Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Tamu tak Diundang


__ADS_3

Felix masih menatap wajah bayi laki-laki yang sudah terlelap tersebut. Bahkan, dengan kikuk, Felix masih berusaha untuk menggerakkan tubuhnya agar tidak membangunkan bayi laki-laki itu.


Setelah mengucapkan terima kasih, Felix segera beranjak keluar dari rumah sakit. Bukan untuk kembali ke apartemennya, namun Felix justru berbelok dan melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke arah taman yang berada di bagian samping rumah sakit tersebut.


Setelah menemukan tempat yang cukup sepi dan sejuk, Felix langsung buru-buru menghampiri tempat tersebut. Ada sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu berada tepat di bawah sebuah kanopi. Di dekatnya ada beberapa tanaman hias yang tumbuh dengan subur.


Begitu mendudukkan diri di sana, Felix tak mengalihkan pandangannya pada wajah bayi laki-laki mungil yang sedang terlelap tersebut. Ingatannya melayang pada kejadian semalam setelah dirinya kembali dari makan malam di luar.


Flashback on.


Saat makan malam, entah mengapa perasaan Felix menjadi tidak enak. Tidak biasanya dia merasa gelisah dan ingin sekali pulang. Padahal, saat itu masih menunjukkan pukul 19.48, waktu yang masih cukup sore bagi Felix.


Malam itu, Felix memang sengaja makan malam disebuah restoran yang hanya berjarak sekitar sepuluh menit dari apartemennya. Dan, ketika makan malamnya sudah habis, Felix memutuskan untuk langsung pulang. 

__ADS_1


Berhubung saat itu Rainer sedang mengurusi perusahaan keluarganya, bisa dipastikan Felix yang harus membantu Rainer mengurus perusahaannya sendiri. Ketika jam pulang kantor selesai tadi sore, Felix pun segera bergegas keluar dari kantor hingga berada di tempat tersebut.


Tak sampai lima belas menit kemudian, Felix sudah berada di dalam lift menuju unit apartemennya. Lagi-lagi, perasaan tidak nyaman pun dirasakannya saat itu.


Ting.


Bunyi pintu lift yang mengangkut Felix pun terbuka setelah kotak besi tersebut berhenti. Felix langsung keluar dari sana dan berjalan menuju ke unit apartemennya yang berada di bagian paling ujung sebelah timur dari lift.


Felix tidak menemukan tanda-tanda orang berada di lorong tersebut. Mungkin, para penghuni apartemen tersebut tengah menikmati santapan makan malam mereka. Entah itu diluar, atau di dalam apartemen.


Karena tubuhnya cukup terasa lengket, Felix langsung menuju kamarnya untuk melepas seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya. Setelah itu, dia bergegas mandi.


Tak butuh waktu lama bagi Felix untuk mandi, hanya sekitar sepuluh menit dia sudah selesai dengan aktivitas bersih-bersihnya. Setelah itu, Felix langsung mengambil kaos putih kesukaannya dan juga celana boxer yang cukup nyaman jika dipakai untuk tidur. Entah mengapa malam itu Felix ingin sekali tidur dengan cepat.

__ADS_1


Begitu selesai berganti baju, Felix berniat untuk mengisi daya baterai ponselnya. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara bel dari arah pintu depan.


Felix sempat bertanya-tanya siapa yang datang berkunjung malam-malam begitu. Pasalnya, Felix sendiri tidak merasa ada janji dengan seseorang. Namun meskipun begitu, Felix tetap melangkahkan kakinya menuju pintu.


Ceklek.


Felix membuka pintu apartemennya. Dan, begitu pintu tersebut terbuka, pemandangan pertama yang dilihat oleh Felix adalah sebuah keranjang bayi dan tas bayi berukuran jumbo.


Kening Felix berkerut saat melihat ada bayi di depan unit apartemennya. Felix celingak-celinguk untuk memastikan apa ada orang di sana. Namun, nihil. Tidak ada seorangpun yang terlihat di sana.


Awalnya, Felix hendak mengabaikan bayi yang tengah memainkan ibu jarinya tersebut. Namun, netra Felix tidak sengaja menangkap sebuah surat yang terselip di dekat kantong pada keranjang bayi tersebut.


Dengan rasa penasaran, Felix mengambil amplop tersebut. Dia segera membukanya untuk melihat siapa yang sudah meletakkan bayi mereka di depan unit apartemennya.

__ADS_1


Kedua bola mata Felix langsung membesar saat membaca isi surat tersebut. Apalagi, pada kalimat yang terletak di bagian bawah surat tersebut.


'Jika kamu laki-laki yang bertanggung jawab, rawat anak kamu ini. Dia sudah tidak punya ibu karena meninggal saat melahirkannya. Aku mengawasimu Felixian Andro Hariwijaya.'


__ADS_2