
Ketika Rainer dan Nayra sedang larut dalam aktivitas adu mulut, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.
"Ka-kalian?"
Mendengar sebuah suara, sontak saja Rainer dan Nayra merasa seperti disiram air es mulai dari ubun-ubun.
Byuurrr.
Rasa dingin langsung terasa di sekujur tubuh Rainer dan Nayra. Refleks, mereka melepaskan adu mulut dan langsung menjauhkan tubuh mereka masing-masing.
Nayra dan Rainer langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan, betapa terkejutnya mereka saat melihat papa Rainer berdiri di depan sebuah pintu kamar hotel. Rupanya, papa Rainer baru saja keluar dari kamar yang memang ditempatinya tersebut. Bahkan, tangannya pun masih memegang pintu dan menahannya agar tidak tertutup.
Belum selesai keterkejutan Rainer dan Nayra, sebuah suara kembali terdengar.
"Ada apa, Pa?"
Tiba-tiba mama Rainer juga ikut keluar dari kamar. Rupanya, mereka baru saja berganti baju. Papa Rainer tidak menjawab pertanyaan sang istri. Hanya saja, tatapan matanya masih menatap ke arah Rainer dan Nayra.
Hal itu membuat perhatian mama Rainer teralihkan. Beliau menoleh dan cukup terkejut saat melihat Rainer dan Nayra yang tampak berantakan. Meski keduanya sudah melepaskan pagutan bibir, namun posisi mereka masih cukup dekat alias mepet.
__ADS_1
Entah sadar atau tidak, tangan kanan Rainer bahkan masih nangkring di pinggang Nayra. Dan, tentu saja hal itu langsung menarik perhatian mama Rainer.
"Apa yang kalian lakukan?" Mama Rainer langsung bertanya.
"Ehm, ka-kami…," Rainer tamoak bingung, namun masih menempelkan tubuh Nayra dengan erat pada tubuhnya.
Nayra pun tidak menyadari posisi tubuhnya yang masih menempel pada tubuh Rainer. Dia masih merasa oleng karena aktivitas yang baru saja terjadi.
Mama Rainer masih memperhatikan tingkah Rainer dan Nayra. Rupanya, mama Rainer cukup bisa mengetahui apa yang baru saja terjadi.
"Apa yang baru saja kamu lakukan terhadap Nayra sampai dia berantakan seperti ini, Rain? Kamu civvokins Nayra seganas apa hingga bibirnya membengkak seperti itu?" Mama Rainer langsung to the point bertanya kepada Rainer.
Tentu saja hal itu membuat Nayra dan Rainer kaget dan salah tingkah. Apalagi Nayra. Dia bahkan tidak sadar langsung menempel pada lengan Rainer saking gugupnya. Nayra benar-benar takut jika kedua orang tua Rainer akan menyalahkannya. Padahal, mereka sudah sangat baik terhadap Nayra.
"Kalian berdua, masuk kamar kami sekarang. Mama ingin bicara."
"Ta-tapi, Ma…,"
"Tidak ada tapi-tapian. Mama ingin menegaskan sesuatu kepada kalian berdua." Mama Rainer menatap wajah keduanya dengan tatapan tegas.
__ADS_1
Nayra sempat melirik wajah papa Rainer. Dia merasa malu sekaligus takut. Nayra takut mengecewakan beliau yang sudah sangat baik terhadapnya.
"Ma…," Rainer hendak meminta sang mama agar mengurungkan niatnya. Namun, ucapan Rainer terhenti saat tatapan mata tajam sang mama bertemu dengan matanya.
"Mama dan papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi seorang pecundang, Rain. Jika berani berbuat, maka kamu harus berani bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab apa, Ma? Aku dan Nayra bahkan tidak melakukan hal-hal aneh. Kami bahkan hanya berciuman tadi," ucap Rainer tanpa sadar.
Ketiga orang yang berada di sana langsung melongo mendengar ucapan Rainer. Sedangkan si pelaku, masih belum sadar dengan apa yang diucapkannya.
Hingga beberapa saat kemudian, mama Rainer kembali bersuara.
"Apapun yang kamu lakukan terhadap Nayra, kamu harus bertanggung jawab. Siapa tahu kamu juga sudah memperawani bibir Nayra."
"Eh?"
\=\=\=
Mau dukung siapa nih?
__ADS_1
Rainer atau ibu negara? 🤭
Sudah ada jatah vote, sisakan satu vote buat babang hujan ya. Terima kasih