Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Tingkah Rainer


__ADS_3

Pagi itu, Felix ikut sarapan di tempat Rainer. Dia masih terlihat cukup kacau meskipun Felix masih bisa mengendalikan diri. Rainer memberikan izin Felix untuk libur satu hari ini. Tapi, dia harus kembali ke apartemennya sendiri.


Setelah sarapan, Nayra dan Rainer segera bersiap ke kantor. Sementara Felix, dia sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Nayra yang saat itu sedang menyiapkan baju untuk Rainer, langsung melonjak kaget saat tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan menyusup ke dalam bajunya.


"Aisshh, apaan sih, Mas? Jangan suka aneh-aneh, deh. Ini sudah cukup siang. Kita harus segera ke kantor," ucap Nayra sambil menjauhkan tangan Rainer yang mulai bergerilya kesana kemari.


Rainer mencebikkan bibir sambil menatap kesal ke arah Nayra.


"Dasar pelit. Sedikit saja nggak boleh," Rainer langsung menggerutu kesal.


Nayra menoleh ke arah sang suami yang tengah merajuk tersebut.


"Bukannya pelit, Mas. Tapi realistis. Tuh, lihat sekarang sudah jam berapa? Kamu ada meeting jam sepuluh. Resta sudah menyiapkan semua bahannya. Nanti setelah sampai di kantor, aku akan rekap semuanya biar kamu mudah menyampaikan kepada klien." Nayra mendekati Rainer sambil mengusap-usap bahu suaminya tersebut.


Rainer masih menekuk wajahnya. Dia menatap Nayra dengan tatapan kesal.


"Gini nih jika nikah sama sekretaris sendiri. Mau bolos saja sudah diomelin." Rainer menyindir Nayra sambil menyambar kemejanya.

__ADS_1


Mendapat sindiran dari sang suami, Nayra pun tidak mau kalah. Jangan harap Nayra akan mudah menyerah jika berdebat dengan Rainer. Mungkin, Nayra hanya akan menyerah saat berada di atas ranjang dengan suaminya tersebut.


"Jadi kamu nyesel nikah sama aku, Mas?" tanya Nayra dengan tatapan menelisik.


Rainer menoleh sekilas ke arah Nayra sambil mengancingkan kemejanya.


"Cckkk. Siapa yang menyesal?"


"Tuh, kamu. Tadi ngeluh karena nikah sama sekretaris sendiri."


"Dengar, Nay. Ketika aku sudah memutuskan untuk mengambil keputusan, pantang bagiku untuk menyesalinya. Sama juga dengan keputusan untuk menikahimu. Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu," ucap Rainer dengan tatapan serius.


Nayra yang awalnya ingin marah, hatinya menjadi lemah dan kenyal-kenyal seperti puding saat melihat ekspresi serius dari Rainer. Entah mengapa hatinya langsung menghangat setelah mendengar perkataan suaminya tersebut.


Tanpa aba-aba, Nayra langsung menubruk tubuh Rainer dan mendekapnya dengan erat. Tentu saja tindakan Nayra tersebut membuat Rainer kaget. Meskipun begitu, Rainer tetap membalas pelukan Nayra sambil mengusap-usap punggung istrinya tersebut.


Namun, jangan kira Rainer tidak bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tangan yang awalnya hanya mengusap-usap punggung Nayra, kini sudah mulai menyusup ke dalam baju Nayra.

__ADS_1


Tanpa aba-aba lagi, jari tangan Rainer sudah melepaskan kaitan 'kacamata' Nayra. Tentu saja hal itu membuat Nayra langsung melepaskan pelukannya dan mendorong dada bidang Rainer.


"Apaan sih, Mas? Sudah jam tujuh lewat, nih. Jangan suka aneh-aneh. Aku nggak mau kamu terlambat ikut meeting nanti," ucap Nayra sambil mencoba memasang kembali kaitan 'kacamata' miliknya yang sempat di buka oleh Rainer.


Tak mau kembali berdebat, Rainer harus bisa menahan keinginannya untuk nanti. Setidaknya, sampai istirahat siang. Rainer sudah mulai merencanakan apa yang akan dilakukannya nanti untuk menggarap Nayra.


Tak berapa lama kemdian, Nayra dan Rainer sudah siap. Mereka lalu bergegas berangkat ke kantor. Resta sudah menunggu kedatangan Rainer dan Nayra. Setelah itu, aktivitas pekerjaan dilakukan seperti biasa.


Meeting kali ini ternyata memakan waktu sedikit lebih lama. Bahkan, Rainer dan kliennya harus puas makan siang di kantor sambil mendiskusikan pekerjaan. Hingga pukul satu siang lebih, meeting baru selesai. Rainer langsung berjalan menuju ruangan kerjanya.


Saat memasuki ruangan, terlihat Nayra sedang membereskan meja Rainer. Tanpa aba-aba, Rainer langsung menutup pintu dan menguncinya. Dengan langkah lebar, Rainer langsung berjalan menghampiri Nayra dan memeluknya dari belakang. Jangan lupakan kecupan-kecupan ganas langsung didaratkan oleh Rainer pada ceruk lehernya.


Tindakan Rainer yang tiba-tiba tersebut, cukup membuat Nayra terkejut. Namun, bukan hanya Nayra yang terkejut saat itu.


"Pa-Pak Rain. Ma-masih ada saya di sini. Ja-jangan nodai mata suci saya dengan adegan dua puluh satu plus plus, Pak."


"Resta?!"

__ADS_1


__ADS_2