
Tak terasa Nayra sudah dua malam menginap di rumah kontrakannya sendiri. Selama itu pula, Rainer masih belum kembali ke Indonesia. Meskipun begitu, dia cukup sering menghubungi Nayra walau hanya menanyakan keadaan kantor.
Seperti siang ini, saat Nayra sedang berjalan kembali menuju ruangannya bersama dengan Linda. Dia baru saja selesai makan siang dengan Linda, sang sahabatnya tersebut.
Nayra yang baru saja keluar dari lift, langsung merasakan ponselnya bergetar. Dia buru-buru mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya. Setelah mengetahui siapa yang menelepon, Nayra langsung menyambungkan panggilan telepon tersebut.
"Hallo," sapa Nayra begitu panggilan telepon terhubung.
"Lama sekali. Dari mana?" tanya Rainer.
"Baru makan siang, Pak. Ini juga baru kembali ke kantor."
Terdengar decakan kesal dari seberang sana. Belum sempat Rainer menyahuti ucapan Nayra, Nayra sudah langsung melanjutkan ucapannya.
"Tadi pagi pihak Stadiun Express menghubungi, Pak. Mereka ingin mengonfirmasi kesepakatan terakhir sebelum acara tahunan perusahaan mereka. Dan, mereka ingin bertemu dalam waktu dua hari ini. Bagaimana, Pak?"
Rainer masih diam belum menjawab pertanyaan Nayra. Hingga beberapa saat kemudian, Rainer baru menjawabnya.
"Jadwalkan untuk pertemuan besok dengan mereka."
__ADS_1
"Eh, memang besok Anda sudah kembali, Pak?" tanya Nayra bingung. Pasalnya, Rainer sendiri tidak tahu kapan dia bisa kembali.
"Besok kan, weekend. Aku off."
"Ah, iya." Nayra baru menyadari hal itu. "Baiklah, Pak. Saya akan menyampaikan hal itu kepada mereka. Ehm, Anda mau bertemu dimana, Pak?"
"Roy, CEO Stadiun adalah teman kuliahku. Dia biasanya lebih suka pertemuan yang tidak terlalu formal. Atur pertemuan saat makan siang saja."
"Baik, Pak."
Setelahnya, obrolan kembali dilanjutkan dengan membahas beberapa pekerjaan yang harus Nayra sampaikan. Linda yang sejak tadi berjalan disamping Nayra, sudah tidak kaget lagi dengan aktivitas seperti itu.
Bari setelah mereka sampai di ruangan Nayra, sambungan telepon tersebut terputus. Linda mendudukkan diri di sofa yang ada di ruangan Nayra sambil memejamkan mata. Mereka masih punya waktu sekitar lima belas menit sebelum mulai bekerja kembali. Maklum, siang itu Nayra dan Linda memutuskan hanya akan makan siang di kantin kantor.
"Iya. Sepertinya, ada masalah serius dengan perusahaannya," jawab Nayra sambil mulai membuka komputernya.
Linda menggeser tubuhnya hingga kini dia sudah duduk tegak berhadapan dengan Nayra.
"Kenapa kamu nggak direkrut saja di kantor Pak Rain, Nay?" tanya Linda penasaran.
__ADS_1
"Ogah. Aku nggak ngerti dengan perusahaan seperti itu. Di luar spesifikasi ku, Lind."
Linda hanya mengangguk-anggukkan kepala. Hingga tak berapa lama kemudian, Linda beranjak pergi untuk kembali bekerja.
Hari itu, dilalui Nayra dengan cukup baik. Ada beberap laporan yang harus diselesaikannya hari itu. Dan, Nayra memilih untuk membawanya ke rumah. Beruntung laporan yang harus dikerjakannya tidak banyak.
Menjelang pukul lima sore, Nayra sudah sampai di rumah. Bajunya sedikit basah karena sempat kehujanan tadi saat dalam perjalanan.
Setelah membersihkan diri, Nayra segera berkutat di dapur untuk membuat makan malam. Entah mengapa malam itu dia ingin sekali membuat udang goreng crispy dan juga sambal goreng kentang pedas.
Tak butuh waktu lama, akhirnya makan malam buatan Nayra pun sudah selesai. Dia segera meletakkan makan malam tersebut di atas mini bar yang ada di dapur. Ya, meskipun sempit, tapi masih muat untuk menyiapkan makan malamnya tersebut.
Nayra segera bersiap membersihkan diri setelah menyiapkan makan malam tersebut. Dia sudah mandi dan berganti baju. Ketika Nayra sedang bersiap untuk makan malam, terdengar ketukan pintu dari arah depan. Nayra bergegas ke depan untuk membukanya.
Ceklek.
Kedua bola mata Nayra langsung terbuka lebar saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Eh, kok sudah pulang?"
__ADS_1
•••
Hayo, siapa itu?