Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Memasak


__ADS_3

"Lagi sibuk, Nay?" tanya Linda dari seberang sana.


"Nggak, sih. Lagi masak aja. Ada apa? Kok tumben telepon jam segini?"


"Ehm, aku baru dapat telepon dari bibi."


Kening Nayra berkerut. Tidak biasanya Linda menceritakan bibinya. Biasanya, memang Linda hanya menceritakan tentang orang tuanya. Sambil berjalan kembali menuju kompor, Nayra kembali bertanya.


"Bibi? Kok tumben. Ada apa memangnya, Lin?" tanya Nayra sambil kembali menyalakan kompor. Nayra harus melanjutkan masakannya agar cepat selesai. Dia tidak mau jika Rainer sampai merengek karena lapar. 


"Ehm, ceritanya panjang, Nay. Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Suara Linda terdengar sedih dari seberang sana.


Nayra yang sudah cukup lama mengenal Linda, merasa khawatir. Pasalnya, Nayra tahu jika Linda adalah tipe orang tidak gampang diintimidasi. Dan, dia cukup berani menghadapi orang-orang yang sekiranya julid terhadapnya.


"Kamu bisa mulai cerita dari alasan bibi kamu menelepon, Lin." Nayra masih berbicara sambil mengoreksi rasa masakannya. Kini, dia hanya tinggal menunggu masakan ayamnya matang.


Bukannya menjawab pertanyaan Nayra, Linda justru mendesahkan napas beratnya. Nayra bahkan bisa mendengar hembusan napas berat sahabatnya tersebut.


Ketika Nayra sedang fokus pada masakannya sambil menempelkan ponsel di telinga, dia tidak tahu jika Rainer berjalan mendekat ke arahnya. 


Posisi Nayra yang saat itu tengah membelakangi pintu, tidak mengetahui kedatangan Rainer. Dia bahkan tidak tahu jika sejak tadi Rainer tengah menatapnya dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Rainer berjalan mendekat ke belakang tubuh Nayra. Begitu Rainer berada di belakang tubuh Nayra, dia langsung melingkarkan kedua tangannya pada bagian depan tubuh istrinya tersebut. Tidak hanya memeluk, tapi Rainer sudah langsung meeremaassnya dengan gemas.


Tentu saja tindakan tersebut membuat Nayra langsung kaget. Dia hendak berbalik tapi Rainer justru menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Nayra. Jangan lupakan tangan nakalnya masih sibuk meg meg uyel uyel bagian kenyal favoritnya tersebut.


Akibat tindakan Rainer tersebut, Nayra langsung lupa dengan telepon Linda. Dia bahkan masih menempelkan telepon pada telinganya saat bibirnya mulai meracau tidak karuan.


"Aaahhh, ehhmmm, Maassshhh. Ouuggghhh." Nayra langsung mengeluarkan suara horor yang dapat didengar secara langsung oleh Linda. Nayra bahkan tidak sadar dengan suaranya tersebut.


Bukannya berhenti, Rainer justru semakin bersemangat. Dia bahkan sudah menyusupkan kedua tangannya di balik kaos yang dipakai oleh Nayra. Tanpa menunggu aba-aba, Rainer langsung memelintir dan mencubit gemas setelah menemukan bulatan kecil nan menggemaskan milik istrinya tersebut.


"Aaahhhh, oouuhhhh. Ja-jangan di tarik, ih. Eehhmmmhhh." Nayra masih meracau tidak karuan. Dia benar-benar lupa jika teleponnya masih menempel di telinga.


Linda yang di seberang sana pun tersadar dengan suara aneh yang dikeluarkan oleh Nayra. Seketika otaknya sudah berkelana ke adegan emah emahan yang biasa dilakukan oleh suami istri.


Tubuh Nayra yang sudah terasa panas, seketika merasa seperti tengah di guyur air es satu timba penuh. Dia langsung gelagapan sambil berusaha menghindar dari godaan Rainer.


"Eh, Lin. Ehm i-ini tadi, itu, a-anu…," Nayra mendadak bingung harus menjawab apa.


Belum sempat Linda menyahuti ucapan Nayra, terdengar suara berat Rainer dari belakang Nayra.


"Lanjutkan saja ngobrolnya besok. Aku mau menikmati makan malamku," ucap Rainer sambil mengambil ponsel Nayra. Seketika dia mematikan panggilan telepon Linda dan melemparkan ponsel tersebut di atas meja.

__ADS_1


Nayra yang melihat tingkah Rainer tersebut langsung mendelik tajam. Dia tidak terima jika suaminya itu berbuat seenaknya saat dia sedang menelepon sahabatnya.


"Apa-apaan sih, Maeemmmhhh eehhmmm eehmmmmpphh." 


Belum sempat Nayra menyelesaikan protesnya, Rainer sudah langsung membungkam bibir istrinya tersebut. Tak tinggal diam, tangan Rainer mulai menyusup dibalik rok Nayra dan mulai menjelajah penutup pintu gua alami istrinya tersebut.


Dan, tidak membutuhkan waktu lama, Rainer sudah menemukan jalur utama menuju pintu gua tersebut. Tanpa aba-aba, Rainer langsung menyusupkan jarinya di sana hingga membuat si pemilik gua menjerit tertahan.


"Aaakkhhh, Maassshhh sshhhh." Nayra sudah langsung bereaksi dengan menempelkan tubuhnya pada tubuh Rainer.


Kepalanya langsung mendongak dengan tubuh semakin merapat. Refleks kedua kaki Nayra sedikit terbuka untuk memudahkan akses pada tangah Rainer.


Nayra yang yang sudah ikut terpancing dengan tindakan Rainer, sampai tidak menyadari jika tangan kanan Rainer terulur untuk mematikan kompor. Rupanya Rainer sempat melihat jika masakan Nayra sudah matang.


Ceklek.


Suara kompor yang dimatikan dapat didengar oleh Nayra. Dia seketika membuka kedua matanya dan menatap wajah Rainer dengan kening berkerut.


"Kenapa dimatikan?" tanya Nayra dengan wajah masih mupeng.


"Kamu keenakan di cubit-cubit sampai tidak menyadari jika masakanmu matang. Jangan-jangan besok tidak sadar ada gempa karena keenakan di goyang?" 

__ADS_1


"Eh, i-itu…,"


Yang masih punya jatah vote, bagi satu untuk Rainer dan Nayra, ya. Terima kasih. 🤗


__ADS_2