Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mulai Beradaptasi


__ADS_3

Rainer berjalan semakin dekat ke arah Nayra dengan tatapan mata tajamnya. Dan, tentu saja hal itu membuat Nayra ketakutan. 


Di usianya yang sudah memasuki dua puluh lima tahun, tentu saja bisa langsung mengerti apa yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri jika berada di dalam kamar tidur berdua. Hanya saja masalahnya, mereka bukan seperti pasangan suami istri lainnya yang menikah karena rasa suka dan saling cinta. Nayra dan Rainer masih perlu beradaptasi dan memulai pernikahan tersebut banyak belajar. Salah satunya, belajar dengan sentuhan.


"Ma-mau apa?" Lutut Nayra sudah menabrak ujung tempat tidur Rainer.


Saat itu, Rainer sudah semakin dekat. Bahkan, dia sudah berada dua langkah di depan Nayra.


Brukk.


Nayra langsung terduduk pada tepi tempat tidur Rainer. Dia semakin panik saat Rainer berjalan mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke arah Nayra.


"Kenapa gugup? Bukankah kata Mama kita harus mulai beradaptasi?" Kali ini, Rainer semakin berani menggoda Nayra. 


Wajah Rainer semakin dekat. Dia bahkan menelengkan kepalanya ke kiri dan mulai mendekati leher Nayra. 


Baru seperti itu saja, tubuh Nayra langsung menegang hebat. Kedua tangannya bahkan sudah meremaas sprei dengan erat. Nayra bahkan tidak sadar sudah menahan napasnya saat menunggu aksi Rainer.

__ADS_1


Jantung Nayra benar-benar berdegup sangat kencang, saat Rainer semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Nayra. Kini, kedua tangan Rainer sudah mengunci tubuh Nayra di kedua sisinya. Otomatis, tubuh Nayra sedikit condong ke belakang dengan tangan kirinya menopang tubuh agar tidak ambruk ke belakang.


Dan, pertahanan Nayra nyaris runtuh saat ujung hidung Rainer menyusuri bahu Nayra hingga menuju belakang telinganya. Jangan lupakan hembusan napas Rainer yang bisa dengan jelas dirasakan oleh kulit leher Nayra.


Otomatis, darah Nayra langsung berdesir hebat. Otaknya tiba-tiba blank. Bahkan, keinginan untuk mendorong tubuh Rainer pun langsung hilang. Nayra justru memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya dengan erat.


Rainer yang melihat reaksi Nayra, tak mau tinggal diam. Dia justru semakin berani bertindak lebih.


Kali ini, Rainer tidak hanya menggunakan ujung hidungnya untuk menggoda Nyara. Tapi, dia sudah menggunakan bibirnya. Beberapa kecupan Rainer langsung mendarat pada leher putih istrinya tersebut.


Tak hanya itu, Rainer semakin berani. Kali ini, kecupan basah di daratkan Rainer tidak hanya pada satu sisi. Rainer bahkan sudah mulai menjelajah pada sisi lain leher Nayra. 


"Aahhh euughhhh." Suara horor langsung keluar dari bibir Nayra. Dan, saking terkejutnya, Nayra merasa sangat lemas. Dia langsung ambruk di atas tempat tidur Rainer dengan kedua kaki masih menjuntai di atas lantai.


Apa yang dipikirkan Rainer saat itu? Tentu saja Rainer berpikir jika Nayra sedang menggodanya. Dengan posisi menantang seperti itu, laki-laki mana yang tidak akan langsung kalap? 


Hal tersebut juga dirasakan oleh Rainer. Dia justru semakin berani dan langsung meluumat bibir Nayra. 

__ADS_1


Nayra yang saat itu masih terlihat kaget, tentu saja langsung gelagapan mendapati serangan Rainer. Namun, entah mengapa dia ikut terbawa suasana. Bukannya mendorong tubuh Rainer, Nayra justru malah mengalungkan kedua tangannya pada leher Rainer. Bahkan, jari-jari tangan Nayra sudah menyusup pada rambut bagian belakang Rainer.


Eehhmmm, eehhmmmpphhh.


Suara pertemuan benda kenyal tersebut langsung menggema. Napas keduanya bahkan langsung memburu dan seolah tidak ingin terlepas.


Namun, saat keduanya tengah asyik beradu mulut, sebuah suara ponsel menginterupsi aktivitas tersebut. Nayra yang menyadari hal itu, langsung berusaha menjauhkan wajah Rainer. 


Tentu saja hal itu tidak mudah karena Rainer masih terus memaksa dan mendesak. Hingga Nayra mendorong bahu Rainer dengan kuat.


Tatapan mata keduanya seolah menyiratkan ketidakrelaan. Namun, mereka berusaha menahan apapun yang terasa mendesak pada tubuhnya.


Tanpa mengalihkan pandangan pada wajah Nayra, Rainer beranjak berdiri. Dia mengambil ponsel yang berada pada saku celananya. Rainer langsung menyambungkan panggilan tanpa melihat siapa yang menghubunginya malam itu. Tatapan matanya masih tertuju pada wajah Nayra yang tengah mupeng dengan napas ngos-ngosan.


"Hallo."


•••

__ADS_1


Berasa pengen gebukin yang nelpon Rainer, deh.


__ADS_2