Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Hujan Datang


__ADS_3

Tangan Finn yang aktif bergerak-gerak hingga menyenggol gayung berisi air yang diletakkan di dekat bak mandinya. Alhasil, gayung berisi air tersebut tumpah mengenai lutut Felix hingga membasahi celana dan sepatunya. Sontak saja Felix langsung berdiri karena kaget.


"Astaga! Celana dan sepatuku basah!" Pekik Felix. Dia langsung beringsut mundur dengan tatapan mata masih pada celana dan sepatunya yang basah. Felix bahkan tidak menyadari jika suaranya yang sedikit tingga tersebut membuat Finn kaget.


Alhasil, bayi laki-laki tersebut langsung menangis dengan kencang karena kaget. Karena tangisan tersebut, Felix dan Citra tak kalah terkejutnya. Citra segera mengangkat tubuh Finn dan dipakaikan handuk. 


"Cup, cup, cup, Sayang. Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Papa bisa ganti celana dan sepatu baru lagi," ucap Citra berusaha membujuk agar Finn berhenti menangis. Padahal, Finn tentu saja belum bisa mengerti ucapan Citra tersebut.


Felix juga sempat khawatir saat melihat tangisan Finn yang cukup kencang tersebut. Dia buru-buru berjalan untuk menghampiri Citra yang masih menggendong Finn tersebut.


"Sini, biar aku yang gendong dulu," pinta Felix sambil mengulurkan tangannya.


Citra menoleh ke arah Felix sambil masih mengusap-usap punggung Finn.


"Tapi nanti Om terlambat ke kantor," ucap Citra sambil melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 07.38.

__ADS_1


"Sudah, biarkan saja. Nggak apa-apa aku terlambat ke kantor. Atasanku tidak akan berani marah," ucap Felix.


Citra masih mengerutkan kening mendengar ucapan Felix. Namun, dia tetap memberikan Finn kepada laki-laki tersebut.


Awalnya, Finn masih menangis dengan kencang. Namun, beberapa saat kemudian, dia bisa sedikit lebih tenang saat Felix mengajaknya ke balkon. Bahkan, kini Finn sudah mulai tertawa saat Felix memberikan beberapa kecupan pada perutnya yang masih polos tersebut.


Citra berjalan mendekat ke arah Felix yang sedang duduk sambil memangku Finn tersebut. Dia membawakan pakaian dan keperluan Finn untuk berpakaian.


"Biar aku pakaikan baju dulu, Om. Kasihan nanti masuk angin," ucap Citra.


Setelah berganti pakaian, Felix segera berpamitan kepada Citra. Dia harus bersiap ke kantor karena hari ini Rainer akan ke kantor. Bisa dipastikan sahabat sekaligus bosnya itu pasti akan marah-marah karena beberapa hari ini dia sengaja tidak mengangkat panggilan teleponnya. Bahkan, beberapa pesan dari Rainer pun sengaja tidak dibaca dan dibalas.


"Aku ke kantor dulu. Nanti sore, bersiap-siaplah kita akan belanja kebutuhan Finn. Sebaiknya, mulai sekarang kamu menuliskan barang apa saja yang harus dibeli untuk kebutuhan Finn," ucap Felix.


Citra hanya bisa menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Iya, Om."


"Aku pergi dulu. Jika ada apa-apa, segera telepon."


"Iya."


Setelah itu, Felix segera berangkat. Dia sengaja tidak berpamitan kepada Finn agar putranya tersebut tidak mencari-carinya lagi.


Sepanjang perjalanan, Felix sempat memikirkan untuk memberitahu Rainer tentang permasalahannya. Selain itu, dia juga membutuhkan bantuan Rainer untuk mencari tahu siapa ibu Finn sebenarnya. Felix rasa, bukan hal sulit untuk melakukan hal itu bagi Rainer.


Pagi itu, Felix datang sedikit terlambat ke kantor. Dia sudah melihat mobil Rainer terparkir rapi di tempat parkirnya. Sebelum melangkahkan kaki, Felix sempat menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan untuk menenangkan diri.


"Sepertinya, kali ini bukan hanya hujan saja yang datang. Tapi, akan ada gluduk, kilat, bahkan badai," ucap Felix sambil melangkahkan kaki menuju lobi kantor.


Ayo loh, tinggalkan jejak biar rame. 🤗

__ADS_1


__ADS_2