
"I-istri? Kamu sudah menikah, Kak?" Regina langsung menoleh dan menampilkan ekspresi terkejut ke arah Rainer.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Pram. Pram tak kalah terkejutnya saat mendengar ucapan Rainer yang mengatakan sudah memiliki istri. Jika memang benar Rainer sudah menikah, pupus sudah harapannya untuk menjodohkan Rainer dengan Regina. Dan, impiannya untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari keluarga Rainer pun hilang sudah.
"Benar. Rainer memang sudah menikah." Kali ini, bukan Rainer yang bersuara. Tapi, mama Rainer yang menjawab pertanyaan Regina.
"Benarkah? Kak Rain menikah dengan siapa?" Regina melirik ke arah orang tua Rainer dan Nayra bergantian. Dalam hati, Regina berharap dugaannya salah.
Namun ternyata, dugaan Nayra benar setelah mama Rainer kembali bersuara.
"Tuh, istrinya ada tepat di samping Rainer. Nayra. Rainer menikah dengan Nayra." Mama Rainer kembali menjelaskan kepada Regina.
Sontak saja jawaban mama Rainer membuat Regina dan Pram, sang papa, terkejut. Keduanya langsung melayangkan tatapan tidak percaya sekaligus tidak terima ke arah Nayra.
"Nayra? Bagaimana bisa? Dia kan sekretaris kamu, Kak?" Regina protes sambil mengubah posisi duduknya hingga kini menghadap ke arah Rainer.
Mau tidak mau, Rainer menoleh dan menatap tajam ke arah Regina.
__ADS_1
"Memang kenapa tidak bisa? Kami tidak ada hubungan keluarga. Jadi, sah sah saja kami menikah," jawab Rainer.
"Tapi kan, Kak Rain tidak mencintai dia."
"Memang apa salahnya? Menikah kan bukan melulu harus saling mencintai dulu. Yang penting, aku merasa nyaman dengan Nayra. Untuk urusan cinta, bisa datang belakangan seiring berjalannya waktu."
Regina tampak tidak terima. Dia masih terlihat kesal dengan jawaban Rainer.
"Tapi Kak Rain, bukankah Kakak mencintaiku? Kenapa menikah dengan dia?" Regina menuding Nayra dan melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
Ucapan Regina tersebut benar-benar membuat Rainer geram. Dia cukup marah dengan hal itu. Memang, Rainer dulu menyukai Regina. Namun, dia tidak pernah mengatakan hal itu secara langsung. Hanya saja, hampir semua tindakan Rainer terhadap Regina, menunjukkan apa yang dirasakannya.
Tidak terima, kini Regina berdiri dari kursinya dan menatap Rainer dengan sengit.
"Aku bicara yang sebenarnya. Aku tahu jika Kak Rain dari dulu menyukaiku. Jika memang Kak Rain ingin menikah, kenapa tidak menikah denganku saja? Kenapa harus menikah dengan perempuan penggoda seperti dia!" ucap Regina berapi-api.
Mendapati tindakan Regina yang tidak terkontrol, Rainer tidak tinggal diam. Dia langsung berdiri dan balas menatap bengis ke arah Regina.
__ADS_1
"Benar. Aku dulu memang menyukaimu. Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Jika dari dulu aku tahu niat busukmu dan ayahmu, aku tidak sudi memiliki perasaan itu. Dan, saat ini aku benar-benar bersyukur tidak menikah denganmu, dan justru bisa menikah dengan Nayra."
Setelah mengatakan hal itu, Rainer langsung menarik tangan Nayra hingga membuatnya berdiri. Rainer menoleh ke arah kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, maaf kami tidak bisa ikut makan malam. Rasanya eneg jika harus makan malam satu meja dengan para penjjilat," ucap Rainer sambil beranjak pergi. Bahkan, dia sudah menarik tangan Nayra sebelum mama dan papanya menjawab ucapan Rainer.
Rainer berjalan dengan cukup cepat sambil terus menarik tangan Nayra menuju tempat parkir. Di situasi seperti ini, Nayra bahkan tidak berani memprotes ataupun bersuara.
Hingga setelah mereka berada di dalam mobil Rainer, Nayra berani membuka suara.
"Mas…," belum sempat Nayra melanjutkan ucapannya, Rainer sudah lebih dulu bersuara.
"Kita kembali ke hotel. Makan malam di sana saja. Aku ingin mendinginkan kepala atas dan bawahku sesegera mungkin."
"Hah?"
•••
__ADS_1
Maksudnya apa Rain? 🙄