Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Agak Cepat


__ADS_3

"Aaaaauugghhhh, Maasss! Ra-rasanya, eeuughhhh." Nayra langsung melengkungkan tubuhnya ke depan. Kedua matanya langsung memejam dengan rapat dan bibir tergigit erat.


Rainer masih mendiamkan jarum suntik jumbonya di dalam sana. Mentok dan terasa sangat sesak. Dia menekan pinggangnya sendiri, dan menahan pinggang Nayra agar tidak bergerak-gerak.


"Ma-maasss, periihhh. Sakittthh, eeuugghhhh." Nayra masih meringis.


"Tahan dulu. Biarkan dia beradaptasi dengan rumahnya. Jika sudah tidak sakit, aku akan bergerak," ucap Rainer.


"Uughhh, sesak, Mas. Mentok ini, uugghhh. Ta-tarik pelan-pelan dulu, Mas." Nayra memicingkan tatapan matanya ke arah Rainer.


"Kamu yakin?"


"I-iya. Pelan-pelan dulu." Nayra menjawab sambil mulai bergerak-gerak gelisah. 


"Baiklah. Aku akan mulai pelan-pelan dulu."


Rainer mulai menarik jarum suntiknya pelan-pelan. Dan, hal itu membuat sesuatu milik Nayra ikut tertarik keluar.


"Aaahh, Maass. Aduuhhh duuhh duuhh." Lagi-lagi Nayra kembali berisik.

__ADS_1


"Tahan dulu sebentar."


Rainer bergerak semakin keluar. Namun, saat si helm sudah mencapai pintu, Rainer tidak melepaskannya. Dia justru menekan kembali jarum suntik tersebut hingga benar-benar terbenam sempurna ke dalam sana.


"Maaasshh, te-terlalu dalam! Aduuhh, mentok. I-ini bisa jebol nanti. Aauughh." Nayra masih meracau tidak karuan. Tubuhnya bergerak-gerak gelisah dengan wajah mendadak pucat.


"Tenang, tahan sakitnya dulu sebentar. Nanti akan terasa enak." Rainer masih berusaha menenangkan Nayra.


"Euuggghhh. Eehhmmmppp."


Nayra berusaha menikmati apa yang baru pertama kali dirasakannya itu. Dia benar-benar harus bisa menahan sesuatu yang bersarang di bagian bawah tubuhnya. Tidak hanya besar, tapi juga cukup panjang hingga mendesak jauh di dalam sana. Rasanya, bagian bawah tubuh Nayra benar-benar sesak. Entah apa yang dilakukan oleh Rainer, hingga membuat Nayra benar-benar merasa, ah sudahlah.


"Kamu yakin?" Rainer memastikan keinginan Nayra. Dia tidak mau jika Nayra masih merasakan sakit. Rainer sendiri, benar-benar merasa sempit di bawah sana.


"Iyaahhh. Ge-gerakin yang cepet. Mentokin, Maasss."  Nayra memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibirnya dengan kuat.


Mendengar ucapan Nayra, Rainer merasa dirinya terpacu. Dia menggerakkan pinggulnya maju mundur cantik. Kedua tangan Rainer pun menyangga tubuhnya di samping tubuh Nayra.


Awalnya, Rainer bergerak pelan-pelan sambil mengamati ekspresi wajah Nayra. Rainer tidak ingin jika Nayra merasa kesakitan. Dalam hati, Rainer sempat berhitung. Satu, dua, tiga, empat, hingga hitungannya mencapai dua puluh tiga.

__ADS_1


Namun ternyata, Nayra yang tidak sabar dengan tindakan Rainer. Dia membuka kedua bola matanya dan menatap wajah Rainer lekat-lekat.


"Aaahhh, Maass. I-ini kenapa lempeng begini. Ya-yang cepet. Mentokin," ucap Naura dengan suara sedikit merengek sambil mendeesah manja.


Dan, efek suara yang diciptakan oleh Nayra tersebut, lagi-lagi membuat Rainer seperti tersengat aliran listrik. Sontak saja Rainer langsung membungkuk dan meelumat bibir Nayra hingga membuat si empunya kelojotan karena kaget.


Tak hanya itu, Rainer langsung beraksi di bawah sana. Menuruti ucapan Nayra, kini Rainer bergerak semakin cepat. Bahkan, Nayra merasa semakin sesak dan ngilu karena ada sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat dan mentok di bagian bawah tubuhnya.


Merasa tidak mampu lagi menahan sesuatu yang terasa mendesak ingin keluar, Nayra merengkuh tubuh Rainer dan melingkarkan kedua kakinya di bawah sana.


"A-aku mau pippiss, Masssh." Nayra memeluk tubuh Rainer semakin erat.


"Hah hah hah, keluarkan saja. Biar tambah licin." Rainer menjawab ucapan Nayra tanpa mengurangi gerakannya. Bahkan, Rainer bergerak semakin cepat agar Nayra bisa segera meledakkan sesuatu dibawah sana.


"Aaaahhhh."


Maafkeun upnya lama 🙏


Scroll ya

__ADS_1


__ADS_2