
Hingga beberapa saat kemudian, langkah kaki Nayra sudah terhenti di samping brankar Rainer. Nayra masih menggigiti bibir bagian bawahnya sambil menatap ke dalam netra Rainer lekat-lekat. Nayra bahkan tidak berani mengedipkan netranya karena khawatir air matanya akan luruh.
Keduanya masih sama-sama diam dalam tatapan yang dalam. Rainer menatap Nayra dengan kening berkerut. Hingga beberapa saat kemudian, Nayra memberanikan diri untuk bersuara. Hanya suara lirih yang keluar dari bibir Nayra dan dapat ditangkap oleh Rainer.
"Ma-maaf."
Karena tak kuasa menahan air mata, kini tangis Nayra sudah langsung pecah. Dengan sesenggukan dia masih menangis tanpa berani mendekat ke arah Rainer.
Mama Rainer yang melihat hal itu, langsung berdiri dan memeluk Nayra. Beliau juga mengusap-usap punggung Nayra untuk menenangkan menantunya yang masih menangis sesenggukan tersebut.
Rainer yang bingung melihat tingkah Nayra, langsung menoleh ke arah sang papa. Dari tatapan matanya, Rainer bertanya apa yang terjadi dengan Nayra. Papa Rainer hanya mencebikkan bibir sambil mengedikkan bahu sebagai jawaban.
"Sstttt. Jangan menangis lagi, Sayang. Sudah, tidak apa-apa. Rainer juga sudah siuman. Kondisinya juga sudah baik, kok."
Mama Rainer masih berusaha menenangkan sang menantu. Nayra hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala di balik bahu mama mertuanya tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, mama Rainer melepaskan pelukannya. Dia memberikan ruang kepada Nayra untuk berbicara dengan Rainer. Kedua orang tua tersebut beranjak pergi dengan dalih sarapan.
Sepeninggal kedua orang tua Rainer, Nayra masih bergeming di tempatnya. Dia masih tidak berani mendekati Rainer. Bahkan, Nayra masih menundukkan kepala karena merasa malu kepada suaminya tersebut.
"Kenapa masih disitu? Nggak mau mendekat kesini?" Kali ini Rainer bersuara.
Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Nayra melangkahkan kaki ke arah brankar Rainer. Hatinya masih terasa diaduk-aduk tak karuan. Hingga tangan kiri Rainer terulur dan berhasil meraih tangan kanan Nayra.
"Nggak mau peluk aku?" tanya Rainer dengan tatapan yang menunjukkan kerinduan.
Ya, tidak bisa dipungkiri jika Rainer merasa kangen kepada istrinya tersebut. Kalau diizinkan oleh sang mama, sejak kemarin Rainer pasti sudah menjemput Nayra di rumah orang tuanya tersebut. Namun, karena mama Rainer melarangnya untuk menjemput Nayra, akhirnya Rainer terpaksa mengurungkan niatnya untuk menjemput Nayra. Akhirnya, Rainer memutuskan untuk berkendara keliling kota hingga terjadi kecelakaan tersebut.
Lagi-lagi Nayra menangis sesenggukan di dalam pelukan Rainer. Meski dengan menggunakan satu tangan, Rainer masih bisa mengusap-usap punggung Nayra untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Ma-maaf, Mas. Maafkan aku. Gara-gara sikapku yang kekanakan semuanya jadi seperti ini. Maafkan aku, Mas. Hiks hiks hiks."
__ADS_1
"Ssttt. Nggak ada yang perlu dimaafkan. Kamu nggak salah apa-apa, kok." Rainer masih mengusap punggung Nayra. Dia hendak mengecup pucuk kepala Nayra namun tidak sampai. Kepalanya masih sakit jika digunakan untuk menunduk terlalu dalam.
"Jika aku nggak pergi, kamu pasti nggak akan mengalami ini semua, Mas. Kamu pasti akan baik-baik saja. Hiks hiks hiks." Nayra masih menangis sesenggukan.
"Kata siapa? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi seperti apa, Nay. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Disyukuri apapun itu. Peristiwa baik atau buruk, pasti akan ada hikmah dibalik itu semua."
Entah mengapa Rainer mendadak bijak. Dia mengatakan hal itu untuk menenangkan sang istri, atau memang sudah benar-benar tobat. Othor juga nggak tahu. 🤧
Nayra hanya bisa menganggukkan kepalanya yang kini masih memeluk dada bidang Rainer tersebut. Dia membenarkan apa yang diucapkan oleh Rainer. Jika tidak ada peristiwa seperti ini, mungkin Nayra tidak menyadari perasaannya dan tidak akan berani mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Seketika Nayra melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rainer. Dengan wajah yang masih sembab karena tangis, Nayra menatap wajah suaminya yang masih ada beberapa luka di sana. Nayra menatap lekat-lekat wajah suaminya tersebut.
Wajah ini yang ingin aku lihat sejak kemarin. Mata ini yang ingin aku harapkan terbuka sejak semalam. Tubuh ini yang ingin aku peluk sejak kemarin, batin Nayra.
Sambil mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Rainer, Nayra menatap lekat-lekat netra suaminya tersebut.
__ADS_1
"I love you, Mas."
Semoga bisa sedikit mengobati kangen sama si hujan ya. 🤗