
Setelah acara peluk-pelukan dan tangis haru, kini Nayra dan mama Rainer sedang bercerita di ruang tengah. Mereka bahkan sudah asyik duduk berdampingan sambil menonton televisi. Jangan lupakan makanan camilan yang ada dipangkuan mereka masing-masing.
Nayra bersyukur dia sempat belanja tadi. Jika tidak, bisa dipastikan dia akan merasa malu kepada mertuanya tersebut.
Lalu, dimana Rainer berada? Ya, Rainer sedang berkutat dengan pekerjaannya. Kantornya sendiri sedang ada beberapa hal mendesak yang membutuhkan perhatiannya. Jadi, sejak sekitar satu jam yang lalu, Rainer sudah berada di depan komputer di meja kerjanya yang menghadap ke arah balkon.
Dia masih bisa mendengar sayup-sayup obrolan Nayra dan sang mama di ruang tengah. Suara televisi pun juga masih bisa di dengarnya. Sejauh ini, Rainer cukup bersyukur ketika mengetahui mamanya merestui pernikahannya dengan Nayra.
Namun, ada satu hal yang membuat Rainer sedikit frustasi. Mamanya itu ingin Rainer melakukan semua prosesi pernikahan dengan benar. Mulai dari acara lamaran, pertunangan, siraman, hingga resepsi pernikahan. Dan, hal itu cukup berhasil membuat Rainer stress.
"Mama menginap disini, kan?" tanya Nayra sambil menoleh ke arah sang mertua. Ciee, sudah punya mertua nih sekarang. Beruntung banget sih, Nay.
__ADS_1
"Kamu mau Mama menginap di sini, Sayang?" tanya mama Rainer. Wajahnya tampak sangat bahagia. Maklum, wanita berusia lebih dari lima puluh tahun tersebut memang menginginkan menantu yang bisa diajaknya berbagi cerita. Dan yang pasti, mama Rainer juga ingin segera menimang cucu.
Secepat kilat Nayra menganggukkan kepala. Sebuah senyuman juga langsung terbit di bibir Nayra. Tentu saja dia akan sangat bahagia jika mertuanya itu akan menginap di penthouse Rainer. Namun, kebahagiaan itu langsung pupus setelah Rainer tiba-tiba beranjak duduk di samping mamanya dan menanggapi ucapan mamanya tersebut.
"Kamar di sini hanya dua, Ma. Jika Mama menginap, Mama mau tidur dimana? Mama kan tahu meskipun kami sudah menikah, kami masih membutuhkan waktu untuk saling beradaptasi," ucap Rainer.
Mendengar hal itu, sontak saja mama Rainer langsung menjewer telinga putranya tersebut. Jangan lupakan tatapan kesalnya langsung tertuju pada putra semata wayangnya tersebut.
"Kamu itu sudah S2, tapi kenapa isi kepala kamu tidak lebih baik anak TK, hah?!" Mama Rainer masih menjewer telinga Rainer.
"Malu sama siapa? Malu sama Nayra?"
__ADS_1
"I-iya."
"Ccckkk. Di jewer begini saja merasa malu. Apa kabar kemarin nyosorin Nayra mulu. Nggak malu kalau yang itu?" Mama Rainer melepaskan tangannya dari telinga Rainer sambil mendengus kesal.
"Ya, itu beda, Ma." Rainer masih meringis sambil mengusap-usap telinganya.
Nayra yang melihat hal itu, sebenarnya tidak merasa asing. Hampir setiap saat ibu dan anak tersebut selalu berdebat. Rainer yang selalu keras kepala, sementara sang mama yang selalu meminta putra semata wayangnya itu untuk melakukan hal-hal yang terkadang tidak disukainya. Seperti, melakukan kencan buta atau menjodohkan langsung Rainer dengan kenalan mamanya.
Dan, hal itu cukup membuat Rainer merasa kesal hingga memilih keluar dari rumah utama dan tinggal di penthouse.
"Dasar laki-laki tidak peka kamu itu, Rain. Jika mau beradaptasi, seharusnya kalian itu menempel. Bukannya malah pisah kamar begini. Bagaimana Mama mau cepat punya cucu jika kamar kalian masih tetanggaan begini? Atau jangan-jangan, kalian mau ngasih Mama bayi tetangga?"
__ADS_1
\=\=\=
Bagaimana ceritanya itu bayi tetangga, Ma?