
Nayra masih diam mematung setelah kepergian Rainer. Bahkan, godaan Rainer pada salah satu bakpao jumbonya sebelum berangkat, tak mampu membuat Nayra beranjak dari kekagetannya.
Hingga setelah Rainer benar-benar keluar dari kamar hotel tersebut, Nayra langsung tersadar. Dia sempat menepuk-nepuk pipinya dan memegang bagian tubuhnya yang sempat di pegang oleh Rainer sebelum berangkat.
"Astagaaa! Apa yang aku pikirkan?" ucap Nayra sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Tepat setelah itu, ponsel Nayra berbunyi. Kali ini, Resta yang menghubunginya untuk menyampaikan beberapa hal tentang pekerjaan. Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, panggilan telepon tersebut berakhir.
Setelah itu, Nayra langsung mengeluarkan laptop dari dalam tasnya dan mulai membuka email untuk memeriksa kiriman dari Resta. Hampir tiga puluh menit Nayra memeriksa beberapa pekerjaannya, hingga ponselnya kembali berbunyi.
Nayra menoleh dan menatap layar ponselnya tersebut. Kedua bola matanya langsung membesar saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Dan, mau tidak mau, Nayra harus mengangkat panggilan tersebut.
"Halo," sapa Nayra begitu panggilan telepon terhubung.
"Halo, Nay. Akhirnya kamu mengangkat teleponku." Nada lega langsung bisa didengar oleh Nayra.
__ADS_1
"Maaf, Lin. Tadi masih ada yang harus aku kerjakan."
Ya, saat itu orang yang sedang menghubungi Nayra adalah Linda, sang sahabat. Dia yang sudah mendengar gosip yang beredar di kantor sejak pagi, merasa sangat penasaran. Oleh karena itu, sejak tadi Linda berusaha menghubungi Nayra untuk mengkonfirmasi berita tersebut.
Namun, Linda kesulitan menghubungi Nayra. Ponselnya sudah tidak bisa dihubungi setelah tadi panggilannya sempat terhubung. Beruntung saat Linda menghubungi Nayra kembali, ponsel sahabatnya tersebut sudah aktif kembali.
"Tidak apa-apa. Yang penting, aku hanya ingin mendengar cerita tentang kebenaran berita yang menyebar sejak tadi pagi. Kamu tahu Nay, di kantor benar-benar heboh dengan berita tadi pagi di lobi."
"Awalnya, banyak yang bilang jika mereka hanya fokus pada orang yang tiba-tiba datang menghampiri kamu. Namun, lama kelamaan, mereka menjadi penasaran dengan ucapan yang disampaikan laki-laki itu. Dan, akupun jadi ikut-ikutan penasaran," ucap Linda.
Nayra yang sudah menduganya pun langsung menghela napas dalam-dalam. Sepertinya, tidak ada cara lain yang bisa dilakukannya selain berkata jujur. Toh, sebentar lagi resepsi pernikahannya juga akan di gelar kan? batin Nayra.
"Iya." Linda langsung menjawab dengan cepat. Dia benar-benar penasaran dengan kebenaran berita itu. Menurut Linda, pernikahan adalah hal besar. Jadi, jika sampai Nayra tidak memberitahukan hal itu, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Apa benar kamu sudah menikah, Nay?" tanya Linda.
__ADS_1
Nayra menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut.
"Iya, Lin. Aku memang sudah menikah. Aku minta maaf jika tidak memberitahu kamu tentang pernikahan ini. Sebenarnya, bukan mauku untuk tidak memberitahu hal ini kepada kamu. Tapi, ada sesuatu dan lain hal yang memang membuatku belum bisa menjelaskan hal itu kepada semuanya." Suara Nayra mendadak sendu.
Linda yang awalnya merasa cukup kaget, tidak sampai hati memarahi Nayra begitu mendengar suaranya. Linda mengambil napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan-lahan sebelum kembali bersuara.
"Aku tidak tahu apa masalah yang kalian alami, Nay. Tapi, aku hanya bisa mendoakan jika pernikahan ini bisa menjadikan pernikahan yang pertama dan terakhir untukmu dan suami."
"Aamiin. Terima kasih doanya, Lin. Aku janji, suatu saat jika waktunya pas, aku akan menceritakan semuanya kepadamu." Terdengar suara bahagia dari Nayra.
"Baiklah. Rasanya aku tidak sabar menunggu hari itu tiba. Ehm, ngomong-ngomong, apa aku mengenal siapa suami kamu itu, Nay?" tanya Linda penasaran.
Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, mendadak Nayra menjadi panik. Namun, dia juga tidak mungkin berbohong tentang hal itu, kan?
"Ehm, i-itu, Lin. Kamu memang mengenalnya." Nayra menjawab dengan perasaan was-was.
__ADS_1
"Eh, benarkah? Siapa suami kamu, Nay? Aku harap, dia adalah orang yang lembut dan bisa memperlakukanmu dengan baik. Tidak semena-mena seperti atasan kamu yang suka perintah seenaknya itu. Heran deh, ada ya laki-laki seperti itu. Aku jadi khawatir siapa yang jadi istrinya nanti. Bisa-bisa, jika dia lagi 'bertanduk' dia hanya meminta istrinya untuk ngejemplang di atas kasur seharian," ucap Linda berapi-api.
Glek.