Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kegaduhan Pagi


__ADS_3

Keesokan hari, Rainer dan Nayra sudah bersiap ke kantor. Meskipun mereka akan menggelar resepsi pernikahan akhir minggu ini, namun keduanya masih harus tetap bekerja seperti biasa. 


Setelah sarapan, Nayra dan Rainer sudah hendak berangkat ke kantor. Namun, Rainer menarik tangan Nayra dan membawanya ke dalam pelukan. Entah mengapa akhir-akhir ini Rainer merasa seolah Nayra punya magnet yang terus menariknya untuk selalu dekat dan menempel dengannya.


"Eh, a-ada apa, Mas?" tanya Nayra mendadak panik. 


Sebenarnya, bukan Nayra tidak suka dengan tindakan Rainer, namun karena Nayra tahu jika Rainer pasti akan berbuat lebih dari hanya sekedar pelukan. Dan, tentu saja jika hal itu terjadi, bukan hanya Rainer yang akan terbawa suasana. Namun, Nayra pun juga pasti akan terpengaruh.


Mendengar ucapan Nayra, Rainer justru semakin mempererat pelukannya. Tak hanya itu, Rainer juga meninggalkan beberapa kecupan pada pucuk kepala Nayra. 


"Aku mau menunggu Felix dulu di bawah. Kamu bisa berangkat sendiri ke kantor?" tanya Rainer sambil masih memeluk Nayra.


"Iya. Biasanya aku juga berangkat sendiri, Mas." Nayra yang sudah membalas pelukan Rainer berusaha melepaskan pelukan tersebut. Dia yakin, jika akan diteruskan, Rainer pasti tidak akan tinggal diam.


Setelah itu, acara pelukan di pagi hari tersebut segera berakhir. Nayra dan Rainer bergegas berangkat. Hari itu, Nayra ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Sementara Rainer, sudah ditunggu Felix di lobi. Felix menolak untuk naik menemui Rainer. Felix tahu jika Rainer pasti akan sangat lebay jika sudah bersama dengan Nayra.

__ADS_1


Nayra berangkat menggunakan ojek online. Nayra memang lebih suka berangkat dengan ojek online karena bisa lebih cepat sampai di kantor.


Tak butuh waktu lama, Nayra sudah tiba di kantor. Dia segera turun dari ojek dan bergegas menuju ruangannya. Namun, saat dia berada di lobi kantor, tiba-tiba Nayra merasakan tangannya ditarik dengan kuat oleh seseorang.


Nayra langsung berbalik dan cukup terkejut saat melihat siapa orang yang sudah menarik tangannya tersebut.


"Aaron?" Kedua bola mata langsung membulat saat melihat wajah Aaron yang terlihat kesal. Hingga rahangnya terasa mengeras.


"Katakan itu semua tidak benar, Nay? Kamu tidak benar-benar sudah menikah dengannya, kan?" Suara Aaron yang cukup keras, bisa saja menarik perhatian para karyawan yang sudah mulai berdatangan.


Nayra masih berusaha melepaskan cekalan tangan Aaron, namun dia masih terlihat kesulitan. Nayra bahkan sempat meringis karena cekalan tangan Aaron semakin kencang.


Namun, usahanya tampak sia-sia. Aaron masih tidak mau melepaskan cekalan tangannya pada tangan Nayra. Jangan lupakan juga tatapan matanya yang tajam menghunus ke dalam mata Nayra.


"Jawab pertanyaanku, Nay. Apa benar kamu menikah dengannya?!" 

__ADS_1


Kening Nayra berkerut. Dia menghentikan gerakan tangannya yang berusaha melepaskan cekalan tangan Aaron.


"Apa maksudnya, Ar? Siapa yang kamu maksud?"


Aaron tidak serta merta menjawab pertanyaan Nayra. Dia menatap manik Nayra lekat-lekat sebelum kembali bersuara.


"Atasan kamu. Apa benar kamu menikah dengannya?"


Deg.


Nayra cukup terkejut mendengar pertanyaan Aaron. Bagaimana mungkin Aaron bisa mengetahui jika dia menikah dengan Rainer. Padahal, dirinya ataupun Rainet belum memberitahukan hal itu kepada orang lain, kecuali keluarga dan sahabat Rainer. Bahkan, Nayra pun juga belum berani memberitahu Linda.


"Apa maksud kamu, Ar?"


"Katakan jika berita itu tidak benar. Katakan jika kamu tidak menikah dengan baajingaan itu!" Suara Aaron langsung menggelegar hingga membuat Nayra dan beberapa orang yang ada di sana terkejut.

__ADS_1


•••


Bagi yang masih punya jatah vote, bisa sisakan satu buat Nayra dan Rainer, ya. Terima kasih.


__ADS_2