Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Apa Kamu Menyesal?


__ADS_3

Setelah Resta berpamitan, Nayra langsung bergegas membersihkan diri. Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Resta tentang pesan di ponselnya tadi. Nayra tidak ingin membuat Resta merasa tidak nyaman dengan privasinya.


Rainer yang masih belum bersuara sejak kepergian Resta, hanya diam saja sambil menatap ke arah Nayra beranjak. Rainer cukup terusik dengan ucapan Nayra tadi saat mengobrol dengan Resta.


Tak butuh waktu lama, Nayra sudah selesai dengan aktivitasnya membersihkan diri. Dia juga sudah mengganti bajunya dengan baju tidur berlengan pendek dan celana panjang berwarna hitam seperti yang sudah dipakai oleh Rainer sejak tadi.


Nayra berjalan mendekati brankar Rainer dan memeriksa cairan infus Rainer yang sudah hampir habis. 


"Infusnya sudah hampir habis, Mas. Aku akan minta perawat untuk menggantinya sebentar," ujar Nayra hendak beranjak. 


Namun, langkah kaki Nayra terhenti saat tiba-tiba tangan kanannya ditahan oleh Rainer. Tentu saja hal itu membuat Nayra menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rainer.


"Ada apa? Mau sesuatu?" tanya Nayra sambil menelisik wajah Rainer. 


Rainer belum menjawab pertanyaan Nayra. Namun, dia masih menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tampak cukup lelah tersebut.


"Apa kamu menyesal menjadi sekretaris dan istriku?" tanya Rainer tiba-tiba.

__ADS_1


Kening Nayra berkerut saat menatap wajah Rainer.


"Menyesal? Maksud Mas Rain apa?" tanya Nayra bingung.


"Dari ucapanmu tadi, sepertinya kamu menyesal telah menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadiku. Kamu tidak punya banyak waktu untuk diri kamu sendiri."


Nayra yang menyadari ucapannya tadi, langsung mencebikkan bibir. Dia memang dulu sering kali merasa kesal karena tidak memiliki waktu untuk me time. Tapi, semua itu tidak berlaku lagi setelah menikah dengan Rainer. Apalagi, setelah Nayra meyakini perasaannya.


Nayra berjalan mendekat hingga berada di samping Rainer. Sekarang, tanpa malu-malu dan canggung, Nayra bisa langsung mengekspresikan perasaannya. Dia semakin berani menggoda Rainer. Kini, Nayra sudah mencondongkan tubuh hingga wajahnya kini berada tepat di depan wajah Rainer.


"Jujur, dulu memang aku sering merasa kesal saat kamu selalu menyuruhku lembur. Bahkan, saat weekend pun kamu selalu merecoki hari liburku, Mas. Aku selalu kesulitan untuk menyisihkan waktu hang out bareng teman-teman," Nayra mengeluarkan unek-uneknya. Namun, hal itu berbeda sekali dengan ekspresinya yang tampak ceria.


Nayra semakin mendekatkan wajah. Entah mengapa dia menjadi berani seperti itu. Rainer masih diam dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Nayra.


Nayra mendekatkan hidungnya hingga mengenai ujung hidung mancung Rainer. Setelah itu, Nayra menggoda Rainer dengan menggesek-gesekkan hidung mereka.


Entah mengapa hanya seperti itu saja sudah membuat tubuh Rainer kegerahan. Dia yang merasa digoda oleh sang istri, langsung menarik tengkuk Nayra dengan tangan kirinya dan menempelkannya pada bibir Rainer.

__ADS_1


Tentu saja tindakan tiba-tiba Rainer tersebut membuat Nayra terkejut. Nayra hendak mendorong bahu Rainer, namun seketika tersadar jika bahu suaminya tersebut baru saja menjalani operasi. Nayra hanya bisa pasrah saat bibirnya sudah mulai diilumat oleh sang suami.


"Eehmmm, hhmmmmpphhh."


Suara pertemuan dua benda kenyal tersebut langsung terdengar. Bahkan kini, Rainer mulai mendesak dan memaksa Nayra untuk membuka mulutnya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Rainer mulai memainkan lidah sang istri.


Sepasang suami istri tersebut, sudah langsung larut dalam gelora panas dan basah diantara keduanya. Hingga saat keduanya kehabisan napas, Nayra menarik wajahnya menjauh dari sang suami. Napas keduanya langsung memburu saat meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Nay, yang bawah sudah mengacung tegak, tuh," ucap Rainer sambil menarik tangan Nayra agar merasakan apa yang dimaksudkannya.


Sontak saja kedua mata dan mulut Nayra langsung terbuka.


"Apa-apaan sih, Mas. Kamu masih sakit. Baru operasi juga. Kamu nggak boleh banyak bergerak. Harus banyak istirahat dan rebahan saja," jawab Nayra.


Entah apa maksud Nayra, mulutnya mengatakan hal seperti itu, tapi tangannya tidak berpindah dan justru mulai memijat dan mengurut bagian inti tubuh Rainer. Rainer yang mendapati perlakuan Nayra, hanya bisa mendesis dan merem melek.


"A-aku akan tetap rebahan dan diam saja. Kamu yang bergerak dan pegang kendali. Ssshhhh. A-aku akan diam dan pasrah saja."

__ADS_1


🙄


__ADS_2