
Wajah Citra langsung merah karena malu dengan ucapan Felix. Si ibu yang mendengar pun langsung terkekeh mendengar ucapan Felix. Hingga beberapa saat kemudian, si ibu langsung berpamitan karena sudah mendapatkan barang yang diperlukan.
Sepeninggal ibu tadi, Citra langsung menoleh ke arah Felix dengan tatapan tajamnya. Dia cukup kesal dengan ucapan Felix yang membuatnya malu tersebut.
"Apa-apaan itu tadi, Om? Maksudnya apa coba turun tangan dan mulut? Emang Om kira aku perempuan apaan?" Citra tampak kesal.
Felix yang melihat kekesalan Citra pun hanya menanggapi sambil lalu. Dia tidak mau terlalu menanggapi ocehan Citra tersebut karena bisa panjang urusannya.
"Nggak usah marah-marah begitu, Sayang. Nanti mampet asinya Finn. Emang kamu mau jika aku harus turun tangan dan mulut?" Felix menjawab dengan santai sambil berjalan mendorong trolley Finn.
Citra hendak menyahuti ucapan Felix namun diurungkan karena ada pasangan suami istri yang baru saja berbelok ke arah mereka. Mau tidak mau, Citra terpaksa mengikuti langkah kaki Felix yang sedang mengajak Finn mengobrol.
Hingga tak berapa lama kemudian, barang-barang yang dibutuhkan oleh Finn sudah di dapatkan semua. Felix dan Citra segera membawa barang-barang tersebut ke kasir. Setelah itu, mereka melanjutkan belanja barang-barang kebutuhan rumah tangga.
__ADS_1
Menjelang makan siang, Felix mengajak Citra dan Finn untuk makan siang di sebuah restoran. Awalnya, Citra menolak ajakan Felix tersebut karena sudah jadwalnya Finn tidur siang. Namun, karena Felix tetap memaksa, mau tidak mau Citra akhirnya mengikuti ajakan Felix tersebut.
"Kenapa nggak makan siang di rumah saja sih, Om? Ini sudah jadwal tidur siangnya Finn. Nanti dia merengek kalau ngantuk." Citra masih memprotes Felix saat laki-laki tersebut mencari tempat parkir untuk mobilnya.
"Nggak bakal nangis. Jika nangis, ada pawangnya tuh. Kamu kan bawa pawang Finn kemana-mana," jawab Felix sambil melirik ke arah dada Citra terang-terangan.
Melihat tindakan terang-terangan Felix tersebut, Citra langsung memprotes.
"Kalau bintitan setelah lihat yang seger-seger sih aku ikhlas," jawab felix sambil mengerling menggoda.
Citra hanya bisa menggerutu kesal saat Felix selalu punya jawaban atas ucapannya. Setelah itu, mereka langsung keluar dari mobil setelah Felix berhasil memarkirkan kendaraannya.
Felix menggendong Finn memasuki restoran dengan Citra mengekor di belakangnya. Saat itu, restoran cukup ramai karena sudah memasuki jam makan siang. Namun, beruntung masih ada meja kosong untuk mereka.
__ADS_1
Felix langsung mendudukkan Finn pada kursi bayi yang disediakan di sana. Setelahnya, Felix segera memesan makan siang untuk mereka. Sambil menunggu makanan datang, Citra meminta ijin untuk ke kamar mandi.
Felix masih mengamati Finn yang tampak sangat senang memainkan krincingan yang ada di kursi bayinya tersebut. Sesekali, Felix memberikan ciuman pada pipi gembul putranya itu, dan membuat Finn tertawa-tawa karena geli. Rasa-rasanya, Felix tidak ingin Finn cepat besar jika tingkahnya selalu menggemaskan seperti itu.
Citra buru-buru ke kamar mandi karena sudah sangat kebelet hendak buang air kecil. Saking buru-burunya, Citra sampai tidak menyadari jika ada yang memperhatikan sejak dirinya berjalan memasuki restoran tadi.
Tak butuh waktu lama, Citra menuntaskan hajatnya. Citra segera mencuci tangannya di wastafel dan membenahi kunciran rambutnya yang sempat berantakan karena terkena jambakan Finn. Citra bahkan tidak menyadari jika ada seseorang yang baru saja keluar dari bilik toilet di belakangnya. Hingga suara dari orang tersebut berhasil mengagetkan Citra.
"Gue nggak nyangka lo cuti kuliah karena jadi simpanan orang. Bahkan, lo sampai rela melahirkan anak dari laki-laki itu. Dibayar berapa lo sama sugar daddy itu?" tanya sebuah suara dari samping Citra.
Citra cukup kaget mendengar ucapan tersebut. Kebetulan, ada seorang perempuan juga yang baru saja keluar dari bilik kamar mandi, dan bisa dipastikan dia ikut mendengar ucapan barusan. Hal itu terlihat dari ekspresi wajah perempuan tadi yang terlihat langsung mencibir ke arah Citra.
Citra menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab ucapan yang cukup menohok tentangnya tersebut.
__ADS_1