Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Menginap


__ADS_3

Malam itu, Felix meracau tidak karuan karena terpengaruh minuman keras. Awalnya, Rainer hanya diam mendengarkan segala ocehan Felix. Namun, lama kelamaan Felix tidak hanya mengoceh tidak jelas, namun dia juga mulai menjatuhkan beberapa benda yang ada di sekitarnya. 


Tentu saja hal itu membuat Rainer mendesahkan napas kesal. Mau tidak mau, dia segera mengajak Felix pulang. Sambil memapah tubuh sempoyongan Felix, Rainer berjalan dengan kesusahan saat menyeret tubuh sahabat sekaligus asistennya tersebut. Jangan lupakan racauan Felix yang tidak beraturan.


Rainer membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di unitnya. Dia langsung memasukkan kode pintu dan segera membawa Felix masuk setelah pintu terbuka.


Rainer mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Nayra. Namun, dia tidak menemukan Nayra berada di sekitar ruang tengah maupun dapur. Rainer berpikir jika istrinya tersebut sudah berada di dalam kamar.


Setelah tidak mendapati keberadaan Nayra, Rainer langsung membawa Felix ke ruang kerjanya yang dulu pernah ditempati oleh Nayra. Beruntung masih ada tempat tidur di ruangan tersebut.


Setelah merebahkan Felix di atas tempat tidur, Rainer langsung bergegas menuju kamarnya. Tubuhnya terasa lengket dan gerah. Rainer ingin segera membersihkan diri.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka. Rainer melihat Nayra yang sudah bergelung di dalam selimut. Bahu polosnya tampak menggoda Rainer saat itu. 


"Cckkk. Dia pasti memakai baju tidur kurang bahan lagi. Bilangnya tidak mau mancing-mancing 'kail jumbo', eh, malah dia sendiri dengan sengaja mengumpankan tubuhnya," Rainer bergumam sambil masih mengamati sang istri yang sedang terlelap tersebut.


Setelah beberapa saat kemudian, Rainer memutuskan untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama bagi Rainer untuk membersihkan diri. Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, dia sudah terlihat segar dengan tubuh sudah berbalut kaos tipis dan celana boxer pendek.


Rainer buru-buru menghampiri Nayra dan bergabung ke dalam selimut menyusul sang istri. Jangan lupakan tangan kanan Rainer yang sudah mulai menjelajah kemana-mana. Wajahnya pun sudah mulai mengendus-ngendus ke dalam ceruk leher Nayra.


Tak mau kalah, tangan kanan Rainer sudah mulai menjelajah kesana kemari bak gurita. Tangan itu langsung menyusup ke dalam baju tidur tipis yang dipakai oleh Nayra.


"Hhmmhhhh," Nayra mulai merasakan sensasi enak dan nikkmat dalam tidurnya.


Cup. Cup. Cup.

__ADS_1


Ciuman bertubi-tubi di daratkan Rainer pada seluruh wajah Nayra. Tentu saja hal itu membuat Nayra terbangun. Dia langsung mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan mulai menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Astaga, Mas. Kamu mau apa?" tanya Nayra sambil menahan dada bidang Rainer yang kini sudah berada di atas tubuh Nayra.


"Mau ini, ini, dan ini." Rainer langsung menyentuh dua benda kenyal yang ada di dada Nayra, dan bagian inti tubuhnya yang sudah mulai basah tersebut.


"Ehm, ma-mau lagi?" Nayra sudah tampak mupeng saat tangan Rainer tak berpindah dari bagian bawah tubuhnya.


"Hhhmmm. Pasti dong. Aku mau 'ngerem' di sini semalaman," jawab Rainer sambil mulai membuka jalur sempit tersebut dengan kedua jarinya.


"Ehm, 'ngerem' mau menetaskan telur emangnya, Mas?"


Telur apa, Nay?

__ADS_1


__ADS_2