
Nayra masih menatap ke arah Rainer. Entah mengapa mendadak perasaannya menjadi tidak enak.
"Ka-kamu melihat kami tadi, Mas?" tanya Nayra.
"Hhhmmm."
Nayra mendesahkan napas berat. Sepertinya, gagal sudah tadi usahanya untuk berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Mau tidak mau, Nayra harus menjelaskan semuanya. Jika tidak, maka bisa dipastikan Rainer akan ngomel dan membuat hari-harinya tidak nyaman.
"Tadi, Aaron hanya bertanya kabar, Mas. Selain itu, dia juga bilang jika akan menikah," ucap Nayra.
Kening Rainer berkerut. Hal itu cukup jelas jika dilihat dari arah Nayra. Rainer hanya diam dan fokus pada jalanan di depannya.
"Yakin hanya itu?" tanya Rainer.
"Yakin, Mas. Kami ngobrol juga nggak sampai sepuluh menit."
Hening sejenak. Nayra tahu jika Rainer tengah berusaha menenangkan emosinya. Hal itu terlihat sangat jelas dari tangan Rainer yang mencengkram erat kemudi hingga membuat kuku-kuku jarinya memutih.
"Lalu, ngomong apa lagi dia?" Lagi-lagi Rainer merasa belum puas.
Nayra mendesahkan napas beratnya. Rupanya, Rainer benar-benar tidak akan puas jika Nayra tidak menceritakan semuanya.
"Tadi, Aaron juga bertanya apakah aku bahagia dengan pernikahan ini," ujar Nayra.
__ADS_1
Kali ini, Rainer menoleh sekilas ke arah Nayra. Dia ingin melihat ekspresi istrinya tersebut.
"Lalu, apa jawaban kamu?" tanya Rainer penasaran.
"Tentu saja aku menjawab jika aku bahagia dengan pernikahan ini. Kalau tidak, mana mungkin aku mau menjalaninya," ucap Nayra sambil mengerucutkan bibir.
Rainer tidak memberikan komentar apapun. Namun, Nayra yakin jika suaminya itu sudah mulai sedikit lebih tenang. Hal itu terlihat dari cengkraman jari-jari tangan Rainer pada kemudi sudah mulai mengendur.
"Jangan lagi bertemu dengan laki-laki itu," ucap Rainer.
Nayra melirik sekilas ke arah Rainer sambil mencebikkan bibir.
"Aku sendiri juga tidak mau, Mas. Tapi, aku juga tidak bisa mengelak jika kami tiba-tiba bertemu secara tidak sengaja. Akan sangat tidak sopan jika aku langsung menghindar."
Lagi-lagi helaan napas berat dikeluarkan oleh Nayra. Rasanya, dia ingin menggigit Rainer jika dia sudah mulai mengeluarkan permintaan-permintaan yang membuatnya geram. Berhubung Nayra tidak mau lagi berdebat dengan Rainer hanya karena hal-hal sepele, akhirnya Nayra mengiyakan apa yang diucapkan oleh Rainer.
Perjalanan pulang sore ditempuh sedikit lebih lama dari biasanya. Maklum, jam pulang kantor seperti ini sudah biasa membuat jalanan macet. Hingga menjelang maghrib, Nayra dan Rainer baru saja tiba.
Malam itu, Nayra memasak makan malam seadanya. Dia batal belanja karena ajakan Rainer yang tiba-tiba tadi siang. Beruntung Rainer bukan tipe orang yang tidak terlalu pemilih dalam makanan.
Malam itu, Rainer membuka laptopnya di ruang tengah. Dia memeriksa beberapa pekerjaannya siang tadi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra. Dia harus merekap semua hasil rapat dan beberapa dokumen penting lainnya. Tak jarang Nayra juga menghubungi Resta untuk membahas sesuatu yang memang mereka kerjakan bersama-sama.
Hingga menjelang pukul sepuluh, Nayra sudah mulai membereskan barang-barangnya. Dia berjalan lebih dulu ke kamar untuk mulai membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, Rainer juga tampak menyusul Nayra. Dia berjalan memasuki kamar, saat Nayra hendak merebahkan diri di atas tempat tidur. Setelahnya, Rainer langsung beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Rainer segera menyusul Nayra di tempat tidur. Masih belum ada obrolan lagi di antara mereka. Rupanya, Rainer masih merasa sedikit kesal dengan apa yang terjadi tadi sore.
Melihat tingkah Rainer yang tidak melakukan apa-apa terhadapnya, rupanya Nayra merasa terusik. Sambil membalik tubuhnya hingga menghadap ke arah Rainer, Nayra menatap wajah Rainer lekat-lekat.
"Mas," ucap Nayra sambil menggeser tubuhnya agar menempel pada tubuh Rainer.
"Hhmmm," Rainer bergeming.
"Kamu marah?" tanya Nayra. Dia mengulurkan tangannya dan mulai mengusap-usap dada bidang Rainer.
"Nggak."
"Yakin nggak marah?"
"Hhhmmm."
"Kalau nggak marah, kenapa diam saja? Yakin nggak mau sama tubuhku?" tanya Nayra sambil berusaha menggoda iman Rainer.
Nayra memberanikan diri menyentuh tongkat sakti milik Rainer yang selalu berhasil membuatnya berteriak-teriak hingga kelojotan tersebut. Jangan lupakan juga dadanya yang sudah mulai digesek-gesekkan pada lengan Rainer.
"Nggak, aku capek," jawab Rainer cepat.
"Yakin kamu capek, Mas? Ini sudah sekeras tiang listrik lho," ucap Nayra sambil mulai menyusupkan tangan kirinya ke dalam celana sang suami. Tangan Nayra mulai memanjakan pusaka yang sudah mengeras tersebut dengan memijat, mengurut, bahkan mereemat dengan gemas.
__ADS_1
Hhmmm, apakah Rainer tidak akan tergoda?