
Nayra bergerak-gerak semakin gelisah. Kedua kakinya bahkan sudah terasa lemas saat sang suami menggeser kesana kemari berganti posisi. Hingga beberapa saat kemudian, Nayra merasakan sesuatu benda kenyal mendarat di antara pangkal pahanya.
Sontak saja hal itu membuat tubuh Nayra menggelinjang tidak karuan. Apalagi, saat benda kenyal tersebut menyusup semakin dalam hingga membuatnya kelojotan.
"Aaahhh, Massss. Kok nusuknya pakai liddaahhh, aahhhhh." Nayra bergerak-gerak semakin gelisah. Pinggulnya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan seolah mencari posisi yang pas yang diinginkannya. Posisi yang bagaimana, Nay? 🙄
Rainer yang bekerja semakin gencar di bawah sana, tidak menggubris protes yang dilayangkan oleh Nayra. Meskipun baru semalam dia melakukan hal itu, namun dia bisa langsung mengetahui apa yang diinginkan oleh Nayra sebenarnya.
Memang benar Nayra memprotes apa yang dilakukannya saat itu. Namun, tangan Nayra memegangi kepala Rainer dan menekannya seolah-olah tidak menginginkannya beranjak sedikitpun. Ini dua orang ngapain sih, 🤧
Hingga beberapa saat kemudian, lelehan lahar langsung menyeruak dari goa sempit dan gelap namun membuat Rainer ketagihan tersebut dan diiringi oleh teriakan tertahan Nayra. Napasnya memburu dengan dada membusung dan kepala mendongak ke atas. Jangan lupakan posisi kedua kaki Nayra yang satu mengarah ke arah Sabang, yang satu mengarah ke arah Merauke. 🙄
Rainer yang melihat hal itu, hanya bisa menyunggingkan senyumannya. Dia langsung beringsut menindih tubuh Nayra dan mulai menciumi leher sang istri. Tidak lupa sebuah kuuluman juga dilakukan Rainer untuk membangkitkan keinginan sang istri.
Belum sempat Nayra menjauhkan wajahnya dari wajah Rainer, dia merasakan sesuatu mulai menyeruak dan mendesak memasuki goa sempit miliknya. Besar dan keras bergerak perlahan hingga membuatnya menahan napas dan langsung membusungkan dada.
Melihat hal itu, Rainer tidak tinggal diam. Tentu saja dia memanfaatkan kesempatan yang ada di depannya saat itu.
Hap. Nyem nyem eehhmmpphh.
__ADS_1
Suara lenguhan pun langsung terdengar dari bibir Nayra saat merasakan sesuatu mentok di bawah sana. Selanjutnya, Naura bahkan tidak memiliki waktu hanya untuk menyeka peluh yang menetes dari pelipisnya. Rainer benar-benar berhasil membuat Nayra mendinginkan kepalanya.
Hingga menjelang pukul sebelas malam, aktivitas Rainer dan Nayra selesai. Keduanya berbaring dengan napas yang saling memburu.
"Mas, aku capek." Nayra menoleh ke arah Rainer dengan napas memburu.
Rainer menoleh ke arah Nayra dan mengusap peluh yang membasahi kening sang istri sambil mengulas senyuman.
"Istirahat dulu. Pulihkan tenaga. Nanti, jika sudah pulih, aku akan…," belum sempat Rainer menyelesaikan ucapannya, Nayra sudah lebih dulu mencubit pinggang sang suami.
"Mas."
"Auuhh, apaan, sih?"
"Apa sih yang kamu pikirkan? Aku tadi mau bilang jika sudah tidak capek, aku akan membantu kamu ke kamar mandi."
Mendengar hal itu, wajah Nayra langsung memerah. Entah mengapa otaknya sudah traveling ke mana-mana. Malam itu, mereka langsung beristirahat setelah membersihkan diri.
***
__ADS_1
Keesokan hari, Rainer dan Nayra benar-benar bersiap untuk pulang.
"Kamu yakin mau pulang sendiri?" tanya Rainer yang sudah siap dengan kemeja kerjanya. Dia harus pergi ke kantor setelah semalam mendapat laporan dari Resta jika hari ini akan ada pertemuan untuk menandatangani kontrak kerja sama.
"Yakin, Mas."
"Langsung pulang. Tidak usah mampir kemana-mana dulu. Jika ada apa-apa, langsung telepon."
"Iya, Mas. Kamu tenang saja. Fokus saja pada kerjasama yang akan dilakukan nanti. Semua data sudah aku periksa. Resta akan memberikan print outnya nanti," jawab Nayra sambil merapikan kemeja sang suami.
Kedua manik mata Rainer dan Nayra saling bertemu. Entah dapat dorongan dari mana, hingga tatapan wajah mereka berubah menjadi sayu.
Ketika wajah mereka sudah semakin dekat, tiba-tiba ponsel Rainer berbunyi. Sontak saja hal itu membuat si empunya langsung menggerutu kesal. Rainer segera mengambil ponsel dan mendapati nama Resta terpampang di layar tersebut.
"Ada apa, Ta?"
"Ehm, maaf mengganggu Anda, Pak Rain."
"Cckkk. Sudah tahu mengganggu masih saja menelepon. Ada apa?"
__ADS_1
"Ehm, begini Pak, rencana kerja sama hari ini dibatalkan."
"Hah?"