Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Permintaan Atau Paksaan?


__ADS_3

Felix masih tak berhenti menggoda sahabatnya tersebut. Entah mengapa dia merasa bahagia saat melihat sahabatnya tersebut kesal. 


Felix masih mengawasi tingkah Rainer yang terlihat kesal dengan tatapan mata tak lepas ke arah Nayra dan Aaron. Rainer bisa melihat Nayra tengah bercengkrama dengan Aaron. Mereka terlihat cukup dekat. 


Karena tidak bisa menahan diri lagi, akhirnya Rainer memutuskan untuk menghampiri Nayra. Dia mengabaikan Felix yang sejak tadi mengajak ngobrol tentang perusahaannya sendiri.


"Cckkk. Dasar aneh. Gitu itu, tuh jika laki-laki yang nggak gercep. Ngakunya nggak tertarik, tapi saat melihat Nayra ngobrol sama laki-laki lain kebakaran jenggot," ucap Felix kesal saat perkataannya tidak ditanggapi oleh Rainer.


Rainer menatap nanar ke arah Nayra dan Aaron. Dia seolah mengabaikan orang-orang yang berada disekitarnya. Fokus Rainer hanya ke arah Nayra dan Aaron.


"Ehheemm." Felix langsung berdehem ketika sudah berada di samping Nayra.


Sontak saja Nayra dan Aaron langsung menoleh. Nayra bahkan langsung menggeser tubuhnya menghadap ke arah Rainer saking terkejutnya.


"Eh, sudah selesai?" tanya Nayra.


Belum sempat Rainer menjawab pertanyaan Nayra, tiba-tiba Aaron berdiri untuk berpamitan.


"Aku permisi dulu, Nay. Kalau ada seri terbaru, akan aku hubungi." Aaron tampak tersenyum hangat sambil mengangguk ke arah Nayra dan Rainer bergantian sebelum beranjak pergi.


"Terima kasih." Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra. Dia masih menatap kepergian Aaron sampai laki-laki itu bergabung dengan yang lainnya.


Rainer bahkan harus berdehem untuk menyadarkan Nayra dari tindakan konyolnya.


"Ada apa sih, Pak?" tanya Nayra sambil menoleh ke arah Rainer.


"Cckkk. Masih tanya ada apa? Baru ditinggal sebentar sudah cari mangsa," Rainer menggerutu kesal sambil menarik kursi di sebelah Nayra.


Kedua bola mata Nayra langsung berputar jengah mendengar ucapan Rainer.

__ADS_1


"Cari mangsa? Dikira saya kaniball apa?!" 


Tidak menanggapi ucapan Nayra, Rainer sibuk memainkan ponselnya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Nayra karena tidak ada lagi yang bisa dilakukannya setelah itu.


Hingga beberapa saat kemudian, acara pun dimulai. Rangkaian acara mereka ikuti hingga akhir. Rainer dan Nayra juga sempat mengucapkan selamat kepada tuan rumah.


Hingga menjelang pukul sepuluh malam, rangkaian acara pun sudah selesai. Rainer dan Nayra pun segera bersiap untuk pulang.


"Malam ini, pulang ke tempatku saja," ucap Rainer di tengah-tengah aktivitasnya mengemudi.


Nayra yang saat itu tengah menyandarkan kepala, langsung menoleh ke arah Rainer.


"Eh, ngapain harus menginap di tempat Anda, Pak?"


"Besok ikut ke Jogja."


Merasa kesal dengan jawaban Nayra, Rainer langsung menoleh ke arah sekretarisnya tersebut.


"Tadi siang, kamu bilang besok tidak banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, kan? Besok aku mau meninjau perusahaanku disana," jawab Rainer.


Nayra mendengus kesal setelah mendengar jawaban Rainer.


"Cckkk. Memang benar besok Bapak tidak punya pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tapi, pekerjaan saya yang banyak, Pak. Lagi pula, perusahaan Bapak tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Minta saja Pak Felix yang bertugas sebagai asisten Anda di perusahaan untuk menemani." Nayra langsung protes. 


Tentu saja dia tidak terima Rainer seenaknya mengajak ke luar kota. Pekerjaan Nayra banyak. Jika dia harus ikut Rainer, bisa-bisa Nayra akan kerepotan sendiri nanti setelahnya. Dan, Nayra tidak mau jika terjadi hal seperti itu. Weekend lusa, Nayra ingin bersantai dan terbebas dari pekerjaan kantor, apalagi Rainer.


Rainer menoleh ke arah Nayra dengan tatapan kesal. Nayra sudah sangat hafal dengan tatapan seperti itu yang tidak bisa dibantah.


"Aku tidak mau tahu. Besok ikut aku ke Jogja untuk survey perusahaan. Untuk pekerjaanmu, bilang Linda untuk menghandlenya sementara."

__ADS_1


"Cckkk. Mana bisa begitu, Pak. Kita punya tanggung jawab sendiri-sendiri. Lagian kan…," belum sempat Nayra menyelesaikan ucapannya, Rainer sudah lebih dulu memotong.


"Aku nggak mau menerima penolakan, Nay!" ucap Rainer dengan tegas.


Mendengar hal itu, Nayra hanya bisa mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya. Bisa dipastikan, Nayra tidak akan bisa menang melawan Rainer.


Ccckkk, sebenarnya ini permintaan atau paksaan? batin Nayra


Tak butuh waktu lama, mobil yang dikemudikan Rainer sudah memasuki basement. Setelah mobil terparkir, Rainer dan Nayra langsung keluar. Seperti biasa, Nayra langsung mengekori Rainer menuju unit penthousenya.


Tidak ada obrolan yang terjadi antara Rainer dan Nayra. Keduanya masih asyik dengan pikirannya masing-masing. Namun, saat lift mereka sampai di lantai delapan, ada seorang petugas keamanan yang hendak masuk. Dia adalah Pak Ismet.


"Eh, selamat malam Pak Rain, Mbak Nayra," sapa Pak Ismet sambil menganggukkan kepala.


"Hhhmm." Rainer menjawab dengan gumaman.


"Selamat malam, Pak. Jadwal jaga?" tanya Nayra.


"Eh, iya, Mbak. Baru ganti shift ini."


Nayra hanya menganggukkan kepala. Setelah itu, kebetulan pintu lift sudah terbuka. Rainer, Nayra dan Pak Ismet langsung keluar dari lift.


"Saya permisi dulu, Mbak Nay, Pak Rain." Pak Ismet berpamitan dan langsung bergegas menuju tempat jaga.


Nayra hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab ucapan Pak Ismet. Setelah itu, dia kembali mengekori Rainer.


\=\=\=


Masih butuh dukungan nih. Kuyy lah, lanjut.

__ADS_1


__ADS_2