
Keheningan terjadi setelah Felix mengungkapkan perasaannya. Namun, jangan ditanya bagaimana jantung keduanya yang sudah bergemuruh dengan hebatnya. Kedua pasang netra mereka saling mengunci. Sepertinya, tatapan keduanya sedang meneliti kebenaran yang baru saja diucapkan. Hingga sebuah suara mengganggu konsentrasi keduanya.
Cep cep cep. Nyem nyem nyem. Cep cep cep.
Suara decapann bibir Finn yang tengah mengenyot sumber makanannya terdengar sangat jelas di telinga Felix dan juga Citra. Sontak saja keduanya langsung tersadar. Felix buru-buru mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang. Entah mengapa kali ini dia merasa malu sekaligus gerah hanya karena mendengar decapan yang berasal dari mulut Finn.
"Ehm, aku keluar dulu," ucap Felix mencoba untuk mengurai kecanggungan. Dia berusaha melepaskan genggaman tangan Finn pelan-pelan agar bisa beranjak dari tempat tidur.
Namun, belum sempat Felix berjalan menuju pintu tiba-tiba Finn melepaskan kenyotan bibirnya. Dia langsung berbalik dan tiba-tiba menangis dengan kencang. Tentu saja hal itu membuat Felix kaget. Mau tidak mau, Felix langsung berbalik dan mencoba menenangkan Finn kembali.
Saat itu, Citra sudah beringsut duduk sambil membenahi kancing bajunya. Sepertinya, Finn kali ini tidak akan mau tidur siang.
"Coba sini aku gendong, Om." Citra mengulurkan kedua tangannya untuk meminta Finn dari gendongan Felix.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi keinginan Citra tersebut gagal. Finn masih menangis kejer dan tidak mau lepas dari tangan Felix. Tentu saja hal itu membuat Felix cukup frustasi.
"Aku bawa ke balkon saja. Siapa tahu dia bisa tidur jika terkena udara luar," ucap Felix sambil berjalan menuju pintu.
Mau tidak mau, Citra hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelah kepergian Felix, Citra masih termenung di atas tempat tidur. Dia memutar kembali obrolan yang baru saja dilakukan dengan Felix. Entah mengapa jantungnya masih terasa berdegup dengan kencang.
Hingga beberapa saat kemudian, Citra tersadar dari lamunannya. Dia segera membereskan tempat tidur Felix tersebut dan beranjak menuju dapur untuk membuat makan siang.
Sesekali Citra bisa mendengar suara Felix yang mengajak ngobrol Finn. Felix cukup jago dalam hal itu. Felix tipe orang yang tidak bisa tinggal diam, apalagi saat bersama dengan putranya itu. Selalu saja ada hal yang dijadikan obrolan. Entah itu gaya rambut Finn yang baru saja tumbuh setelah dicukur, pakaian yang dipakai Finn, hingga tawa ceria putranya itu.
***
Sementara itu, di sebuah kamar terlihat banyak sekali koper dan tas yang berjejer. Beberapa pakaian dan barang-barang penting lainnya, segera saja berpindah dari dalam lemari menjadi masuk ke dalam koper dan tas-tas tersebut.
__ADS_1
"Awas jika kamu ikut-ikutan kerja. Biar semua dikerjakan oleh bibi," ucap Rainer sambil mendelik ke arah Nayra.
Ya, saat ini Nayra dan Rainer memang sedang membereskan barang-barang yang akan mereka bawa untuk pindahan. Pindah? Benar sekali. Rainer dan Nayra memutuskan untuk pindah ke rumah yang sudah Rainer siapkan untuk mereka.
Rumah minimalis dengan taman dan kolam renang yang tidak terlalu luas tersebut, memang sengaja Rainer siapkan sejak memutuskan untuk menikahi Nayra. Namun, Rainer baru mengatakannya setelah mengetahui berita kehamilan Nayra.
Sebenarnya, ada dua rumah yang sudah disiapkan oleh Rainer untuk keluarganya nanti. Satu rumah dengan dua lantai, dan satu rumah lagi hanya satu lantai dan lebih sempit. Berhubung Nayra masih berada di masa-masa awal kehamilan, Rainer memutuskan untuk tinggal di rumah yang satu lantai. Rainer tidak ingin istrinya itu harus kerepotan dengan naik turun tangga.
"Iya. Ini juga cuma duduk doang, Mas. Nggak usah lebay gitu, deh. Aku ini hamil, nggak sakit, Mas." Nayra sudah cukup bosan dengan peringatan Rainer yang sering melarangnya melakukan ini itu.
"Aku cuma nggak mau kamu kecapekan nanti." Rainer masih berusaha membela diri.
"Cckkk. Kalau masalah beginian dilarang capek, kalau di atas ranjang kamu nggak bosen-bosen buat aku capek, Mas."
__ADS_1
Uhuk uhuk.