
"Ma, apa maksudnya ini?" Rainer langsung protes.
"Masih tanya maksud Mama apa? Tentu saja Mama ini menjauhkan Nayra dari kamu. Mama ingin menyelamatkan dia dari laki-laki hidung belang yang suka mengambil kesempatan seperti kamu."
"Mama malu, Rain. Mama malu punya anak seperti kamu yang seenaknya saja memperlakukan anak gadis orang. Kamu pikir Nayra itu perempuan yang tidak punya perasaan? Kamu bukan pacar, bukan juga suami Nayra."
"Kamu seenaknya saja main civoks bibir Nayra. Bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Kamu pikir setelah melakukan semua itu, semuanya akan selesai begitu saja? Tidak, Rain. Tidak segampang itu."
"Mama dan papa tidak pernah mengajari kamu untuk melakukan tindakan yang tidak pantas seperti ini, Rain. Kalau boleh jujur, Mama sangat kecewa kepadamu. Bukannya bertanggung jawab, tapi kamu justru mengelak."
"Jadi laki-laki itu yang dipegang tanggung jawabnya Rain. Jangan seenaknya berbuat dan mengelak begitu saja." Mama Rainer berkata panjang lebar untuk mengungkapkan kekesalannya kepada sang putra.
"Ma, tidak seperti itu." Rainer masih berusaha membela diri.
"Tidak seperti itu bagaimana? Ini saja kamu sudah berani nyivokins bibir Nayra. Jika Mama tetap membiarkan Nayra bekerja di kantor, Mama khawatir bukan hanya satu bibir Nayra yang kamu embat. Tapi bibir yang lainnya juga akan kamu jamah."
Rainer langsung memijat pelipisnya karena terasa nyut-nyutan. Mengapa hanya karena ciiuman semua jadi rumit seperti ini, sih? Tau begini, aku lakukan yang lebih dari ciiuman tadi, batin Rainer.
"Maksud Mama apa, sih? Ini hanya ciiuman, Ma. Bahkan, banyak orang-orang di luar sana melakukan hal itu."
__ADS_1
"Biarkan saja mereka melakukannya. Tapi tidak di keluarga Mama. Mama tidak mau kamu seenaknya saja melakukan hal-hal seperti itu kepada Nayra."
Rainer hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Sedangkan Nayra, sudah mulai berkaca-kaca. Dia sudah bingung harus melakukan apalagi. Dia sudah pasrah saat mama Rainer memecatnya. Nayra sudah merasa gagal memberikan yang terbaik untuk perusahaan.
"Ma, apa tidak ada cara lain? Aku masih butuh Nayra, Ma." Rainer tentu saja merasa berat melepas Nayra.
Rainer hampir selalu bergantung kepada Nayra untuk urusan kantor dan urusan lainnya. Bahkan, Rainer sendiri pun tak jarang mengetahui urusan pribadinya dan justru Nayra yang mengetahui.
"Tidak ada cara lain. Mama tetap akan memecat Nayra menjadi sekretaris dan asisten pribadi kamu." Mama Rianer tampak tegas.
"Ma…," Rainer masih terlihat gusar.
Rainer masih terdiam. Dia sendiri bingung harus melakukan apa.
"Lalu, apa yang akan Mama lakukan kepada Nayra? Mama memecat orang seenaknya begitu," Rainer berusaha mengintimidasi sang mama.
"Mama akan mengajak Nayra untuk tinggal di Australia. Mama akan mencarikan jodoh Nayra di sana. Mama dan Papa sudah menganggap Nayra seperti putri kami sendiri. Selain itu, Mama dan Papa juga ingin menebus perlakuan kamu yang seenaknya kepada Nayra."
Nayra langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah mama Rainer. Kedua bola matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Nayra sama sekali tidak menyangka jika orang tua Rainer sudah menganggapnya anak.
__ADS_1
Rainer cukup terkejut saat mendengar sang mama akan mengajak Nayra pindah ke luar negeri. Apalagi, saat mendengar mamanya itu akan mencarikan jodoh untuk Nayra. Entah mengapa dadanya terasa panas mendengar hal itu.
"Jangan seenaknya mengambil keputusan, Ma. Nayra tidak akan pergi kemana-mana." Rainer langsung menggenggam kembali tangan Nayra yang sempat terlepas tadi.
Tindakan Rainer tersebut tak lepas dari perhatian mamanya.
"Memangnya kenapa? Apa yang mau kamu lakukan Rain?"
Entah apa yang dipikirkan Rainer saat itu. Yang pasti, dia tidak ingin Nayra pergi.
"Aku akan membuat Nayra benar-benar menjadi anak Mama."
"Maksud kamu?" Mama Rainer menatap wajah sang putra dengan kening berkerut.
Rainer balas menatap ke arah sang mama. Entah mengapa dia cukup yakin dengan keputusan yang akan diambilnya.
"Bukankah Mama ingin aku segera menikah, kan? Aku akan menikahi Nayra."
\=\=\=
__ADS_1
Hhmmm, memangnya Nayra mau?