Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mengeksekusi Bayaran


__ADS_3

Nayra langsung mencengkram ujung kabinet di bawahnya untuk menyalurkan rasa yang dirasakan. Dengan mata terpejam dan bibir tergigit, Nayra hanya bisa mendessah sambil mendongakkan kepala.


Rainer masih semangat bekerja dengan giat di bawah sana. Bahkan, dia tidak membiarkan Nayra bergerak. Rainer mencengkram kedua paha sang istri agar tetap berada di posisi semula untuk memudahkannya bekerja.


Lidah Rainer seolah sudah sangat ahli mengobrak-abrik bagian bawah tubuh Nayra. Bahkan, gigitan dan hiisapan Rainer benar-benar mampu membuat Nayra kelujotan tak berdaya.


Tak berapa lama kemudian, Nayra mencengkram rambut bagian belakang kepala Rainer dan menekannya dengan kuat saat gelombang dari dalam tubuhnya terasa ingin meledak.


"Ma-maasshhh." Nayra bahkan tidak kuasa menggerakkan tubuhnya. Tulang-tulang terasa dilolosi satu persatu.


Dengan tubuh yang masih bergetar, Nayra mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Kakinya juga masih belum berhenti bergetar karena sisa-sisa pelepasan yang baru saja dialaminya.


"Bagaimana? Enak?" tanya Rainer sambil beranjak berdiri. 


Nayra hanya menganggukkan kepala sambil menatap sayu wajah suaminya tersebut.

__ADS_1


Rainer terkekeh geli sambil mendekat ke arah Nayra. Kali ini, Rainer kembali menggoda Nayra dengan menggessek-gesekkan kepala rudal alaminya pada lapis lempit milik Nayra yang sudah sangat basah.


"Euuhhmmmm hhhmmmm aaahhhh," racau Nayra. Tubuhnya kembali terasa seperti disengat aliran listrik saat Rainer mencoba menusuk-nusuk di bagian bawah tubuhnya.


"Kenapa? Mau lagi?" Rainer masih sempat-sempatnya menggoda Nayra.


"I-iyaaahhh. Ehhmmmm." Nayra bahkan membuka semakin lebar kedua kakinya dan menahannya agar Rainer bisa dengan mudah menjelajahi bagian bawah tubuhnya.


"Begini?" Lagi-lagi Rainer kembali menggoda Nayra dengan 'menoel-noel' lapis lempit miliknya dengan kepala bawahnya yang memakai 'helm tentara alami' tersebut.


Tiba-tiba, Rainer langsung menghentakkan pinggulnya ke depan hingga membuat Nayra memekik kaget.


"Aarrgghhh, Maaasshhh!" Kedua tangan Nayra langsung memegang lengan atas Rainer dan mencengkramnya dengan kuat. 


Rainer membiarkan rudal alaminya anggrem sebentar di dalam sana. Namun, tak lama kemudian dia mulai menarik ulur rudal alami tersebut hingga membuat Nayra semakin kelojotan.

__ADS_1


Tak tinggal diam, Nayra ikut bergerak bersama dengan suaminya. Suara-suara napas yang bersaut-sautan dan geraman, langsung menggema di dalam kamar mandi tersebut. Rainer benar-benar menagih bayaran kepada Nayra saat itu. Rasanya, nyut-nyutan kepala bawahnya yang sudaj ditahan sejak siang, langsung plong malam itu.


Setelah sekitar tiga puluh menit kemudian, keduanya bisa meledakkan rasa yang menyeruak ingin keluar dari bagian bawah tubuhnya tersebut.


Nayra lagi-lagi terkulai lemas dalam pelukan Rainer. Entah mengapa tubuhnya terasa tak bertulang. Bahkan, Nayra hanya bisa pasrah saat Rainer membopongnya dan membawanya ke bawah pancuran shower. 


Rasa hangat air yang mengucur, langsung dirasakan oleh Nayra begitu Rainer menyalakan shower. Malam itu, Nayra terpaksa harus mandi dua kali karena ulah Rainer. Dalam hati, Nayra hanya bisa berdoa semoga Rainer tidak akan memintah tambahan episode lagi.


Tak berapa lama kemudian, Rainer dan Nayra sudah menyelesaikan acara mandi mereka. Keduanya segera meraih handuk yang ada di dalam rak dan membalut tubuh mereka dengan handuk tersebut.


"Gara-gara kamu aku harus mandi dan keramas dua kali, Mas." Nayra mencebikkan bibir. Dia berjalan keluar kamar mandi sambil membungkus rambutnya dengan handuk.


"Biarin. Nanti di genapi jadi tiga kali. Masih kurang, kok."


"Hah?"

__ADS_1


Sementara itu, Felix yang baru saja mendarat di bandara langsung berjalan terburu-buru menuju taksi yang sudah di pesannya. Malam itu, dia langsung terbang ke Bali setelah mendapatkan izin dari Rainer untuk mengambil cuti. Felix tidak tahu jika kisahnya akan dimulai setelah ini. 🤭


__ADS_2