
Setelah sampai di penthouse, Rainer langsung merebahkan diri diatas sofa. Dia hanya melepas kancing kemeja dan ikat pinggangnya. Tanpa membersihkan diri, Rainer menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan mencoba untuk memejamkan mata.
Dan, tak butuh waktu lama, ternyata Rainer benar-benar terlelap. Mungkin, karena terlalu lelah tenaga dan pikirannya, Rainer bisa dengan mudahnya terlelap dengan kondisi badan seperti itu.
***
Keesokan hari, Nayra bangun dari tidur dengan kondisi yang cukup segar. Dia bahkan sudah mandi dan berganti baju dengan baju yang sudah dibawakan oleh mama Rainer semalam.
Pagi ini, Nayra terpaksa harus sarapan seorang diri di restoran hotel. Tadi pagi-pagi sekali, mama Rainer memberitahu Nayra jika dia dan suaminya harus bertolak ke Perth, Australia, pagi itu juga. Ada salah satu manager kepercayaan papa Rainer meninggal dunia. Mau tidak mau, papa Rainer harus segera kembali ke Australia.
Nayra diminta untuk tidak pergi kemana-mana sebelum orang tua Rainer kembali. Bahkan untuk urusan kantor, papa Rainer memberikan cuti libur kepada Nayra selama tiga hari.
Meskipun merasa tidak enak, namun Nayra tetap merasa bersyukur. Dia bisa beristirahat sebentar dari kesibukannya dengan urusan kantor.
Seharian yang bisa dilakukan Nayra adalah memainkan ponsel dan membaca novel di aplikasi online. Tentu saja saat Nayra membuka ponsel, dia langsung menonaktifkan aplikasi perpesanan dan sosial medianya seperti yang diminta oleh mama Rainer.
__ADS_1
Hari minggu itu, Rainer kembali mencari keberadaan Nayra dan sang mama. Namun, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan mereka. Bahkan, beberapa anak buah papanya pun seolah tutup mulut. Rainer benar-benar kesal dengan hal itu.
Hingga hari senin tiba, Rainer masih belum menemukan keberadaan Nayra. Saat tiba di kantor, Rainer yang berharap bisa menemukan keberadaan Nayra, ternyata tidak menemukan siapapun di ruangan sekretarisnya tersebut. Nayra tidak pergi ke kantor.
Bahkan, Linda, sahabat Nayra pun juga tidak mengetahui keberadaan Nayra. Tentu saja hal itu membuat Rainer semakin frustasi. Hari itu, bahkan Rainer tidak bisa konsentrasi dengan baik. Mood nya mendadak jelek. Beberapa ketua tim yang menghandle proyek di perusahaan Rainer pun terkena imbasnya. Emosi Rainer benar-benar tak terkendali.
Hingga menjelang makan siang tiba, sebuah telepon masuk pada ponsel Rainer. Tertera nama seorang kolega bisnis Rainer yang cukup dekat dengannya.
Kening Rainer berkerut saat melihat nama tersebut. Pasalnya, saat itu mereka tidak sedang terlibat kerja sama proyek. Meskipun begitu, Rainer segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Pak Bayu, apa kabar?" sapa Rainer begitu panggilan telepon terhubung.
"Hehe iya, Pak. Maklum, harus handle dua kantor." Rainer menjawab sambil diiringi kekean tawa ringan.
"Hhmm, benar juga, ya. Tapi, setidaknya jangan terlalu fokus pada pekerjaan, Pak Rain. Diri sendiri juga dipikirkan. Hahaha."
__ADS_1
"Iya, Pak. Pasti itu. Ehm, ngomong-ngomong, ada perlu apa ya Pak Bayu menghubungi saya. Apa ada rencana proyek baru?"
"Sebetulnya iya, Pak. Saya ingin membicarakan tawaran proyek baru. Tapi, tadi saat saya melihat Mbak Nayra, sekretaris anda, sepertinya dia sedang sibuk. Saat saya hubungi juga tidak aktif. Apa anda juga ada di sini?"
Ha? Melihat Nayra? Berarti Nayra masih di Jakarta? Batin Rainer.
Entah mengapa suasana hati Rainer mendadak membaik. Mood jeleknya berangsur-angsur hilang. Setelah berusaha menenangkan diri, Rainer kembali bersuara.
"Sebenarnya, saya sedang ada di kantor, Pak. Ada meeting dengan beberapa klien hari ini. Dan, Nayra bertugas di luar kantor. Memangnya Pak Bayu bertemu Nayra di mana?"
"Di restoran X. Dia sedang makan siang di sini tadi."
Kena kau, gumam Rainer.
\=\=\=
__ADS_1
Apa yang mau dilakukan Rainer selanjutnya nih?
Ramein dong, biar tambah semangat up.