Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Aku Tidak Terima Penolakan


__ADS_3

Braakkk.


Suara gebrakan meja ditambah lagi kursi yang jatuh terjengkang ke belakang karena orang yang tengah duduk di atasnya mendadak berdiri. Siapa lagi jika bukan Rainer.


Tatapan mata tajamnya langsung tertuju ke arah luar ruangan meeting. Tentu saja hal itu membuat kening beberapa orang yang berada di dalam ruangan tersebut kaget dan kebingungan. Mereka langsung menoleh mengikuti arah pandangan Rainer.


Berbagai ekspresi ditampilkan oleh bawahan Rainer. Ada yang terkejut, bingung, bahkan penasaran. Di tengah-tengah keterkejutan mereka, suara Dewa lah yang membuyarkan perhatian tersebut.


"Eh, itu siapa laki-laki yang tengah bersama istri Pak Rain? Mana cakep lagi, masih kelihatan muda juga."


Duaarrrr.


Mulut Dewa benar-benar seperti kayu bakar kering yang sudah disiram oleh minyak tanah. Ucapan Dewa tersebut, sontak saja langsung menyulut bara api gemuruh di dada Rainer. Secepat Kilat laki-laki tersebut berjalan keluar ruangan meeting.


Dengan wajah yang sudah dipenuhi emosi, Rainer langsung berjalan menghampiri Nayra yang masih kebingungan karena kedatangan laki-laki asing di mejanya.


Nayra yang saat itu duduk membelakangi arah Rainer datang, tidak mengetahui jika atasannya tersebut sedang berjalan untuk menghampirinya.


Hingga ketika Rainer sudah berada di belakang kursi Nayra, tiba-tiba Rainer melingkarkan tangannya pada bahu Nayra. Tentu saja hal itu membuat Nayra terkejut dan langsung menoleh.

__ADS_1


"Lho?" Nayra masih kaget dengan keberadaan Rainer yang tiba-tiba berada di sampingnya. "Kenapa ada di sini? Sudah selesai meetingnya?" tanya Nayra.


"Belum. Hanya saja, aku akan mengajak kamu ikut ke dalam. Dari pada disini dan diganggu banyak orang," ucap Rainer sambil melayangkan tatapan tajam ke arah laki-laki yang baru saja menghampiri Nayra.


Sontak saja laki-laki tersebut tampak kikuk dan salah tingkah. Maksud hati ingin berkenalan dengan Nayra yang tampak sendiri, ternyata sudah ada pawangnya. Apalagi, tampang pawang Nayra tersebut benar-benar ingin menerkamnya bulat-bulat.


"Ehm, maafkan saya, Om. Saya tidak tahu jika Mbak nya ini kekasih Anda. Saya hanya bermaksud menemaninya tadi. Kasihan dia sendirian," ucap laki-laki tersebut sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sontak saja kedua bola mata Rainer terbuka setelah mendengar ucapan laki-laki tersebut.


"Apa tadi kamu bilang? Kamu memanggilku Om?!" Suara Rainer terdengar penuh emosi.


"Ssttt, sabar, sabar. Malu di tempat umum teriak-teriak. Tuh, dilihatin banyak orang juga," bisik Nayra.


Laki-laki tersebut langsung malu. Dia mengucapkan permintaan maaf beberapa kali sebelum akhirnya pergi meninggalkan pasangan atasan dan sekretaris aneh tersebut.


Setelah kepergian laki-laki tersebut, Nayra langsung menoleh ke arah Rainer dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa sudah keluar, Pak? Apa meetingnya sudah selesai?" tanya Nayra.

__ADS_1


"Belum."


Nayra mengerutkan kening bingung. Dia tidak mengerti apa maksud atasannya yang sudah mulai aneh tersebut.


"Cckkk. Jika meetingnya belum selesai, kenapa Bapak keluar? Sana, balik ke ruang meeting dan selesaikan meetingnya," ucap Nayra sambil hendak kembali duduk. Dia mau melanjutkan makan siangnya yang bahkan belum tersentuh sama sekali.


Rainer yang melihat hal itu, langsung menahan lengan Nayra agar tidak duduk kembali. Tentu saja hal itu membuat Nayra kaget dan kebingungan.


"Eh, ada apa, Pak?"


"Pindah ke ruangan dalam. Aku akan meminta karyawan restoran untuk memindahkan makan siangmu ke dalam," ucap Rainer.


Nayra hendak protes, namun lagi-lagi Rainer menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak terima penolakan."


\=\=\=\=


Hhhh, maumu apa sih, Rain?

__ADS_1


__ADS_2