
"Semuanya normal, Rain. Tekanan darah kamu juga normal." Dokter Arif menjelaskan.
"Tapi, badanku rasanya lemas sekali, Dok. Perut juga terasa mual."
Rainer yang saat itu tengah bersandar, hanya bisa membuka matanya sekilas sambil memijit pelipisnya yang mulai terasa nyut-nyutan.
"Kamu belum makan malam, Rain?"
"Belum, Dok. Rasanya mual jika membayangkan makanan."
Dokter Arif tampak mengangguk-anggukkan kepala.
"Lalu, apa ada makanan yang sekiranya membuat kamu tertarik?" tanya dokter Arif.
"Ehm, sepertinya buah melon, jeruk, sama perasan lemon enak, Dok. Seger itu." Rainer mengucapkannya sambil menelan saliva beberapa kali. Entah mengapa rasanya dia bisa merasakan buah-buahan itu di mulutnya.
Dokter Arif mengulas senyummannya sambil menoleh ke arah Nayra yang kini sedang memijat kaki Rainer. Nayra yang dipandangi dokter Arif langsung mengernyitkan kening bingung. Pasalnya, dokter Arif tidak berkomentar dan justru hanya tersenyum ke arahnya.
"Ada apa, Dok? Apa ada hal lain yang perlu kami ketahui tentang kondisi mas Rain?" tanya Nayra.
Dokter Arif menggelengkan kepala sambil masih mengulas senyum. Beliau tidak berkomentar apa-apa saat menuliskan resep vitamin.
"Tidak apa-apa, Nay. Suami kamu ini tidak memiliki riwayat sakit yang berbahaya. Mungkin, kondisi tubuhnya saat ini hanya sedang terkena dampak dari kondisi kamu." Dokter Arif terkekeh kecil sambil menyerahkan resep kepada Nayra.
Meskipun masih bingung dengan ucapan dokter, namun Nayra tetap menerima resep tersebut. Dan, setelahnya dokter Arif berpamitan. Nayra mengantar kepergian dokter Arif hingga pintu.
__ADS_1
Sesampainya di dalam mobil, dokter Arif segera mengambil ponselnya dan mulai mencari nomor kontak seseorang. Beliau segera menempelkan ponsel tersebut pada telinga.
"Hallo, Dok. Ada kabar apa? Tumben malam-malam begini telepon," sapa sebuah suara di seberang sana.
"Maaf mengganggu waktu anda, Nyonya. Saya hanya ingin memberikan informasi tentang mbak Nayra."
"Eh, Nayra? Ada apa dengan Nayra, Dok?" Suara cemas langsung terdengar.
"Mbak Nayra tidak apa-apa, Nyonya. Tapi, sepertinya Nyonya harus membawanya periksa ke dokter kandungan."
"Eh, dokter kandungan?" lagi-lagi suara kaget langsung terdengar di seberang sana. "Maksud dokter, menantu saya kemungkinan hamil?"
"Benar, Nyonya. Kemungkinan mbak Nayra sedang hamil."
***
Keesokan pagi, sudah terdengar suara gaduh di ruang tengah penthouse Rainer. Nayra dan Rainer yang masih terlelap pun langsung merasa terganggu dengan adanya suara gaduh tersebut.
"Suara apa itu, Mas?" tanya Nayra dengan suara serak khas bangun tidur.
"Nggak tau. Tapi, sepertinya mama yang bisa masuk kesini seenaknya begini." Rainer menggeliatkan tubuh hingga miring dan langsung mendekap Nayra ke dalam pelukannya. Tak hanya sampai situ, Rainer juga mengendus-endus leher Nayra dan memberikan kecupan-kecupan kecil disana.
"Aiiisshhhh, Mas. Jauh-jauh, ih." Nayra mendorong bahu Rainer agar melepaskan tubuhnya.
Belum sempat Rainer memprotes tindakan Nayra, terdengar suara ketukan pintu kamar mereka diiringi panggilan yang menuntut.
__ADS_1
Tok tok tookkk.
"Nay, ini mama. Cepat bangun, ada yang mama mau sampaikan."
Nayra langsung melepaskan pelukan Rainer dan segera beranjak bangun dari tidurnya. Dia tidak mau membuat mama mertuanya menunggu lama.
"Lepas ih, Mas. Ada mama di luar."
Nayra buru-buru menyambar penutup baju tidurnya dan bergegas membukakan pintu. Dia meninggalkan Rainer yang masih menggerutu kesal di balik selimut.
Ceklek.
"Ma, ada apa subuh-subuh sudah kesini? Apa ada sesuatu?" tanya Nayra begitu sudah berada di depan mama Rainer.
"Sini, mama ingin memastikan sesuatu. Kamu ke kamar mandi dulu. Taruh air pipis kamu disini dan masukkan alat-alat ini," ucap mama Rainer sambil memberikan enam jenis test pack dengan model yang berbeda.
Nayra tentu saja tahu alat apa yang baru saja diberikan oleh mama mertuanya itu.
"Test pack, Ma?" tanya Nayra sambil menoleh ke arah mama Rainer.
"Iya. Kamu periksa sekarang, gih." Mama Rainer mendorong tubuh Nayra agar segera memasuki kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Mau tidak mau, Nayra hanya bisa menuruti permintaan mama Rainer. Setelah menampung sedikit air seninya, Nayra segera memasukkan alat-alat tes tersebut. Nayra masih belum bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa mama Rainer memintanya untuk melakukan tes kehamilan.
Komen yang banyak ya, biar up lagi setelah ini. 🤭
__ADS_1