Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Cerita Citra 2


__ADS_3

Felix masih diam mematung menatap ke arah Citra. Dia benar-benar terkejut mengetahui fakta yang baru saja diceritakan oleh Citra.


"Me-meninggal? Sejak kapan?" tanya Felix.


Wajah Citra mendadak sendu. Dia terlihat berusaha untuk menahan kesedihan. Melihat perubahan ekspresi Citra, mendadak Felix merasa bersalah. Dia yang sudah dibantu untuk memandikan Finn, justru membuat Citra bersedih.


"Ehm, sorry. Nggak usah dijawab jika nggak membuatmu nggak nyaman," ucap Felix.


Citra menoleh ke arah Felix sambil menggelengkan kepala.


"Nggak apa-apa. Mau bagaimanapun juga, semua sudah terjadi. Aku nggak bisa larut terus-terusan dalam kesedihan ini, Om," ucap Citra.


Felix tidak berkomentar apapun. Dia masih menunggu Citra melanjutkan ucapannya. Itupun jika dia berniat bercerita, batin Felix.


"Kakakku meninggal dua puluh enam hari yang lalu. Mengapa aku sangat kehilangan dia? Itu karena hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki."


"Aku dua bersaudara dengan kakak perempuanku. Orang tua kami sudah meninggal sejak aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sejak saat itu, kakakku lah yang menggantikan tugas kedua orang tuaku untuk mencari nafkah."


"Dia masih sekolah kelas dua belas saat itu. Namun, dia tetap bekerja di tempat fotocopy sambil menerima jasa cuci dan setrika baju. Kami bersama-sama mengerjakan pekerjaan itu dengan harapan bisa mendapatkan sedikit upah untuk menyambung hidup."

__ADS_1


"Kami beruntung karena untuk biaya sekolah, kami sudah mendapatkan beasiswa. Jadi, kami tidak terlalu kesulitan memikirkan biaya sekolah. Kami hanya cukup memikirkan biaya untuk makan."


"Setelah kakak lulus SMK, dia nekat untuk bekerja di Surabaya, sedangkan aku masih harus menyelesaikan sekolah di sebuah kota  di Jawa Timur. Mau tidak mau, aku harus tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tua ku," ucap Citra. Dia hendak melanjutkan cerita, namun Finn sudah mulai merengek minta mimi. Mau tidak mau, Citra segera meraup bayi laki-laki tersebut dan segera memberinya asi.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Finn langsung terdiam. Sementara Citra, menoleh ke arah Felix. Rupanya, Felix masih menunggu kelanjutan ceritanya.


"Om masih mau dengar lanjutan ceritaku?" tanya Citra.


Refleks Felix menganggukkan kepala. Entah mengapa dia menjadi semakin penasaran dengan sosok perempuan di depannya tersebut. Citra membenarkan posisi duduknya dan kembali melanjutkan cerita.


"Setelah sekitar tiga tahun bekerja di Surabaya, kakak pindah kerja di Bali. Dia sana tidak terlalu lama hanya sekitar satu setengah tahun. Dan, setelah itu dia kembali lagi ke Surabaya."


Felix mengerutkan kening bingung. Hingga akhirnya dia memberanikan diri bertanya.


Citra menoleh sebentar ke arah Felix kemudian mendesahkan napas berat.


"Saat di Surabaya, kakak bekerja jadi IRT. Namun saat di bali, dia kerja di kafe."


Felix mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia membiarkan Citra melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Terakhir, kakak menjadi IRT di sebuah keluarga di Surabaya. Aku juga nggak tahu keluarga seperti apa tempat kerja kakak yang terakhir. Kakak sangat tertutup sekali saat itu. Hingga suatu kenyataan terkuak sekitar delapan bulan yang lalu."


"Saat itu, aku sengaja pulang ketika ada libur satu minggu dari kampus. Aku memang tidak memberitahu kakak tentang kepulanganku saat itu. Dan, sebuah kenyataan pahit aku dapatkan saat itu. Kakakku tengah berbadan dua," ucap Citra sambil sedikit terisak.


Kedua bola mata dan mulut Felix langsung terbuka. Dia cukup kaget mendengar penjelasan Citra tersebut.


"Ha-hamil? Kakak kamu sudah menikah?" tanya Felix.


Citra menggelengkan kepala dengan lemah. Terlihat sekali dia sedang terpukul ketika mengingat cerita kehidupan kakaknya.


"Belum. Kakakku belum menikah."


"Lalu, di-dia hamil dengan siapa?"


"Awalnya, kakak tidak mengaku siapa ayah dari bayi yang dikandungnya tersebut. Namun, setelah keesokan hari datang seorang laki-laki, aku baru mengetahui jika dia adalah ayah dari janin yang dikandung kakak."


"Siapa laki-laki itu? Pacar kakak kamu?" Entah mengapa Felix cukup penasaran.


Lagi-lagi Citra menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Bukan. Dia adalah majikan kakak."


"Hah?"


__ADS_2