Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Jawaban Citra


__ADS_3

Citra langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya setelah mendengar ucapan Felix. Dia masih benar-benar terkejut jika ternyata saat ini Felix sedang melamarnya. Eh, melamar? 


Citra masih kesulitan mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan, Citra terlihat beberapa kali menggelengkan kepala untuk memastikan jika apa yang baru saja didengarnya adalah benar.


"Ma-maksud Om Felix apa ini?" Citra berusaha mencari penjelasan lebih dari ucapan Felix kali ini.


Felix yang sebenarnya sedang berdebar-debar, berusaha mengatur degup jantungnya yang sudah nge reog sejak tadi. Entah mengapa Felix mendadak gugup seperti ini saat berbicara serius dengan Citra.


"Ehm, seperti apa yang aku katakan tadi, aku ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk Finn. Aku ingin Finn punya mama dan bisa merasakan kasih sayang orang tua secara lengkap. Dan, kamu adalah sosok yang tepat untuk menjadi mama Finn. Kamu bisa memberikan apa yang Finn butuhkan, kasih sayang, perhatian, bahkan asi yang sangat penting bagi tubuhnya pun sudah kamu berikan."

__ADS_1


"Aku berpikir jika sebaiknya kita menikah agar Finn benar-benar bisa memiliki orang tua yang lengkap. Punya papa dan mama dalam artian sebenarnya. Jadi, apa kamu bersedia menjadi mama untuk Finn?" tanya Felix sambil menatap lekat-lekat ke arah Citra.


Mendengar ucapan Felix, sebenarnya Citra cukup terkejut. Namun, dia berusaha mengontrol perasaannya sebelum menjawab ucapan Felix.


"Sebelumnya, saya minta maaf, Om. Memang benar apa yang om Felix bilang tadi. Aku memang sangat menyayangi Finn. Terlepas dari bagaimana cerita kehadiran Finn, aku benar-benar menyayanginya sepenuh hati. Tidak bisa dipungkiri jika sedikit banyak aku melihat Finn, aku jadi teringat dengan kakakku dan calon anaknya."


"Dengan hadirnya Finn, aku bisa meluapkan rasa sayang bahkan rasa rinduku kepada keluargaku yang sudah tiada itu. Aku bisa membayangkan Finn seperti keponakanku. Dan, lama kelamaan rasa sayangku kepada Finn juga semakin besar."


"Dan, ehm selain itu, kita juga belum cukup saling mengenal, Om. Kita baru beberapa bulan dekat karena Finn. Kita juga tidak ada hubungan asmara atau hal-hal seperti itu sebelumnya." Citra menjawab sambil menundukkan kepala. Dia tidak berani menatap wajah Felix. Citra memilih menatap wajah Finn yang tengah terlelap itu.

__ADS_1


Felix terdengar mendesahkan napas beratnya sebelum kembali bersuara. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Citra. Felix merasa ditolak oleh ibu susu putranya tersebut.


"Jadi, ini kamu menolak tawaranku?" tanya Felix kemudian.


Citra memberanikan diri untuk menatap Felix beberapa saat. Dan, setelahnya dia menggelengkan kepala


"Ehm, tidak seperti itu juga, Om. Aku tidak berani mengatakan seperti itu. Kedepannya, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti diantara kita. Tapi, untuk saat ini aku minta maaf jika tidak bisa menerima tawaran itu."


Citra menundukkan kepalanya kembali. Sebenarnya, ada hal yang cukup mengganjal di hati Citra saat ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya Citra memang mempunyai rasa tertarik kepada Felix. Dia cukup kagum dengan laki-laki yang ternyata sangat sayang kepada putranya itu. Bahkan, di sela-sela kesibukannya bekerja, Felix selalu punya waktu dan cara untuk melakukan quality time dengan sang putra. Dan, Citra yang ada di sekitar mereka bisa dengan jelas melihat hal itu.

__ADS_1


Namun, Citra tidak bisa serta merta menerima tawaran Felix. Citra merasa jika sebenarnya Felix hanya membutuhkan sosok mama untuk Finn saja, bukan sosok istri juga yang bisa mendampinginya. Hal itu disebabkan karena Felix hanya mengatakan jika dia ingin memberikan sosok mama untuk Finn, bukan juga mencari sosok istri. Entah mengapa Citra jadi berpikir yang tidak-tidak kepada Felix.


Hhmmm, kalau sudah begini bagaimana coba Lix?


__ADS_2