Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mau Aku Temani?


__ADS_3

Ketika Nayra sedang menerima panggilan telepon, netra Rainer tak henti-hentinya menatap ke arahnya. Dia penasaran Nayra menerima telepon dari siapa dan waktu cukup lama.


Rainer bahkan sempat tidak konsentrasi saat para bawahannya melaporkan hasil pekerjaannya. Perhatian Rainer terbagi kepada Nayra dan laporan yang ada di depannya.


Pak Toni, orang yang sudah cukup lama bekerja dengan Rainer, tampak penasaran saat melihat Rainer menatap keluar. Dia mengernyitkan kening saat mendapati seorang perempuan yang tak lain adalah Nayra, sedang diamati oleh Rainer.


Pak Toni tidak tahu jika tadi Rainer datang bersama dengan Nayra. Dia tampak penasaran siapa perempuan tersebut. Pak Toni, yang usianya hampir sama dengan papa Rainer, memberanikan diri untuk bertanya.


"Siapa perempuan itu, Pak Rain? Apa Anda mengenalnya?" tanya Pak Toni sambil mengarahkan pandangan ke arah Nayra. Sontak saja hal itu membuat beberapa orang yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh ke arah Nayra.


Belum sempat Rainer bertanya, Dewa sudah lebih dulu bersuara.


"Beliau adalah istri Pak Rainer, Pak Toni," jawab Dewa dengan tampang tanpa dosa.


Sontak saja jawaban Dewa membuat semua orang yang berada di sana berteriak kaget.


"Apa?!" 

__ADS_1


Mereka semua langsung menoleh ke arah Rainer. Tentu saja mereka kaget setelah mendengar jawaban Dewa. Pasalnya, semua bawahan Rainer tidak ada yang mengetahui perihal berita pernikahan Rainer. Mereka juga tidak mendapatkan undangan.


"Benarkah itu, Pak? Anda sudah menikah?" tanya salah seorang bawahan Rainer yang lain.


Rainer menatap wajah-wajah bawahannya yang tampak penasaran. Dia hanya bisa mendesahkan napas berat. Rainer merasa akan sangat merepotkan jika dia menjelaskan siapa Nayra sebenarnya dan mengapa dia mengajaknya ke Jogja. Rainer sendiri juga masih bingung mengapa dia mengajak Nayra ke Jogja.


"Hhmmm." Rainer hanya bergumam menjawab pertanyaan para bawahannya. Tampak sekali wajah Rainer enggan menjelaskan siapa Nayra sebenarnya.


Melihat ekspresi Rainer, para bawahannya pun enggan bertanya lebih lanjut. Hanya saja, mereka sempat sesekali mencuri pandang ke arah Nayra untuk melihat dengan jelas seperti apa wajah 'istri' Rainer tersebut.


Meskipun, hal seperti itu bisa menjadikan perdebatan dengan Rainer. Tentu saja Rainer suka mengomel jika mamanya itu sering mengajak Nayra keluar. Eh, Rainer sendiri lupa apa jika sering mengajak Nayra keluar, bahkan sampai ke luar kota begini? 🤧


Nayra kembali melanjutkan makan siangnya. Dia mulai menghabiskan es krim yang tampak menggoda seleranya tersebut. Entah mengapa, bagi Nayra, es krim selalu mampu menaikkan mood dan menjaga moodnya untuk tetap baik.


Hingga tak berapa lama kemudian, saat Nayra sedang asyik menikmati es krimnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki muda menghampiri Nayra.


"Selamat siang. Sendirian?" sapa laki-laki tersebut.

__ADS_1


Sontak saja Nayra terkejut dan menolehkan kepala. Dia segera mengusap bibirnya yang masih belepotan sisa-sisa es krim tersebut. 


"Eh, ehm i-itu…," Nayra tampak bingung harus menjawab apa.


Jika Nayra menjawab tidak sendiri, dia bingung harus menjawab dengan siapa. Namun, jika Nayra menjawab sendiri, juga tidak mungkin karena dia datang bersama dengan Rainer.


Tiba-tiba saja laki-laki tersebut menarik sebuah kursi yang ada di depan Nayra dan langsung duduk di hadapannya. Kedua bola mata Nayra langsung membulat karena terkejut.


"Aku lihat dari tadi kamu sendirian. Dari pada tidak ada temannya, aku temani makan siang boleh?"


Nayra tampak kebingungan harus menjawab apa. Sedangkan di dalam ruang meeting, Nayra tidak tahu ada sepasang mata yang tengah mengawasinya.


Braakkkk.


\=\=\=


Hayo lho, apa itu?

__ADS_1


__ADS_2