Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Melepaskan


__ADS_3

Malam itu, Nayra dan Rainer makan malam bersama dengan orang tua Rainer. Mereka bahkan mengobrol tentang banyak hal setelah selesai makan malam. Dan, yang menjadi topik pembahasan, adalah cucu.


Mama Rainer sangat antusias ketika membahas tentang cucu. Bahkan tanpa merasa malu, mama Rainer memberikan beberapa tips agar bisa segera mengandung. Tentu saja hal itu membuat Nayra canggung dan salah tingkah.


Hingga menjelang pukul sepuluh malam, mau tidak mau mereka harus segera pulang. Rainer dan Nayra pun langsung berpamitan dan bergegas pulang.


Di sepanjang perjalanan, Nayra dan Rainer masih asyik mengobrol tentang beberapa hal. Pembahasan keduanya, tak jauh dari masalah pekerjaan. Hingga tak terasa mobil Rainer sudah memasuki basement.


Setelah memarkirkan kendaraan, Rainer dan Nayra segera bergegas keluar dari mobil dan berjalan menuju unit mereka. Namun, langkah kaki Rainer terhenti saat melewati sebuah mobil yang sudah sangat dikenalnya tersebut.


Nayra yang melihat langkah kaki suaminya terhenti, langsung ikut menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa, Mas?" tanya Nayra.


"Ini mobil Felix. Sepertinya, dia ada disini," jawab Rainer sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. "Aku coba hubungi dia dulu," lanjut Rainer.


Setelah itu, Rainer langsung menekan nomor ponsel Felix dan menghubunginya. Cukup lama panggilan Rainer tersebut tidak diangkat oleh Felix. Hingga pada dering ke empat, panggilan tersebut sudah bisa terhubung.

__ADS_1


"Hallo, Rain?" sapa Felix di seberang sana.


"Lo dimana?"


"Gue di bar apartemen lo," jawab Felix dengan suara serak. Sepertinya, Felix sudah mabuk dan mulai hilang kesadaran.


"Jangan kemana-mana. Gue kesana sekarang."


Tut. Tanpa menunggu jawaban dari Felix, Rainer langsung menutup panggilan telepon tersebut.


Nayra yang sejak tadi masih berdiri di samping Rainer, hanya diam sambil memperhatikan aktivitas sang suami.


"Iya, Mas. Jangan ikut-ikutan minum tapi," Nayra langsung berpesan sebelum Rainer beranjak.


"Cckkk. Iya. Kamu kan paling tidak suka bau alkohol. Bisa rugi bandar nanti jika nggak dapat jatah civoks." Rainer menjawab dengan ekspresi santai.


Mendengar ucapan Rainer, Nayra hanya bisa mencebikkan bibir. Setelah itu, dia dan Rainer berpisah. Nayra kembali ke unitnya, sementara Rainer pergi ke bar.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Rainer sudah menemukan keberadaan Felix. Sahabatnya tersebut sedang duduk sambil menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangan yang dilipat. Rainer segera berjalan menghampiri sahabatnya tersebut.


"Lo, nggak apa-apa, Lix?" tanya Rainer sambil menepuk bahu Felix.


Seketika Felix mendongakkan kepala dan menoleh ke arah Rainer. Tatapan wajahnya sudah terlihat sangat lelah. Mungkin, Felix sedang menghadapi masalah yang cukup berat.


"Gue ada masalah, Rain," ucap Felix sambil kembali meneguk minuman yang masih ada di depannya.


"Kalau ada masalah itu di cari jalan keluarnya, bukan begini caranya. Minum-minum bukannya bisa menyelesaikan masalah tapi justru menambah masalah," tutur Rainer.


"Gue sudah berusaha mencari solusi dari masalah gue, Rain. Tapi, gue bener-bener nggak tahu lagi harus bagaimana. Rasanya, gue sudah capek. Gue mau lepas saja semuanya, Rain. Capek gue," ucap Felix yang sudah mulai terlihat efek dari minumannya.


"Lo mau lepas apaan, dah? Baju? Lo masih waras, kan?" Rainer masih sempat-sempatnya mencandai sahabatnya tersebut.


"Cckkk. Gila, lo. Gue mau lepas baju di depan lo? Ogah. Gue juga masih normal Rain. Jijay gue," ucap Felix kesal sambil menatap wajah Rainer.


"Terus lo mau lepas apa?"

__ADS_1


"Monic. Gue mau lepasin dia."


"Serius lo?"


__ADS_2