Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Tujuan Yang Sama


__ADS_3

Mendengar jawaban Citra, Felix seketika terdiam. Di kepalanya mulai berisi pemikiran yang tidak-tidak. Entah mengapa dia mulai merasa minder.


"Ka-kamu yakin menolak ajakanku tadi, Cit?" Felix mencoba kembali memastikan pendengarannya. Dia benar-benar masih tidak percaya jika Citra menolak ajakannya untuk menikah.


Felix masih berpikir jika dia yakin akan diterima. Menurut Felix, semua kriteria sebagai calon suami sudah dimilikinya. Ya, meskipun masih ada kurangnya dengan langsung memiliki buntut satu, tapi selebihnya Felix merasa cukup yakin akan diterima. Mulai dari wajah, penampilan bahkan sampai finansial pun Felix bisa diperhitungkan.


Namun, entah mengapa setelah mendengar jawaban Citra, kepercayaan diri Felix yang semula membumbung tinggi, langsung nyungsep. Dia menjadi tidak yakin dengan apa yang dimilikinya hingga membuat Citra menolak ajakannya.


Citra menatap takut-takut ke arah Felix. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Disatu sisi, dia memang cukup tertarik dengan tawaran Felix. Menurut Citra, tidak sulit baginya untuk jatuh hati kepada Felix dengan semua sifat yang dimiliki. 


Namun, disisi lain, Citra juga tidak bisa membohongi hatinya yang cukup tersentil saat mendengar ucapan Felix yang hanya ingin mencarikan mama untuk Finn. Seolah-olah, Citra tidak dibutuhkan untuk menjadi seorang istri.

__ADS_1


"Ehm, bu-bukan begitu sebenarnya, Om. Bagiku, pernikahan hanya sekali seumur hidup sampai maut memisahkan. Aku tidak bisa menjalin hubungan yang sudah dijanjikan dihadapan hukum dan agama, tapi tidak dijalani dengan sungguh-sungguh." Citra menjawab sambil menatap lekat-lekat ke arah Felix.


Kening Felix berkerut saat mendengar jawaban Citra.


"Maksud kamu ajakanku tadi tidak sungguh-sungguh? Kamu berpikir jika aku hanya main-main saja dengan ajakanku tadi?"


Citra tidak menjawab. Dia menatap Felix dengan tatapan ragu-ragu.


"Sedangkan, tujuan pernikahan yang om Felix tawarkan, apakah akan sama dengan tujuan pernikahan yang aku inginkan?" Kali ini Citra berani menatap ke dalam netra Felix.


"Aku menawarkan pernikahan, karena aku ingin mempunyai keluarga yang lengkap. Ada anak dan istri. Menjalani kehidupan dengan saling berbagi baik kebahagiaan atau beban, dan tentunya saling mengayomi di segala situasi. Selain itu, aku juga ingin menjadi orang yang lebih baik. Tidak mungkin aku hanya akan begini-begini saja sampai tua. Aku juga ingin mempunyai bekal nanti jika sudah tiada. Dan, aku ingin menjalani itu semua dengan kamu. Apakah tujuanku ini berbeda denganmu?" tanya Felix.

__ADS_1


Kali ini, entah mengapa Felix benar-benar serius. Tidak tampak keraguan sedikitpun pada ekspresi wajahnya saat mengatakan alasannya kepada Citra. 


Citra masih menatap wajah Felix saat mendengar jawaban laki-laki di depannya tersebut. Citra berusaha mencari kebohongan dari mata Felix, namun usahanya tampak sia-sia. Citra cukup hafal sorot mata Felix jika dia sedang serius. Dan, kali ini Citra menemukan jika Felix memang benar sedang serius.


"Ehm, om Felix hanya mencari mama untuk Finn, atau sekalian juga mau mencari istri?" tanya Citra dengan suara lirih. Meskipun begitu, Felix masih bisa mendengar dengan jelas.


Kening Felix berkerut mencoba untuk memahami ucapan Citra itu. Dan, hingga beberapa saat kemudian Felix baru menyadari kesalahannya.


"Astaga, Cit! Apa kamu berpikir jika aku hanya ingin mencari mama untuk Finn saja dan tidak mencari istri juga?!"


"Eh,"

__ADS_1


__ADS_2