
Meskipun mendapatkan tawaran seperti itu dari Nayra, namun Rainer tidak serta merta langsung menerimanya. Sebenarnya, bohong jika dia tidak tertarik dengan tawaran itu. Namun, Rainer juga tidak mau terlalu memaksa Nayra. Dia cukup sadar jika kondisi fisik Nayra sedang tidak bisa di gempur habis-habisan. Alhasil, dia membiarkan Nayra tidur dengan tenang malam itu.
Keesokan pagi, Nayra sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan Rainer. Berhubung hari ini adalah hari libur nasional, mereka tidak berangkat ke kantor.
Nayra membuatkan sup ayam pesanan Rainer semalam. Entah mengapa tengah malam Rainer tiba-tiba terbangun dan ingin makan sup ayam. Karena tidak tega membangunkan Nayra untuk membuatkan sup ayam, akhirnya Rainer akhirnya meminta Nayra membuatkan sup ayam pagi itu untuk sarapan.
Rainer yang sudah bangun dan juga mandi, langsung bergegas menuju dapur. Dia menghampiri Nayra yang sudah berkutat di sana. Tanpa aba-aba, Rainer langsung memeluk Nayra dari belakang. Jangan lupakan kecupan-kecupan kecil langsung mendarat pada ceruk lehernya.
"Eh, Mas. Awas, ih. Aku lagi motongin wortel, nih. Bahaya nanti." Nayra bergerak-gerak untuk melepaskan belitan tangan Rainer pada perutnya.
"Lapar, Nay." Entah mengapa suara Rainer terdengar semakin manja di telinga Nayra.
"Iya, sebentar lagi siap. Makanya jangan gangguin biar cepet selesainya."
Tak mau menurut, kini tangan Rainer justru semakin naik ke puncak gunung kembar Nayra. Tak hanya itu, Rainer mendadak menjadi juru pijat dadakan yang terlihat cukup ahli dalam melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
Meg meg uyel uyel. Meg meg uyel uyel.
Sontak saja tingkah Rainer tersebut langsung membuat tubuh Nayra meremang tak karuan. Jika menuruti keinginannya, Nayra akan langsung menarik tangan Rainer untuk pijat-pijatan di dalam kamar.
Namun, tentu saja Nayra mengurungkan niatnya tersebut. Dia harus menyelesaikan masakannya pagi itu sebelum sang suami merengek karena lapar.
"Ih, nanti dulu kenapa sih, Mas. Masih masak, nih. Nanti nggak selesai-selesai." Nayra mencubit punggung tangan Rainer yang sudah nangkring dengan semangat di depan dadanya itu.
Meskipun kesal, Rainer menuruti ucapan sang istri. Dia kembali ke ruang tengah dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Resta sementara menunggu sang istri menyelesaikan masakannya.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Nayra sudah menyelesaikan masakan pesanan Rainer. Apalagi jika bukan sup ayam dengan campuran wortel yang lebih banyak dari biasanya. Nayra sebenarnya cukup heran mengapa suaminya itu mendadak suka wortel. Padahal, sebelumnya Rainer tidak terlalu menyukai jenis sayuran itu.
Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat saat mengetahui sang suami sudah sibuk dengan pekerjaannya meskipun hari libur seperti itu.
"Iya. Sebentar lagi. Ini periksa email dari Resta," jawab Rainer tanpa mengalihkan tatapan matanya dari layar laptop.
__ADS_1
Nayra yang merasa sudah cukup kesal, langsung berpindah ke depan sang suami. Jangan lupakan tatapan mata tajam yang langsung tertuju pada Rainer.
"Mau makan sekarang atau aku aduin mama jika kamu nggak mau makan, Mas?" ancam Nayra.
Rain menoleh sekilas ke arah Nayra dan mendengus kesal. Dia meletakkan laptopnya di atas meja yang ada di depannya. Sebenarnya, Rainer tidak takut dengan ancaman Nayra. Hanya saja, dia enggan mendengar omelan dari dua wanita yang sangat disayanginya itu.
"Cckkk. Iya, iya. Kamu sekarang kok jadi bawel banget, sih." Rainer mengekori Nayra hingga ke meja makan.
"Bukan bawel, Mas. Aku hanya ngomong apa adanya. Lagian, aneh banget tadi kamu nyuruh aku cepet-cepet masak karena lapar. Eh, giliran sudah siap kamu ogah-ogaha." Nayra masih menggerutu sambil menyiapkan makanan untuk Rainer.
"Itu kan tadi. Sekarang, aku ganti maunya sarapan yang lainnya saja."
Sontak saja Nayra langsung menoleh ke arah Rainer dengan ekspresi kesal.
"Kamu nggak mau makanan ini, Mas?"
__ADS_1
"Bukan. Itu untuk nanti saja. Sekarang, maunya sarapan ini saja," jawab Rainer yang langsung menyentuh bagian bawah tubuh Nayra dan merem as nya dengan gemas.
"Aahhh, Mas!"