Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mencicipi Buah


__ADS_3

Nayra langsung berbalik begitu mendapatkan baju yang sesuai dengan keinginan Rainer. Namun, dia langsung mundur saat mendapati Rainer sudah berdiri tegak di belakang tubuhnya.


"Eh, kok sudah ada di sini?" tanya Nayra sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang karena kaget.


"Cckkk. Kamu pikir aku harus menunggu dimana? Di ruang depan?" Rainer memberengut kesal.


"Ya, setidaknya menunggu di luar dulu. Kamarnya sempit, semakin sesak nanti."


"Biarain. Toh nanti juga akan ditempati berdua," ucap Rainer sambil merebut baju yang dipegang oleh Nayra. Setelah itu, dia segera berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Rainer akan mengganti baju di sana.


Melihat hal itu, Nayra hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Dia tidak tahu harus bagaimana bersikap nanti malam. Nayra melirik tempat tidurnya. Cukup besar sih, tempat tidur ukuran queen tersebut masih mampu menampung mereka jika harus berbagi tempat tidur. Namun, Nayra ragu apakah Rainer mau berdesak-desakan tidur di sana, mengingat biasanya suaminya itu tidur di tempat tidur yang empuk dan nyaman.


Setelahnya, Nayra segera bergegas keluar kamar. Dia harus menyiapkan makan malam seadanya untuk Rainer. Jika suaminya itu ngomel, Nayra pasti akan menjawabnya. Salah sendiri tidak ngomong jika mau pulang, batin Nayra.


Tak sampai lima menit kemudian, Rainer sudah keluar dari kamar mandi. Dia langsung berjalan menghampiri Nayra yang sedang menyiapkan makan malam tersebut.


"Masak apa?" tanya Rainer dari balik punggung Nayra. 


Entah disengaja atau tidak, saat itu posisi tubuh Rainer benar-benar menempel pada punggung Nayra. Nayra bahkan bisa merasakan hembusan napas Rainer pada tengkuknya. Dan, hal itu berhasil membuat tubuhnya meremang hebat.

__ADS_1


"Ehm, i-ini ada udang. Maaf aku tidak tahu jika Mas Rain pulang malam ini," jawab Nayra sambil berusaha mengatur degup jantungnya.


"Nggak apa-apa. Aku suka udang," jawab Rainer. Seblum beranjak menuju kursi, Rainer bahkan sempat meninggalkan sebuah kecupan pada tengkuk Nayra sekilas.


Sontak saja Nayra terkejut hingga menjatuhkan sendok yang tengah dipegangnya. Beruntung sendok tersebut hanya jatuh di atas piring yang berada tepat di bawahnya. Dan, hal itu tidak disadari Rainer yang sedang menarik kursi.


Setelahnya, acara makan malam pun berlangsung. Seperti saat sebelum menikah, Nayra sudah terbiasa mengambilkan makanan untuk Rainer. Dan, seperti biasa juga mereka makan malam bersama. Rainer bukan termasuk orang yang suka makan sendirian. Jadi, sudah dipastikan Nayra akan ikut makan malam bersama. Lagi pula, Nayra juga sudah cukup kelaparan.


Tak berapa lama kemudian, makan malam pun selesai. Rainer bergegas ke ruang depan untuk memeriksa ponselnya. Sementara itu, Nayra segera membereskan makan malam tersebut. Setelah semua bersih, Nayra mengambil potongan semangka dan membawanya ke ruang depan. Biasanya, Rainer cukup suka ngemil buah saat sedang bersantai.


"Semangkanya, Mas. Kebetulan kemarin aku beli," ucap Nayra sambil meletakkan piring yang berisi potongan buah semangka tersebut.


"Mau kemana?"


"Ehm, ke belakang dulu," jawab Nayra gugup.


"Sudah selesai kan beres-beresnya?"


"Iya, sudah."

__ADS_1


"Duduk sini dulu. Temenin periksa email." Rainer menarik tangan Nayra agar duduk di sampingnya. Mau tidak mau, Nayra hanya bisa menuruti permintaan Rainer.


Nayra berinisiatif untuk menyuapi Rainer dengan potongan semangka yang sudah dibawanya. Dan, tentu saja Rainer langsung membuka mulutnya saat Nayra menyodorkan sepotong kecil semangka.


Tak sampai lima menit kemudian, Rainer ternyata sudah menutup ponselnya. Kini, dia meraih remote televisi dan menyalakan televisi yang ada di depannya. Seumur-umur, baru kali ini Rainer menonton televisi setelah dia mulai disibukkan dengan aktivitas pekerjaannya.


Entah bagaimana awal mulanya, Rainer semakin menggeser duduknya hingga kini lengan kanannya sudah menempel pada lengan kiri Nayra. Dan, rupanya Nayra tidak menyadari hal itu. Dia masih terus menyuapkan potongan semangka pada mulut Rainer.


Hingga beberapa suap kemudian, Rainer mencegah tangan Nayra yang hendak menyuapkan potongan semangka kembali ke dalam mulutnya. Tentu saja hal itu membuat Nayra terkejut.


"Sudah?" Nayra menatap wajah Rainer yang berada tepat di depannya.


"Hhmm. Tapi aku mau nyicipi buah lainnya," jawab Rainer sambil menatap netra Nayra lekat-lekat.


"Eh, bu-buah apa?"


•••


Buah apa lagi sih, Rain?

__ADS_1


__ADS_2