Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Rasanya...


__ADS_3

Rainer menghentikan aktivitasnya. Dia mendongak dan menatap wajah sang istri dengan ekspresi tidak mengerti.


"Apa maksudnya?" entah mengapa Rainer masih saja menanggapi ucapan Nayra tersebut.


Nayra yang saat itu sudah terbakar tapi bukan oleh api, hanya bisa bergerak-gerak gelisah sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Dia bahkan otomatis menggerak-gerakkan tubuhnya dengan mengangkat pinggulnya untuk menjemput jarum suntik yang sudah siap tersebut.


"Ehhmmm, Ma-masss. Kok diam. A-ayo gerakin, sudah gatal nih." Nayra sudah meracau tidak karuan. Bahkan, kali ini tangannya langsung bergerak ke bawah dan meraih jarum suntik tumpul tersebut.


Tentu saja hal itu membuat Rainer kaget. Dia yang awalnya fokus pada wajah Nayra, tidak menyadari jika tangan istrinya tersebut sudah bergerilnya. Belum sempat hilang rasa keterkejutan Rainer, tiba-tiba Nayra sedikit menarik jarum suntik tumpul tersebut, untuk segera menjalankan tugasnya.


"Eh, i-ini kamu sudah siap?" Dengan segera Rainer mencengkram tangan nakal Nayra. Dia benar-benar harus memastikan keinginan Nayra.


"Iya, Maaassss. A-aku tidak mau menunggu lagi. Let's do it," jawab Nayra sambil menatap Rainer dengan tatapan sayu.


Rainer yang melihat tatapan mata sayu Nayra, menjadi ikut terpengaruh. Bukan hanya Nayra saja yang merasakan desakan seperti itu. Rainer pun juga merasakan hal yang sama.


"Baiklah. Jika memang kamu sudah yakin dengan semua ini, aku akan memulainya. Gigit aku jika aku menyakitimu," ucap Rainer sambil melepaskan tangan Nayra pada 'jarum suntiknya'. Kali ini, Rainer benar-benar sudah tidak mampu lagi menahan desakan yang hendak keluar dari dalam tubuhnya. 


"I-iyah." Nayra menggigit bibir bawahnya dengan tatapan memohon kepada Rainer.


Tidak langsung memulai, kini Rainer masih menggerak-gerakkan 'jarum suntiknya' untuk mencari sebuah tombol on/off di bawah sana. Rainer benar-benar ingin mendengar suara Nayra. Dari sana, Rainer bisa mengetahui seberapa berhasil dia memberikan kepuasan untuk sang istri.

__ADS_1


"Aahhhh, Maasssss. Eehhmmmm." Nayra sudah menggelinjang-gelinjang gelisah. Dia benar-benar sudah tidak sabar dengan tingkah Rainer.


"Ga-gatal, Mas. Cepetin aahhhhh." Nayra mulai bergerak-gerak gelisah.


"Tahan, aku mulai." Rainer mulai membuka jalan gua yang sempit dan tidak ada cahaya tersebut.


Merasakan sesuatu mulai mendesak di bawah sana, Nayra menggigit bibir bawahnya dan memejamkan kedua matanya dengan erat.


"Aaahhh, Maaaasss. Se-sesak. Auuhhhh, penuh."


"Tahan sebentar." Rainer masih terus berusaha.


Melihat hal itu, Rainer menghentikan gerakannya. Dia tetap membiarkan jarum suntiknya berdiam di dalam sana meski masih belum sepenuhnya.


"Auuhhh, sesak, Mas. Sempit. Ge-gerakin lagiihhh." Nayra bergerak-gerak gelisah setelah beberapa saat Rainer masih diam tidak bergerak.


"Yakin?" Rainer memastikan.


"Hhmmm, ngganjel ini, Maasss. Ge-gerakin," ucap Nayra dengan suara sedikit merengek.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, Rainer memulai kembali aksinya. Dia menggerakkan pinggulnya sedikit demi sedikit. Dalam, semakin dalam. Tak ayal, hal itu membuat Nayra meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aauuhhh, Maaassss. Pe-periihhh. Sakit, auuhhh." Nayra menahan gerakan Rainer dengan mencengkram lengannya dengan kuat. Kedua mata Nayra terpejam erat dengan bibir tergigit untuk menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.


"Ini mau dilanjut apa berhenti?" Rainer menghentikan gerakannya dan menatap wajah sang istri. Keringat sudah membasahi kening dan leher Nayra.


"Kamu mau berhenti, Mas?" Bukannya menjawab, Nayra justru balik bertanya.


"Tentu saja tidak. Ini sudah membentur dinding. Tinggal dobrak ini," jawab Rainer sambil mengeratkan rahangnya. Dia benar-benar harus menahan apapun yang dirasakannya di bagian bawah tubuhnya tersebut.


"Ba-baiklah. Lakukan yang cepat biar tidak sakit," ucap Nayra pada akhirnya. Dia melonggarkan cengkraman kedua tangannya pada lengan Rainer.


Mendapati izin dari sang istri, Rainer kembali bersiap-siap.


"Baiklah. Tahan dulu, aku mulai," ucap Rainer sambil menarik keluar jarum suntik jumbo tersebut. Namun, dia tidak menarik semuanya sampai keluar. 


Begitu dirasa Nayra sudah siap, Rainer langsung meluncurkan suntikannya dalam-dalam.


"Aaaaauugghhhh, Maasss! Ra-rasanya…,"


Hhhmmm rasanya apa ya?


Mohon maaf lama up. Sudah mulai aktif kerjaan, jadi waktu up menyesuaikan jadwal break. 🙏

__ADS_1


__ADS_2