Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Cerita Citra 1


__ADS_3

Felix masih tertegun setelah mendengar pertanyaan Citra. Hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba sebuah nama langsung tercetus dalam kepalanya.


"Ehm, namanya, Finn. Finn Czaren Hariwijaya." Felix menjawab dengan mantap sambil menatap ke arah bayi laki-laki yang tengah bermain-main tersebut.


"Finn? Hhmm, nama yang bagus. Sebagus wajah kamu, Sayang," ucap Citra sambil memberikan sebuah kecupan pada pipi kanan bayi laki-laki tersebut.


Entah mengapa Felix memberikan nama itu. Yang jelas, nama itu langsung muncul di kepalanya.


Tak berapa lama kemudian, Citra langsung bergegas memandikan Finn. Dia sempat menggerutu kesal kepada Felix karena belum memandikan Finn sejak pagi. Ya, bagaimana mau mandi, orang ganti popok saja Felix masih kesulitan. Dia harus melihat video tutorial memasang popok pada bayi.


Hingga sekitar lima belas menit kemudian, Citra sudah selesai memandikan Finn. Dia berjalan menuju ruang tengah. Felix ternyata sudah membawa semua perlengkapan Finn yang memang belum seberapa banyak tersebut di sana.


Sambil memperhatikan tindakan yang dilakukan Citra, Felix yang duduk di samping mereka pun langsung bertanya.


"Ehm, gue belum pernah melihat lo di sini sebelumnya. Lo penghuni baru di sebelah?" tanya Felix.


Citra menolehkan kepala sekilas ke arah Felix. Bibirnya mencebik tidak suka. Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian Felix.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya.


"Bisa nggak sih Om nggak pakai lo gue? Nggak enak banget dengernya. Meskipun teman-teman kuliahku sering menggunakan kata itu, tapi mereka bisa tuh menggunakan aku kamu saat ngobrol sama aku," jawab Citra.


Mendengar jawaban tersebut, tentu saja Felix langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia tidak menyangka jika Citra sudah kuliah.


'Bagaimana mungkin dia sudah kuliah? Tubuhnya yang mungil dan hanya besar pada area susunya itu, masih pantas jika dikira anak SMA?' batin Felix.


"Ehm, ka-kamu sudah kuliah? Bukannya masih SMA?" 


Lagi-lagi Citra mencebikkan bibir.


Felix menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Ehm, i-itu, maaf. A-aku kira kamu masih SMA." Kali ini Felix masih kikuk.


"Aku sudah kuliah semester empat, Om. Kemarin baru selesai ujian semester. Ini sudah mulai libur."

__ADS_1


Felix mengangguk-anggukkan kepala mengerti.


"Sejak kapan kamu tinggal disini?" tanya Felix.


Sebelum menjawab pertanyaan Felix, Citra mendesahkan napas berat. Dia terlihat sedang menyimpan banyak beban.


"Aku nggak pindah ke sini, Om. Apartemen itu milik orang tua sahabatku, Tasya. Karena kosong, aku dipersilahkan untuk menumpang disini sampai aku mendapatkan kos-kosan yang cocok dengan keuanganku," jelas Citra. Tangannya masih sibuk memakaikan baju Finn.


Lagi-lagi kening Felix berkerut. Dia masih belum mengerti penjelasan Citra. Jika dia masih mencari kos-kosan baru? Memangnya selama ini dia tinggal dimana? Bukannya Citra bilang dia sudah kuliah semester empat? batin Felix.


"Bukannya kamu bilang sudah kuliah semester empat? Lalu, selama ini kamu tinggal dimana?" Akhirnya Felix bertanya karena penasaran.


"Sebelum ini, aku ngekos, Om. Dan, semua biaya kuliah dan kost dibiayai oleh kakakku. Namun, ada kejadian yang tak terduga telah menimpa kakak. Jadi, aku terpaksa keluar dari tempat kost tersebut karena tidak mampu membayar biayanya. Lagian, aku juga belum bekerja. Aku hanya punya sedikit tabungan untuk menyambung hidup sambil mencari pekerjaan," jelas Citra.


"Memangnya, apa yang terjadi dengan kakak kamu sampai kamu harus keluar dari tempat kost?"


Citra menoleh ke arah Felix dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Kakakku meninggal, Om."


__ADS_2