
"Eh, kok sudah pulang?" tanya Nayra kaget. Dia bahkan masih berdiri tak bergerak di depan pintu dan melupakan untuk mempersilahkan orang tersebut masuk.
"Cckkk. Memangnya kenapa? Aku kan sudah bilang jika besok weekend aku off."
"Ya, tapi kan tidak bilang jika mau pulang, Mas?" jawab Nayra.
Ya, orang tersebut adalah Rainer. Dia yang memutuskan untuk pulang siang itu juga dari Singapura, langsung bergegas menuju rumah kontrakan Nayra. Rainer tahu jika selama beberapa hari ini Nayra tinggal di rumah kontrakannya.
Nayra lebih memilih tinggal di sana karena merasa tidak nyaman jika harus tinggal sendiri di penthouse Rainer. Meskipun mama Rainer sudah membujuknya, namun Nayra tetap memilih untuk tetap tinggal di sana sampai Rainer kembali.
Dan, disinilah Rainer berada. Dia juga masih membawa satu koper yang berisi pakaiannya.
"Sudah, yang penting aku sudah pulang."
Nayra mendesahkan napas beratnya. Dia membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Rainer masuk. Jaket Rainer cukup basah karena memang di luar sedang turun hujan yang masih belum berhenti sejak sore.
"Mobilnya bagaimana?" tanya Nayra saat membantu melepaskan dan menyimpan jaket Rainer.
"Masih di bandara. Aku naik taksi tadi."
__ADS_1
Lagi-lagi Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat. Rainer memang seperti itu jika merasa capek.
"Mau istirahat dulu atau bersih-bersih dulu?"
"Mandi saja. Badanku lengket semua ini. Basah juga." Rainer mengibas-ngibaskan rambutnya di dekat ruang tamu Nayra.
"Baiklah. Aku siapkan dulu airnya."
"Hhmmm."
Sebenarnya, ini bukan pertama kali Rainer datang ke rumah kontrakan Nayra. Namun, dia biasanya memang hanya sampai ruang tamu. Dia sama sekali belum pernah masuk lebih dalam di rumah tersebut.
Seperti dugaan Nayra, baju-baju tersebut pasti hanya asal lipat. Nayra tahu jija semua baju-baju tersebut pasti bersih. Tapi, Rainer memang tidak bisa menatap baju-baju tersebut hingga rapi.
Nayra mengambil celana panjang serta kaos untuk Rainer. Nayra berpikir jika Rainer akan kembali ke penthousenya setelah selesai mandi dan makan malam.
Nayra segera memberikan celana dan kaos yang sudah disiapkannya kepada Rainer begitu laki-laki tersebut selesai membersihkan diri. Namun, bukannya menerima baju yang diulurkan oleh Nayra, namun Rainer justru masih berdiri dengan tubuh masih berbalut handuk di bagian bawah sana.
"Kenapa kamu mengambilkan celana panjang dan kaos ini?" tanya Rainer bingung.
__ADS_1
"Eh, memangnya mau baju yang bagaimana?"
"Celana pendek dan kaos tipis yang biasa aku pakai jika mau tidur."
"Lho, memangnya kamu mau tidur disini?" tanya Nayra kaget.
Ya, Nayra memang diminta untuk memakai bahasa formal jika sedang berdua dengan Rainer di luar kantor. Kata Rainer, agar mereka bisa lebih terbiasa. Mau tidak mau, Nayra menuruti ucapan Rainer.
"Tentu saja aku akan tidur disini. Kamu kira aku mau pulang saat hujan begini?" Rainer menatap tajam ke arah Nayra.
Mendengar hal itu, Nayra hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Dia langsung berbalik menuju kamar satu-satunya yang ada di rumah kontrakan tersebut untuk mengganti baju Rainer.
Tanpa Nayra sadari, Rainer mengekori langkah kakinya menuju kamar. Saat itu, pertama kali bagi Rainer memasuki kamar Nayra. Kamar yang cukup sempit tersebut, ternyata ditata sedemikian rapi oleh Nayra.
Sebuah tempat tidur yang terhampar di lantai tanpa dipan, cukup membuat otak Rainer travelling. Tanpa disadarinya, sebuah senyuman langsung terbit pada ujung bibir Rainer.
"Nggak bakal bersuara, nih," gumam Rainer sambil masih mengulas senyumannya.
•••
__ADS_1
Apanya yang bersuara? 🤔