
Dug dug dug.
Entah suara jantung siapa yang terdengar lebih keras saat itu. Baik Felix maupun Citra, bisa mendengar suara jantung masing-masing yang bertalu-talu. Dan, tentu saja hal itu semakin membuat keduanya gugup.
"A-apa maksud, Om Felix?" tanya Citra dengan suara gugup. Dia masih menatap wajah Felix dengan kening berkerut.
Felix yang ditanya Citra, entah mengapa menjadi semakin gugup. Namun, dia sudah bertekad untuk jujur dengan apa yang dirasakannya. Felix memiringkan tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Citra. Jangan lupakan Finn yang masih berada di tengah-tengah mereka.
"Ehm, seperti yang aku katakan tadi, sepertinya aku mulai jatuh cinta kepadamu, Cit. Kalau boleh jujur, aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Bahkan, dengan kekasihku dulu pun tidak seperti ini," jawab Felix.
Citra masih diam bergeming sambil menatap wajah Felix. Tangannya juga masih menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut agar tidak terlalu terekspos di depan papa Finn tersebut.
__ADS_1
"Me-merasakan apa?" Citra masih gugup saat bertanya.
Felix berusaha mengatur degup jantungnya yang masih menggila sebelum menjawab pertanyaan Citra. Dia sendiri masih bingung mengapa bisa seperti ini terhadap Citra. Bahkan, dengan kekasih-kekasihnya yang dulu pun dia tidak sampai merasakan hal seperti ini.
"Jujur, aku cukup resah jika tidak bertemu atau mendengar suaramu dalam waktu lama. Aku sering memikirkan tentang apa yang sedang kamu lakukan, buku apa yang sedang kamu baca, film apa yang sedang kamu tonton di ponsel, bahkan aku sering merasa kesal jika kamu senyum-senyum sendiri saat berbalas pesan. Entah mengapa aku bisa seperti itu. Mungkin, itu yang dimaksud dengan cemburu," ujar Felix.
"Cemburu?" ulang Citra. Dia benar-benar terkejut saat Felix mengatakan kata itu.
"Ya. Aku sangat yakin jika sedang cemburu. Awalnya, aku tidak tahu dan tidak menyadari apa yang aku rasakan. Tapi, sejak kemarin Finn di rumah sakit, rasa itu semakin besar. Apalagi, saat kamu berbicara dengan santainya saat dokter atau perawat laki-laki datang berkunjung."
"Mungkin kamu tidak menyadari seberapa manis senyum kamu saat berbicara dengan mereka. Aku yang melihatnya, langsung merasa kesal. Ingin sekali aku mencongkel mata para laki-laki itu yang telah bisa melihat senyum kamu. Aku benar-benar kesal. Dadaku terasa panas dan aku selalu ingin marah saat itu," ucap Felix dengan napas memburu. Terlihat sekali dia berusaha menahan kesal saat menceritakan apa yang dirasakannya saat itu.
__ADS_1
Citra hanya bisa melongo saat mendengar ucapan Felix. Dia benar-benar tidak menyangka jika Felix bisa merasakan hal seperti itu. Citra jadi memutar kembali ingatannya beberapa hari yang lalu saat di rumah sakit.
Dari pengakuan Felix, sepertinya pertanyaan-pertanyaan Citra mulai terjawab tentang tingkah aneh Felix saat dokter dan perawat Finn yang berjenis kelamin laki-laki datang. Saat itu, Felix selalu menempel dangan Citra. Bahkan, Felix tidak ragu-ragu memeluk bahkan pernah sekali mengecup pucuk kepala Citra.
Tentu saja saat itu Citra tidak bisa langsung protes karena ada dokter di sana. Dia hanya bisa menahan kaget sekaligus kesal karena ulah Felix tersebut. Dan penjelasan Felix barusan, akhirnya bisa menjawab alasan Felix yang bertingkah aneh saat di rumah sakit.
"Ja-jadi, apa karena itu kemarin saat di rumah sakit, om Felix memeluk bahkan menciumku saat ada dokter dan perawat?" tanya Citra.
"Hhmmm. Awalnya, aku tidak sadar mengapa aku melakukan hal seperti itu. Tapi, setelah aku berusaha mengelak apa yang aku rasakan, hatiku semakin sakit. Dan, aku benar-benar menyerah. Aku tidak bisa jika terus-terus mengabaikanmu. Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu, Cit."
Akhirnya, bisa up lagi. Maafkan othor kemarin masih ada kerjaan akhir tahun. Semoga setelah ini othor bisa agak sering up. Terima kasih yang sempat kasih vote, like dan komen buat babang Felix.
__ADS_1