Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Balkon


__ADS_3

Niat hati ingin makan yang lainnya, Rainer harus berpuas hati saat tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat nama Felix muncul di layar ponselnya. Mau tidak mau, Rainer terpaksa mengurungkan niatnya terhadap Nayra dan segera mengangkat panggilan dari Felix.


Hanya butuh waktu sebentar, mood Rainer sudah langsung berganti. Setelah menerima panggilan dari Felix, dia dengan semangat langsung menyantap sarapan masakan Nayra. Rainer seolah melupakan apa yang hendak dilakukannya tadi terhadap sang istri.


Begitu juga setelah selesai sarapan, Rainer langsung melakukan panggilan video dengan beberapa orang terkait dengan proyek yang sedang dipegang oleh Felix. Nayra yang memang tidak begitu mengerti tentang perusahaan Rainer, hanya bisa mengamati sang suami dari jauh.


Hingga menjelang makan siang, Rainer baru selesai dengan urusan pekerjaannya. Dia beranjak untuk meregangkan tubuhnya yang sudah terasa pegal. Ya, meskipun ada beberapa bagian yang masih terasa nyeri.


Rainer menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan Nayra. Namun, dia tidak menemukan dimana sang istri berada. Namun, saat Rainer berjalan ke arah ruang makan, terlihat jika Nayra sedang tertidur di sofa yang ada di balkon. Rainer berjalan menuju balkon untuk menghampiri sang istri yang sepertinya tengah tertidur dengan lelap.


Rainer masih berdiri di depan pintu balkon sambil menatap Nayra yang tertidur dengan posisi bersedekap dengan kepala berbantal selimut yang sengaja di bawanya dari kamar. Namun, entah mengapa selimut itu justru digunakannya sebagai bantal.


Sambil masih mengamati sang istri yang tengah terlelap, Rainer berjalan mengikis jarak dengan sofa tempat Nayra terlelap. Tatapan matanya tak berpaling dari wajah nyaman dan tenang istrinya itu. Hingga Rainer sudah duduk di tepi sofa tepat di samping perut Nayra.

__ADS_1


Tangan Rainer terulur untuk menyingkap rambut yang menutupi pipi sebelah kanan Nayra. Dan, hal itu membuat Nayra sedikit terusik. Rainer mengusap-usap pipi Nayra agar sang istri kembali terlelap. Namun rupanya, tindakan Rainer tersebut justru membuat Nayra terbangun.


Nayra mengerjapkan kedua matanya dan bisa merasakan ada sebuah sentuhan di pipinya. Hingga kedua matanya berhasil terbuka dan mendapati sang suami tengah duduk di depannya.


"Mas?" gumam Nayra sambil masih berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Aku mengganggu tidurmu?" tanya Rainer sambil masih mengusap-usap pipi Nayra.


Namun, niat Nayra untuk beranjak tertahan saat Rainer justru mendorong bahu Nayra agar kembali merebahkan diri di tempat semula. Tentu saja tindakan Rainer tersebut membuat Nayra kaget. Belum sempat Nayra protes, Rainer sudah beringsut ke samping Nayra.


Alhasil, sofa sempit yang ada di balkon itu membuat sepasang suami istri absurd tersebut berhimpit-himpitan.


"Mas, sempit ih. Ngapain ikut tiduran disini?" Nayra langsung protes.

__ADS_1


Sebenarnya, bukan hanya karena tempatnya yang sempit, tapi Nayra khawatir jika luka Rainer tertekan dan akan membuatnya kesakitan. Namun, bukan Rainer jika membuat semuanya mudah.


"Biarin. Enak sempit-sempit begini," jawab Rainer sambil mulai melancarkan aksinya. 


Ternyata, apa yang dilakukan oleh Rainer tersebut hanya modus belaka. Hal itu dapat dilihat dari tangan Rainer yang langsung bisa menemukan pegangan yang sangat kokoh hingga membuatnya enggan bergerak.


"Kamu sih enak sempit-sempit, Mas. Lha ini aku yang engap. Sudah sempit, malah ditambah ini kedua tangan nangkring di sini. Ngapain sih, ini?" protes Nayra.


"Aku kan pegangan, Nay. Biar nggak jatuh," jawab Rainer tanpa dosa.


"Pegangan sih pegangan, Mas. Tapi ini sih bukan pegangan namanya. Uyel uyel terus, ih."


Sambil nunggu up, bisa mampir ke cerita othor yang baru ya. 

__ADS_1


__ADS_2