Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Empuk


__ADS_3

Rainer mengerutkan kening setelah mendengar desaahan kekecewaan Nayra. Sebenarnya, bukan Nayra saja yang merasa kecewa. Namun, Rainer pun juga merasakan hal yang sama. Bahkan, mungkin para reader juga merasakan kekecewaan itu. Benar tidak?


Namun, dia juga tidak bisa melawan sang mama jika sudah bertekad. Tapi, bukan berarti Rainer dan Nayra tidak bisa melakukan hal-hal lainnya, kan? Dan, hal itu yang dipikirkan oleh Rainer. 


Rainer yang melihat wajah kecewa Nayra, langsung menarik lengannya hingga kini tubuh Nayra langsung ambruk menimpa tubuh Rainer. Keduanya kini sudah terbaring di atas kasur dengan posisi Nayra bertumpu pada tubuh Rainer.


Deg


Deg


Deg


Jantung Nayra langsung berdegup sangat kencang saat menyadari posisinya saat itu. Bagaimana tidak. Saat ini, wajah Nayra sudah berada tepat di atas wajah Rainer. Dadanya menempel erat pada dada Rainer. Bahkan, hembusan napas keduanya bisa bisa saling bisa dirasakan.


"Ehm, Ma-mas?" 


Nayra mendadak gugup. Dia berusaha bangkit dari posisinya. Kalau boleh jujur, Nayra merasa tidak nyaman. Bukan karena apa-apa sebenarnya, hanya saja, Nayra merasa malu saat bagian depan tubuhnya menempel dengan erat pada tubuh Rainer. 

__ADS_1


Nayra sangat yakin jika Rainer bisa dengan jelas merasakan 'bakpao jumbo' miliknya. Apalagi, 'bakpao jumbo' itu tidak bersarung. Nayra adalah tipe orang yang tidak pernah memakaikan sarung untuk 'bakpao jumbo' miliknya jika hendak tidur. Hal itu juga yang membuat Nayra memilih baju tidur berwarna hitam dengan motif tokoh kartun.


Rainer tidak semudah itu melepaskan tubuh Nayra. Dia memeluk tubuh Nayra semakin erat. Tak ayal, hal itu membuat bakpao jumbo semakin tertekan. Untung tidak penyet. 🤧


"Empuk," gumam Rainer.


"Eh? A-apa?" Nayra mendadak salah tingkah.


Tanpa menjawab, Rainer membalikkan tubuhnya hingga kini mereka berganti posisi. Nayra sudah berada di bawah tubuh Rainer hingga tubuh keduanya kembali menempel. Tatapan mata Rainer dan Nayra langsung mengunci. 


"Mungkin, kita belum bisa melakukan hal 'itu' sekarang. Tapi, kita bisa melakukan hal lainnya, kan?" ucap Rainer sambil masih menatap dalam-dalam kedua netra Nayra.


Pikiran Nayra mendadak blank saat posisi tubuh mereka sedang menempel erat seperti itu. Belum sempat Nayra menyahuti ucapan Rainer, bibirnya sudah dibungkam oleh Rainer.


Kali ini, Rainer tidak seperti tadi. Dia langsung beraksi dengan lebih bersemangat. Seolah sudah cukup ahli, Rainer bahkan mampu membuat Nayra langsung membalas pagutannya.


Hhmmmmpphh. Eemmhhmmppphh.

__ADS_1


Suara pagutan bibir keduanya seolah bersahutan dengan derasnya hujan di luar sana. Bahkan, kini Nayra sudah mulai membuka bibirnya. Tak tinggal diam, Rainer langsung beraksi kembali.


Nayra hanya bisa pasrah. Kedua tangannya refleks membelai leher dan lengan Rainer. Bahkan, tangan kiri Nayra sudah berhasil menyusup ke dalam lengan kaos Rainer dan bisa menyentuh bahu suaminya tersebut.


Tak mau kalah, Rainer menumpukan tubuhnya pada tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya, mulai menyusuri baju tidur Nayra hingga menemukan kancing teratas baju tidur tersebut.


Rainer bisa dengan mudah melepaskan kancing baju tersebut. Bahkan, kancing kedua pun tak luput dari jamahan tangannya. Hingga kini, dua kancing teratas Nayra sudah berhasil lepas akibat ulah Rainer.


Awalnya, Nayra tidak menyadari tindakan Rainer. Namun, saat tangan kanan Rainer berhasil menangkup 'bakpao jumbo' Nayra yang sebelah kiri, dan meeremasnya dengan gemas, Nayra baru menyadarinya.


Bukannya menolak, Nayra justru langsung membusungkan dadanya sambil mendesahh dengan keras.


"Uugghhh, Maasss. Yang keraasss."


•••


🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2