Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Sampai Kapan?


__ADS_3

Nayra bergerak-gerak gelisah di dalam mobil. Otaknya sudah langsung dipenuhi dengan adegan merem melek. Dia sedikit meremang saat membayangkan si jarum suntik sang suami kembali menusuk-nusuk di bawah sana. Padahal, tadi siang mereka sudah melakukannya. Namun sepertinya, Rainer masih belum puas.


Tak berapa lama kemudian, Rainer dan Nayra sudah tiba di hotel tempat mereka menginap. Jam sudah menunjukkan pukul 20.12. Mereka segera memesan makan malam.


"Mau makan di restoran atau di kamar, Mas?" tanya Nayra sambil mengekori langkah kaki sang suami.


"Di kamar saja. Ada yang harus aku bahas dengan Resta."


"Baiklah." 


Hingga beberapa saat kemudian, Rainer dan Nayra sudah sampai di kamar mereka. Nayra segera memesan makan makan malam, sementara Rainer membersihkan diri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra setelah Rainer selesai. Mereka bergantian membersihkan diri sambil menunggu makan malam mereka tiba.


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, makan malam pesanan Nayra sudah datang. Nayra segera menata makan malam tersebut di atas meja ruang tengah sambil menunggu Rainer selesai menghubungi Resta.


Sekitar lima menit kemudian, Rainer sudah menyelesaikan urusannya. Dia berjalan menghampiri Nayra yang sedang menyiapkan makan malam.


"Sampai kapan kita akan tinggal disini, Mas?" tanya Nayra sambil mendudukkan diri di samping Rainer.


Kening Rainer berkerut. Dia menoleh dan menatap wajah Nayra dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa? Kamu tidak suka tinggal disini?"

__ADS_1


"Ehm, bukan begitu," jawab Nayra sambil menggelengkan kepala.


"Lalu?"


"Ehm, aku lebih nyaman tinggal di rumah, Mas. Aku bisa masak dan membuat makanan sendiri. Aku bisa beraktivitas lebih banyak. Jika disini, aku merasa banyak nganggurnya. Aku kan juga sudah tidak bekerja, Mas." Nayra menatap wajah Rainer sambil mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya.


Melihat tingkah Nayra seperti itu, membuat Rainer benar-benar ingin langsung melahapnya. Namun, dia harus menahan diri sebentar lagi. Rainet merasa kasihan jika istrinya itu menahan rasa lapar.


"Baiklah. Besok kita pulang. Kita akan berdiam diri di rumah sampai acara resepsi yang disiapkan oleh mama digelar," ucap Rainer sambil meraih makanan yang sudah disiapkan oleh Nayra.


"Eh, maksudnya berdiam diri itu bagaimana?"


Seketika otak Nayra langsung berkelana kemana-mana. Mana mungkin akan bisa istirahat di rumah dan tidak ngapa-ngapain? batin Nayra.


Setelahnya, tidak ada lagi obrolan antara Rainer dan Nayra. Keduanya menikmati makan malam hingga selesai. Nayra langsung membereskan sisa makan malam mereka, sementara Rainer pergi ke kamar mandi.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.15. Nayra segera membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Dia merasa sedikit was-was apakah Rainer akan meminta jatahnya kembali.


Dengan jantung yang berdegup cukup kencang, Nayra berjalan keluar dari kamar mandi. Dia harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi setelahnya.


Sambil melirik jam, Nayra menghembuskan napas berat saat berjalan menghampiri Rainer yang sedang duduk berselonjor dan bersandar pada kepala tempat tidur. Fokus Rainer masih pada ponsel yang sejak tadi dimainkannya. Dia tidak menoleh saat Nayra merangkak menaiki tempat tidur.

__ADS_1


Namun, setelah Nayra menarik selimutnya, Rainer menghalanginya sambil meletakkan ponsel di atas nakas. Dia menoleh dan menatap Nayra dengan tatapan 'lapar'.


"Ehm, Mas," Nayra beringsut saat menyadari tatapan sang suami yang mendadak encum.


"Kenapa ditutupi? Itu kenapa pakai baju tidur lengkap?" Rainer menunjuk baju tidur yang dipakai oleh Nayra dengan dagunya.


"Ehm, ma-mau tidur."


"Mana bisa langsung tidur. Kamu belum mendinginkan kepala bawahku. Cenut-cenut rasanya," ucap Rainer sambil diiringi dengan tangan yang sudah mulai melucuti kancing baju tidur Nayra.


"Ehm, ma-mau lagi, Mas?"


"Tentu saja. Mumpung masih sore. Kita lembur semalaman."


Nayra begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Rainer. Belum sempat Nayra protes, Rainer langsung menindih tubuhnya. Tangan kanan Rainer langsung menangkup bakpao jumbo Nayra dan meeremasnya dengan cukup keras karena gemas.


"Euughhhh, Masss. Yang ke-kerasss."


•••


🙄

__ADS_1


__ADS_2