Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Hotel


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Rainer, sontak saja Linda dan Resta langsung terdiam. Mereka tidak berani menjawab ucapan tersebut. Lebih tepatnya, tidak mau ikut terlibat dalam acara 'live show' seperti yang diucapkan oleh Rainer tersebut.


Apalagi Resta. Dia benar-benar kapok jika harus melihat tingkah atasannya yang ternyata sangat encum ketika sedang berdua dengan Nayra. Entah apa yang akan terjadi kepadanya kemarin jika Nayra tidak membelanya. Bisa dipastikan, Redta akan terkena amukan dari Rainer karena secara tidak sengaja melihat tingkah meshoom bosnya tersebut.


"Ti-tidak, Pak. Kami akan kembali ke kantor sendiri saja," ucap Redta buru-buru.


Linda melirik sekilas ke arah Resta. Tatapan matanya terlihat kesal saat mendengar ucapan laki-laki yang terpaut usia hampir empat tahun di bawahnya tersebut. Namun, Linda juga tidak mungkin ikut kembali ke kantor bersama dengan Nayra dan Rainer. Dia juga tidak mau kedua matanya kelilipan adegan-adegan dua puluh satu plus plus.


Rainer langsung menganggukkan kepala. Tanpa berpamitan, Rainer langsung menarik lengan Nayra untuk berjalan menuju mobilnya. Nayra bahkan tidak sempat berpamitan kepada Linda dan juga Resta. Dia hanya sempat mengulas senyuman dan melambaikan tangan kepada kedua orang tersebut.


"Langsung ke kantor, Mas?" tanya Nayra sesaat setelah dia dan Rainer memasuki mobil.


"Nggak, ke hotel," jawab Rainer singkat. Dia sudah mulai fokus pada jalanan di depannya.


Mendengar jawaban Rainer, sontak Nayra langsung menolehkan kepala.


"Eh, ho-hotel? Mau ngapain?" tanya Nayra gugup. Otaknya sudah langsung membayangkan aktivitas yang akan mereka lakukan di hotel tersebut.

__ADS_1


Rainer melirik sekilas ke arah Nayra. Dia bisa membaca apa yang sedang Nayra pikirkan saat itu. Hal itu jelas sekali terlihat dari wajah Nayra yang langsung merona merah.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rainer. "Jangan bilang kamu memikirkan aktivitas saat lidahku bermain-main di mulut bawah kamu, ya?" tuduh Rainer.


Seketika wajah Nayra langsung terasa panas. Namun, secepat kilat dia langsung menggelengkan kepala.


"Ti-tidak. Memang apa yang aku pikirkan? Aku hanya kaget kenapa kita harus ke hotel," kilah Nayra.


"Ada undangan peluncuran produk yang harus kita hadiri," jawab Rainer pada akhirnya.


Kening Nayra berkerut. Dia menoleh ke arah Rainer dengan tatapan bingung.


Nayra cukup bingung saat Rainer mengatakan jika mereka akan menghadiri acara peluncuran produk. Mengapa dia tidak tahu? Pasalnya, semua undangan dan jadwal Rainer Nayra yang mengatur.


"Bukan kita yang diundang sebenarnya, tapi papa. Papa kan memang tidak bisa hadir. Jadi, kita terpaksa menghadirinya."


"Oh, begitu." Nayta mengangguk-anggukkan kepala mengerti.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Rainer sudah memasuki area parkir sebuah hotel berbintang. Acara peluncuran produk tersebut akan diadakan di sebuah hall yang ada di hotel tersebut.


Setelah merapikan penampilan, Nayra dan Rainer segera turun dari mobil. Setelah itu, mereka langsung berjalan menuju tempat diselenggarakannya acara tersebut.


Nayra dengan setia mengekori Rainer. Kali ini, Nayra berani menggandeng tangan Rainer karena disana ada beberapa orang yang sempat Nayra lihat, datang di acara resepsi pernikahannya dulu.


"Rame sekali, Mas." Nayra berbisik.


"Acara GC. Jangan bandingkan acara perusahaan ini dengan yang lainnya."


"Geraldy Corp. memang tiada bandingannya, Mas." Lagi-lagi Nayra masih berbisik.


"Jelas."


Hingga tak berapa lama kemudian, Rainer menyapa beberapa orang koleganya. Nayra berpamitan untuk mengambil air minum yang memang sudah disediakan di bagian utara hall tersebut.


Ketika Nayra hendak mengambil gelas, tiba-tiba ada sebuah tangan mencengkram lengannya. Sontak saja hal itu membuat Nayra terkejut dan menoleh.

__ADS_1


"A-aaron?!"


Hhmmm, mau ngapain sing itu? 🤔


__ADS_2