
Pagi itu setelah sarapan, mama langsung meminta Rainer dan Nayra untuk bersiap ke rumah sakit. Mama juga sudah membuat jadwal dengan dokter kandungan sesuai rekomendasi dokter Arif untuk memeriksakan kandungan Nayra.
Mama dan Nayra sendiri sepakat untuk tidak memberitahu Rainer tentang kehamilan Nayra. Mereka ingin membuat kejutan untuk Rainer.
Sementara itu, Rainer berpikir jika sang mama memaksa mereka pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya yang memang sering merasa lemas saat pulang kerja. Rainer sama sekali tidak memiliki pikiran aneh saat kedua wanita terdekatnya itu memaksa pergi ke rumah sakit.
"Diantar pak Budi, Ma?" tanya Rainer saat mamanya melarang Rainer mengambil kunci mobil.
"Iya. Kamu jangan sok-sok an nyetir mobil dulu. Kamu juga, Nay," ucap mama Rainer sambil menoleh ke arah Nayra.
Tentu saja Nayra hanya bisa mengangguk pasrah. Di akan menuruti perintah mama Rainer yang sudah lebih berpengalaman. Hingga tak sampai satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan pak Budi sudah sampai di rumah sakit.
Ketiga orang tersebut langsung keluar dan berjalan menuju bagian kandungan. Rainer masih belum menyadari kemana arah tujuan mereka karena masih fokus pada ponsel. Rupanya, dia sedang berbalas pesan dengan Felix yang saat ini sedang berada di Surabaya. Bahkan, Rainer juga langsung menelepon Felix saat itu.
Rainet hanya bisa menurut tanpa perlu repot-repot mengamati sekitar saat tangannya ditarik sang mama untuk memasuki sebuah ruangan periksa. Dia juga hanya menurut saat mamanya meminta Rainer dan Nayra duduk di hadapan seorang dokter wanita senior.
"Selamat pagi bu Aida, apa kabar?" sapa dokter Ayu sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan mama Rainer.
"Selamat pagi, Dok. Kita sudah pernah bertemu beberapa kali, kan?" balas mama Rainer.
"Benar, Bu. Terakhir kali sepertinya tahun lalu di balai kota." Dokter Ayu mencoba mengingat-ingat sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ah, sepertinya iya, Dok." Mama Rainer tak juga mencoba mengingat.
"Baik Ibu, ada yang bisa saya bantu? Sebelumnya, dokter Arif tidak menjelaskan apa-apa kepada saya."
Mama Rainer menoleh ke arah Rainer dan Nayra yang masih diam menunggu obrolan keduanya.
"Oh ini, Dok. Mereka adalah anak dan menantu saya, Rain dan Nayra," Mama memperkenalkan.
Rainer dan Nayra langsung menjabat tangan dokter Ayu sambil memperkenalkan diri kembali.
"Lalu, maksud kedatangan Ibu dan putra putrinya ini untuk periksa atau merencanakan program kehamilan?" tanya dokter Ayu.
"Oh, kami mau periksa, Dok. Kami ingin memastikan keadaan menantu saya. Tadi pagi sih, menantu saya sudah mencoba periksa pakai alat tes. Dan, hasilnya semua positif." Mama Rainer menjelaskan dengan penuh semangat.
Rainer masih cengo saat melihat apa yang akan dilakukan orang-orang di depannya tersebut. Entah mengapa otaknya yang pintar masih belum mampu mencerna apa sebenarnya terjadi.
Rainer masih mengamati apa yang dilakukan oleh dokter Ayu terhadap Nayra. Bahkan, Rainer hanya duduk diam dan tidak melakukan aktivitas apapun. Mama yang melihat sang putra hanya diam, langsung memukul bahu Rainer yang tidak terluka.
Puk.
Rainer sampai terlonjak kaget saat mendapati tepukan sang mama.
__ADS_1
"Apa sih, Ma?"
"Cckkk. Sana, ih. Temenin Nayra. Jangan bengong duduk disini."
Mau tidak mau, akhirnya Rainer berdiri dan berjalan mendekat ke arah Nayra yang sudah rebahan tersebut. Baru saja dia mendekat, dokter Ayu sudah bersuara.
"Waahhhh, selamat Bu Aida, mas Rain, mbak Nayra benar-benar hamil. Usia janinnya sudah sepuluh minggu ini."
"Kyyaaaa! benarkah, Dok?" Mama langsung heboh sendiri.
Hal berbeda justru dialami oleh Rainer yang masih cengo. Dia benar-benar masih belum percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh dokter Ayu.
Apa? Hamil?
Rainer bahkan merasa kesulitan bernapas karena jantungnya mendadak berdegup kencang. Dia bahkan merasa sulit menggerakkan tubuhnya untuk sekedar memberikan pelukan kepada Nayra.
"Benar, Bu. Ini jika dilihat dari ukurannya, usia kandungan mbak Nayra sudah sepuluh minggu. Dan, ini ada dua kantung bayi. Selamat anda akan mendapatkan dua cucu sekaligus bu Aida."
"Apa?! Kembar, Dok?! Waahhh, Rain kamu pakai gaya apa bisa sampai tanam benih doubel begitu. Kyaaaa!"
Alah embuh, Ma. Sepertinya kehebohan masih berlanjut ini.
__ADS_1
Yang masih punya sisa jatah vite, boleh dong kasih othor satu, biar semangat upnya. 🤗