
Nayra semakin takut saat mama Rainer menatap tajam ke arahnya. Namun, dia memberanikan diri menganggukkan kepala.
"I-iya, Nyonya." Nayra menundukkan kepala. Rasa hatinya sudah campur aduk semuanya. Entah mengapa dia benar-benar takut jika orang tua Rainer menentang pernikahannya. Bisa-bisa, Nayra dan Rainer akan dipaksa untuk berpisah. Padahal, mereka bahkan belum ngapa-ngapain.
"Cckkk. Kamu sudah memanggil Rainer dengan panggilan 'Mas', berarti kamu sudah mengakui dia sebagai suami kamu, Nay. Tapi mengapa kamu justru memanggilku dengan panggilan 'Nyonya'? Apa kamu hanya mau menikah dengan Rainer tapi tidak menganggapku sebagai mertua kamu?" Mama Rainer menatap tajam ke arah Nayra.
Tentu saja Nayra langsung terkejut setelah mendengar pertanyaan mama Rainer. Kedua bola mata dan mulutnya langsung terbuka. Entah bagaimana rasanya perasaan Nayra saat itu.
"Ti-tidak seperti itu." Nayra menggelengkan kepala.
"Lalu seperti apa?"
"Ehm, i-itu…," Nayra sendiri bingung harus menjawab apa. Dia menoleh ke arah Rainer dengan kening berkerut.
Tanpa diduga, tiba-tiba mama Rainer langsung beranjak dari kursinya. Beliau berjalan mendekati Nayra dan langsung memeluk menantu barunya tersebut. Tak lupa juga mama Rainer mencium kedua pipi Nayra dengan perasaan bahagia.
Ya, mama Rainer sebenarnya bukan marah karena putranya menikahi Nayra secara mendadak. Mama Rainer hanya kecewa kepada putranya tersebut karena memberikan pernikahan yang sangat biasa untuk Nayra.
__ADS_1
Mendapati tindakan tiba-tiba sang mama, Rainer cukup terkejut. Hal itu juga dirasakan oleh Nayra yang saat ini masih berada di dalam pelukan mama Rainer.
"Ma-maksudnya apa ini, Ma?" Kali ini Rainer yang bertanya. Dia sudah menggeser tubuhnya sedikit menjauhi Nayra.
Mama Rainer melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah sang putra.
"Masih tanya apa maksud Mama? Kamu ini memang benar-benar mirip papa kamu, Rain. Laki-laki yang tidak peka dan tidak romantis sama sekali. Dikiranya perempuan hanya bisa nurut dan mengiyakan semua keputusan para laki-laki apa?!" Mama Rainer masih menatap kesal ke arah putranya tersebut.
"Bu-bukan begitu, Ma."
"Bukan begitu apa? Kenyataannya sudah ada. Kamu masih mau mengelak? Bisa-bisanya kamu memberikan pernikahan biasa pada menantu Mama. Kamu ini benar-benar ya, Rain!"
Mama Rainer yang melihat ekspresi bingung pada wajah Nayra, seketika beliau langsung mengubah ekspresi wajahnya. Ditangkupnya kedua pipi Nayra tersebut sambil mengulas senyuman hangatnya.
"Maaf jika kamu jadi takut, Nay. Mama bukannya marah sama kamu karena telah menikah dengan Rainer. Mama justru sangat bahagia. Hanya saja, Mama merasa kesal karena Rainer hanya memberikan pernikahan sederhana kepada kamu," ucap mama Rainer sambil masih tersenyum.
Nayra yang masih terkejut pun hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Ma-maksudnya?" Cicit Nayra.
Mama Rainer tersenyum sambil menarik Nayra ke dalam pelukannya kembali.
"Mama sangat bahagia akhirnya Rainer mau menikah, Sayang. Apalagi, dia menikah dengan kamu. Mama sangat bersyukur impian Mama bisa terwujud." Mama Rainer mengusap-usap punggung Nayra.
Tubuh Nayra masih terasa tegang. Dia bahkan tidak berani membalas pelukan mama Rainer.
"Ma-maksudnya apa, Nyonya? Sa-saya belum mengerti."
Secepat kilat mama Rainer melepaskan pelukannya dan menatap wajah bingung Nayra lekat-lekat.
"Kamu sudah menjadi menantu ku, Nay. Jangan memanggilku 'Nyonya' lagi. Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri memanggilku mama dan juga memanggil papa pada papanya Rainer."
"Hah?"
\=\=\=
__ADS_1
Dimaklumi saja ya, Nayra nya masih sekookk. Kaget dianya. 🤭