__ADS_3

"Maksa banget sih, Pak. Emang sengebet itu ya mau menikah dengan saya?" Nayra menatap ke arah Rainer dengan bibir mengerucut.


"Cckkk. Tinggal jawab saja apa susahnya, sih?" Rainer benar-benar sudah tidak sabar mendengar jawaban Nayra.


"Ini kan hal besar berkaitan dengan masa depan, Pak. Jadi harus dipikir-pikir dulu dengan baik-baik. Jangan seenaknya saja." Nayra tidak mau kalah.


"Memang apa lagi yang harus dipikirkan? Kamu tidak akan menyesal jika menikah denganku. Aku kurang apa coba? Sudah ganteng, kaya, digilai banyak perempuan. Harusnya kamu bersyukur bisa menikah denganku." Rainer mulai kepedean.


"Haiisshh. Jika Pak Rain merasa seperti itu, kenapa tidak cari perempuan lain saja sana. Bukannya Bapak orang kaya, cakep, dan digilai banyak perempuan? Jadi, tidak perlu repot-repot menikah dengan saya." Nayra langsung menatap tajam ke arah Rainer.


"Cckkk. Sudah kubilang aku hanya mau menikah dengan kamu. Tidak dengan yang lainnya." Rainer hampir frustasi. Entah mengapa kali ini dia merasa berat meyakinkan Nayra.


"Pemaksa. Selalu saja seperti itu. Pak Rain kira menikah itu gampang? Menikah itu butuh komitmen. Selain itu, juga butuh kenyamanan dan rasa cinta, Pak."

__ADS_1


"Kamu tidak nyaman berada di dekatku?" tanya Rainer sambil menatap dalam-dalam ke arah Nayra.


"Nyaman." Jawab Nayra sambil menganggukkan kepala. Entah mengapa Nayra langsung menjawab pertanyaan Rainer dengan cepat. Bahkan, seolah alam bawah sadarnya yang menjawab pertanyaan itu.


Begitu menyadari jawaban yang keluar dari bibirnya, Nayra buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar tidak menyangka jika akan menjawab secepat itu.


Rainer sedikit menyunggingkan senyuman. Melihat hal itu, entah mengapa tiba-tiba jantung Nayra berdegup sangat kencang. Tidak biasanya Rainer akan tersenyum seperti itu.


Entah dia dapat istilah itu dari mana. Kemungkinan besar, istilah itu di dapat dari sahabat sekaligus asistennya. Siapa lagi jika bukan Felix.


Nayra langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Rainer akan mengatakan hal seperti itu.


"Cckkk. Apa maksudnya itu tadi? Mana ada istilah seperti itu, Pak. Yang benar juga 'witing tresno jalaran soko kulino'. Mana ada 'witing tresno jalaran soko turu bareng'?" Nayra langsung mendengus kesal.

__ADS_1


"Entahlah. Aku nggak tahu istilah yang benar yang seperti apa. Yang mau aku tahu, apa kamu menerima tawaranku untuk menikah?" Kali ini Rainer menatap wajah Nayra dengan ekspresi serius. Tidak ada raut wajah bercanda atau main-main.


Sebenarnya, Nayra cukup yakin jika Rainer serius dan akan bertanggung jawab dengan apa yang diucapkannya. Rainer bukan termasuk laki-laki yang suka lepas tanggung jawab. Hanya saja, dia termasuk laki-laki yang pemaksa.


Selain itu, Nayra juga sudah cukup mengenal orang tua Rainer. Mereka cukup baik terhadapnya. Bahkan, Nayra sudah merasa dianggap seperti seorang anak. Lalu, apakah Nayra akan melewatkan kesempatan memiliki keluarga seperti mereka?


Dan, jawabannya adalah tidak. Meskipun belum ada perasaan cinta diantara dirinya dan Rainer, Nayra yakin jika suatu saat perasaan itu pasti akan ada. Oleh karena itu, sambil mengucap bismillah dalam hati, Nayra menerima tawaran Rainer.


"Baiklah. Saya menerima tawaran untuk menikah dengan Anda."


Brukk.


Suara apa itu?

__ADS_1


__ADS_2