
Rainer bingung harus melakukan apa setelah kepergian Nayra ke kamar mandi. Dia berdiri di dan berjalan menuju ruang tengah. Rainer menoleh ke jam dinding yang ada di sampingnya. Helaan napas berat lagi-lagi terdengar di sana.
"Kenapa otakku jadi memikirkan apa yang akan Nayra lakukan setelah sikat gigi, ya?" gumam Rainer sambil membenahi bagian tengah celananya. Entah mengapa mendadak ada yang terasa selip di sana.
Sekitar lima menit kemudian, Nayra sudah keluar dari dalam kamar dan berjalan menghampiri Rainer dengan senyum merekah. Rainer bahkan sampai bingung bagaimana Nayra bisa melupakan penyebab tangisannya tadi.
"Mas," ucap Nayra sambil langsung nemplok pada tubuh Rainer.
Tak tanggung-tanggung, Nayra langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Rainer dan berjinjit. Dia segera melahap bibir Rainer dengan penuh semangat. Tak mau kalah, Rainer langsung membalas perlakuan Nayra. Ya kali Si Hujan bakal menolak jika dipancing dengan hal begituan.
Eehhmmmm. Eehhmmmm.
Suara pertemuan benda kenyal yang disertai desa han pun langsung terdengar di ruangan tersebut. Bahkan, posisi mereka saat ini masih berdiri di tempat yang sama.
Rainer yang lebih dulu melepaskan paguttan mereka. Dia tidak mau membuat Nayra kecapekan dan ngos-ngosan. Namun, hal itu justru membuat Nayra semakin kesal.
__ADS_1
"Ccckkk. Kok dilepas sih, Mas? Aku belum puas, ih." Nayra langsung mengerucutkan bibir kesal. Tak sampai situ, dia langsung bersiap untuk nyosor bibir suaminya lagi.
Namun, tindakan Nayra tersebut langsung dihentikan oleh Rainer dengan cara menahan kedua bahu Nayra. Alhasil, mood Nayra langsung berubah buruk.
"Kenapa? Nggak mau di cium istrinya? Mau dicium yang lainnya?" Sontak saja Nayra langsung merengut kesal. Dadaanya juga terasa sesak saking kesalnya.
"Eh, nggak gitu." Rainer buru-buru mengelak. Dia yang sudah melihat ekspresi sang istri yang kesal, langsung bergerak cepat. "Maksudnya, kita masih berdiri ini, aku nggak mau kamu kecapekan nanti. Dilanjut sambil duduk atau rebahan kan bisa," lanjut Rainer sambil menyelipkan rambut Nayra di belakang telinganya.
Seketika senyum di bibir Nayra langsung terbit. Dia mengangguk dengan penuh antusias.
"Iya, ayo. Kita tiduran saja. Kalau duduk nggak enak."
Rainer harus segera menghubungi Resta untuk mengatur ulang jadwal meeting. Dia tidak yakin akan bisa menyelesaikan urusannya dengan Nayra dalam waktu yang singkat.
Belum sempat Rainer mulai dengan hal yang iya iya, ponsel Nayra yang tadi sempat dilempar Nayra ketika hendak ke kamar mandi dan mendarat di dekat bantal, berbunyi. Kedua orang yang masih berdiri di ujung tempat tidur tersebut langsung menoleh.
__ADS_1
"Siapa yang menelepon?" gumam Rainer.
Nayra mengedikkan bahu. Dia segera beranjak untuk mengambil ponselnya. Nayra khawatir jika klien mereka akan menghubungi Nayra jika ada hal penting. Maklum, Nayra masih berstatus sebagai sekretaris sekaligus asisten Rainer. Ya, meskipun kini dia sudah mulai berbagi pekerjaan dengan Resta.
Rainer mengikuti Nayra dan melongokkan kepala untuk melihat siapa yang menelepon.
"Felix? Ngapain dia telepon kamu?" Rainer langsung menoleh tajam ke arah Nayra. Dia segera merebut ponsel tersebut ketika Nayra hendak menggeser ikon berwarna hijau untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, Lix. Ngapain telepon Nayra?" Begitu panggilan tersambung, Rainer langsung melayangkan protes.
"Cckkk. Gue telepon lo berkali-kali nggak bisa, Rain. Gue di rumah sakit sekarang. Lo bisa kesini, kan?"
"Eh, rumah sakit? Ngapain?"
"Mau sunat."
__ADS_1
"Hheee?"
Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak, ya. Like, komen, dan vote. Terima kasih.