Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Penjelasan Resta


__ADS_3

Begitu mendengar kabar dari Resta, Rainer langsung bergegas ke kantor. Awalnya, Nayra ingin ikut ke kantor bersama dengan Rainer. Namun, suaminya itu melarang Nayra ikut. Akhirnya, mau tidak mau Nayra langsung pulang setelah beberapa saat Rainer berangkat.


Tak butuh waktu lama, mobil yang dikemudikan Rainer sudah tiba di kantor. Dia bergegas menuju ruangannya dan sudah ditunggu oleh Resta.


"Selamat pagi, Pak Rain," sapa Resta begitu Rainer memasuki ruangannya.


"Pagi. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa hal ini bisa terjadi?" Rainer langsung memberondong Resta dengan pertanyaan.


"Sebelumnya, saya minta maaf karena harus memberikan kabar ini, Pak. Tadi setelah subuh, saya mendapatkan email dari sekretaris Pak Candra. Beliau membatalkan sepihak rencana kerjasama ini. Dalam email itu juga tidak dijelaskan alasan secara detail mengenai pembatalan kerjasama ini." Resta menjelaskan sambil memberikan tab dan menunjukkan email tersebut kepada Rainer.


Setelah membaca dengan singkat, Rainer mengerutkan kening bingung saat merasa ada sesuatu yang janggal. Dia mendongakkan kepala dan menatap Resta dengan kening berkerut.


"Pak Candra ini dari ET Industry, kan?"


"Iya, Pak."


Rainer kembali mengamati nama yang tertera di bagian bawah email tersebut.


"Siapa nama lengkap Pak Candra Hadi ini, Ta?" tanya Rainer penasaran.

__ADS_1


"Candra Hadiwijaya, Pak."


Klik. Dapat. Rainet bisa mulai mengerti sekarang. Sepertinya, pembatalan kerjasama kali ini ada sangkut pautnya dengan urusan pribadi. Dan, Rainer bisa dengan mudah mengetahui siapa penyebab utama hal itu.


"Bastian Aaron Hadiwijaya," gumam Rainer yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Resta.


Mendengar hal itu, Resta tampak mengerutkan kening karena dia sama sekali tidak mengerti maksud atasannya tersebut.


"Apa hubungan Pak Candra dengan Robi Hadiwijaya?" tanya Rainer sambil menoleh ke arah Resta yang sedang berdiri di sampingnya.


"Pak Candra adalah adik termuda Robi Hadiwijaya, Pak. Keluarga Hadiwijaya mempunyai perusahaan tiga pilar yang masing-masing dipegang oleh tiga orang pewaris mereka. Robi Hadiwijaya, Ginanjar Hadiwijaya, dan yang terakhir adalah Candra Hadiwijaya."


Kini, Rainer mulai mengerti. Tidak heran jika kerjasama yang akan dilakukannya dengan perusahaan Pak Candra berakhir bahkan sebelum dimulainya kerjasama. Hal itu bisa dipastikan karena adanya campur tangan dari putra Robi Hadiwijaya, yang tak lain dan tak bukan adalah Bastian Aaron Hadiwijaya.


Rupanya, Aaron sudah mulai mengibarkan bendera perang terhadapnya. Bukannya takut, Rainer justru semakin bersemangat. Tidak apa-apa jika dia gagal di perusahaan sang papa karena memang perusahaan yang dipegangnya saat ini hanya cabang perusahaan keluarga.


Namun, perusahaan Rainer sendiri tak kalah besar. Perusahaan properti Rainer yang sudah dibangunnya sejak masa kuliah, sudah tumbuh menjadi perusahaan yang layak untuk diperhitungkan. Bahkan, kini perusahaan tersebut sudah mulai melebarkan sayap hingga mancanegara.


"Tidak apa-apa kita gagal menjalin kerjasama dengan ET Industry. Kita pastikan untuk tidak gagal lagi di proyek yang lainnya."

__ADS_1


"Baik, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."


Rainer hanya menganggukkan kepala. Setelah itu, Resta segera pamit undur diri. Begitu Resta keluar dari ruangan kerjanya, Rainer langsung mengambil ponselnya dan mulai mencari-cari nomor telepon seseorang.


Begitu mendapatkan apa yang dicari, Rainer segera menekan tombol pemanggil tersebut.


"Hallo," terdengar sapaan dari seberang sana.


"Lix, nanti siang makan siang di tempat biasa. Ada hal yang ingin gue bahas." Ya, Felix, sahabat sekaligus asisten Rainer di perusahaan pribadinya yang sedang dihubungi.


"Gue sibuk, Rain."


"Gue nggak mau tau. Gue tunggu ditempat biasa."


Tut.


Belum sempat Felix menjawab, Rainer sudah mematikan panggilan telepon. 


•••

__ADS_1


Hhhfttt, sekali tidak memaksa emang nggak bisa ya, Rain. 🤧


__ADS_2